“Manda, kamu tidak kerja hari ini?!” teriak Mamanya dari luar kamar, diiringi gedoran di pintunya.
“Ugh…”
Amanda meringis, mengusap matanya yang terasa berat. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan tenang karena ketakutan. Dia sempat ingin berlari keluar kamar dan menggedor pintu kamar Mamanya untuk tidur di sana. Namun, ketakutan akan dianggap berlebihan dan lagi-lagi dihujani omelan membuatnya hanya bisa meringkuk di balik selimut hingga pagi.
“Iya, Ma!” sahut Amanda pelan sambil mengumpulkan nyawa. Dia duduk lesu di tepi tempat tidur, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Amanda meraih ponsel di sampingnya. Layarnya menunjukkan pukul 07.42.
Kemarin dia izin tidak bekerja karena alasan sakit. Hari ini dia mau tidak mau harus bekerja. Selain karena besok sudah akhir pekan, sebagai pekerja remote, akhir bulan selalu menjadi masa-masa krusial untuk rekapitulasi dan penutupan laporan bulanan.
Dengan langkah lesu, Amanda melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Suasana rumah sudah sepi. Andy sudah berangkat sekolah, sementara Mamanya tampak sudah rapi, siap-siap berangkat ke koperasi tempatnya bekerja.
“Tumben kamu belum bangun? Biasanya pagi-pagi sudah bangun buat yoga,” sambut mamanya dari arah ruang tamu sambil merapikan tas bekalnya.
“Aku semalam tidak bisa tidur, Ma,” bisik Amanda parau.
Bayangan semalam kembali berputar di kepalanya. Kepulan asap tipis dari balik tembok tetangganya. Rumah yang baru ditempati oleh pria yang mengaku sebagai teman adiknya.
Pikiran itu membuatnya terjaga semalaman dalam paranoia yang menyiksa. Bagaimana kalau pria itu, Reyner, memang dalang dari semua ini?
Pesan-pesan misterius itu, paket hadiah tanpa pengirim yang dia terima kemarin, hingga pesan singkat yang masuk semalam… Semuanya terasa tersusun rapi, seperti sebuah skenario yang sengaja dirancang.
Dia juga masih khawatir dengan kondisi adiknya, Armand.
“Oh iya, tadi Andy diantar Reyner naik mobil ke sekolahnya. Katanya sekalian berangkat kerja,” ujar Mama dengan raut wajah sumringah.
“Hah?” Amanda melongo. “Andy… diantar dia?”
Mamanya berjalan menuju pintu depan, tanpa menyadari perubahan raut wajah anak sulungnya.
“Iya. Mama berangkat dulu, ya. Makanan sisa semalam di lemari es tinggal kamu hangatkan saja,” pamit Mamanya santai sebelum menutup pintu depan dan berlalu pergi.
Amanda berdiri mematung, menatap ruang depan yang kini kosong. Suara langkah Mamanya perlahan memudar dari halaman.
Pria licik itu… mau apa dia dengan adikku?
Meskipun kepalanya dipenuhi kepulan curiga, jam kerja tidak bisa dikompromi. Seharian itu, Amanda berusaha mengubur kecemasannya di depan layar laptop.
Jam berjalan seperti biasa. Sunyi. Membosankan. Untuk sejenak, Amanda hampir percaya bahwa hari itu akan berlalu seperti biasa.
Siang hari, suara deru mobil terdengar berhenti di halaman depan. Tak lama, pintu rumah terbuka.
"Kak Manda! Aku pulang!" teriak Andy dari teras.
Amanda yang bekerja di ruang depan sejak pagi menghela napas lega.
“Oh, adikku sudah pulang, sebentar aku siapkan makan,” sapa Amanda .
Dia bangkit dari lantai memindahkan laptopnya, lalu berjalan ke dapur. Sesuai pesan Mamanya pagi tadi, Amanda berniat menghangatkan makanan sisa semalam.
Namun, kehangatan yang baru saja merayapi d**a Amanda seketika menguap.
"Mas Rey, masuk dulu! Kak Manda sedang di dapur," seru Andy riang dari ruang depan.
Amanda mendengar itu. Tangannya yang memegang gagang lemari es langsung terhenti.
Dengan cepat dia membalikkan badan dan menengok ke arah ruang depan. Di sana, Andy sedang menaruh dua kantong plastik besar berlogo ayam di atas meja. Di samping adiknya, berdiri seorang pria tinggi berkemeja batik warna biru tua.
Reyner.
Pria itu menoleh. Senyum tipis yang sopan terukir di wajahnya.
"Siang, Kak Manda," sapa Reyner hangat. Suaranya berat, tenang, dan terdengar sangat ramah. "Maaf mengganggu. Tadi ketemu Andy di depan kompleks, kebetulan aku memang beli ini buat Andy."
Amanda berdiri mematung di sana. Matanya menatap Reyner dengan tatapan curiga dan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan.
"Ah, tidak perlu repot-repot," jawab Amanda dingin, suaranya terdengar datar dan berhati-hati. "Padahal masih ada banyak makanan di lemari es," ujarnya kaku, lalu terdiam.
Apa aku terdengar begitu ketus?
"Yah, Kak! Ini Mas Rey sudah beli banyak, ada ayam goreng, burger, fish fingers, dan nugget juga. Makanan semalam simpan lagi saja buat nanti malam," seloroh Andy tanpa beban, langsung menarik Reyner untuk duduk dengan wajah berbinar.
"Andy, jangan merepotkan orang lain," tegur Amanda tajam, melirik adiknya dengan tatapan memperingatkan.
Reyner terkekeh pelan. "Aku kan bukan orang lain, Kak," potong Reyner lembut. "Anggap saja ini syukuran kecil karena aku jadi tetangga baru di sini."
Amanda mengepalkan jemarinya. Dia ingin sekali menolak. Ingin mengusir pria ini keluar dari rumahnya detik ini juga. Namun, raut wajah Andy yang polos dan senyum sopan Reyner di hadapannya seolah mengunci pergerakannya. Jika dia menolak terlalu keras, Andy akan menganggapnya aneh dan kasar.
"Terserah," sahut Amanda singkat, berusaha sekeras mungkin menahan nada getar di suaranya.
Dia tetap memanaskan makanan sisa semalam di atas kompor.
Tak lama, dia membawa piring-piring berisi nasi dan lauk semalam dan duduk di samping Andy. Dilihat dari keadaannya, mereka belum mulai makan. Sepertinya mereka menunggu Amanda.
“Kenapa belum mulai makan?” tanya Amanda pada Andy.
“Kata Kakak kan tidak sopan kalau yang paling tua belum mulai makan?” jawab Andy.
Heh? Yang paling tua?
Amanda menatap Andy dan Reyner. Jelas-jelas Andy adiknya. Dan Reyner pasti seusia Armand.
Ah, tapi iya sih. Saat ini, aku yang paling tua di sini.
Andy selalu makan dengan Mamanya dan Amanda. Amanda mungkin tak terlalu memperhatikan kebiasaan makan adiknya, tapi sekarang ada sedikit rasa bangga. Dia merasa telah membesarkan adiknya dengan baik.
“Ya sudah, mulai makan. Sudah cuci tangan?”
“Sudah tadi di keran depan,” ujar Andy.
Reyner pun mengangguk sambil terkikik. Amanda bengong melihat tawa jenaka Reyner.
Walau sedetik, dalam jarak sedekat ini, Amanda membatin: Dia tampan sekali…
Hidung pria itu begitu mancung, tulang rahangnya tegas, dan kulitnya bersih. Rambut kecokelatannya membingkai wajahnya dengan lembut, sementara dua t**i lalat di dekat matanya bukannya memperburuk penampilan, melainkan justru mempertegas ketampanannya, seperti beauty mark yang sengaja dilukis di sana.
Meskipun demikian, Amanda merasa di balik senyumnya, Reyner terasa amat dingin, tajam, dan hampa. Seolah-olah wajah tampannya hanyalah sebuah topeng indah yang menyembunyikan sesuatu yang gelap di dalamnya.
Amanda menyendok lauk sisa semalam ke piringnya. Matanya melirik singkat ke arah Andy yang mulai makan dengan lahap.
“Sudah lama sekali aku tidak makan ini!” Andy terlihat girang.
“Makan yang banyak,” sahut Reyner sambil menyodorkan kedua kotak besar itu ke arah Andy, lalu mengisyaratkan Amanda untuk mengambilnya juga.
“Ah… sedang diet,” tepis Amanda sopan sambil tersenyum kaku.
“Kakak apanya yang diet? Sudah kurus begitu.”
Reyner hanya melirik tangan kurus Amanda dan mulai makan juga.
Amanda terus mematung di kursinya. Matanya tak lepas menatap setiap gerakan tangan Reyner yang makan dengan sangat rapi, seperti seseorang yang terbiasa dengan table manner.
Merasa terus diperhatikan, Reyner menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh ke arah Amanda, menatapnya dengan senyum tipis.
“Kak Manda kenapa menatap aku terus? Apa ada yang aneh di muka aku?” tanya Reyner. Nada suaranya sopan, namun cukup untuk membuat Amanda tersentak.
Andy yang sedang mengunyah ayam goreng langsung tertawa kecil sambil nyengir. “Haha, Kak Manda terpesona ya? Mas Reyner kan memang ganteng.”
Wajah Amanda seketika memanas. Bercampur antara malu dan jengkel karena godaan adiknya. Dia dengan cepat mengalihkan pandangan, membenahi posisi duduknya sambil berdeham canggung.
“Bu… bukan begitu,” sahut Amanda cepat. Suaranya diusahakan setenang mungkin meski dadanya berdebar kencang.
Ayo, cepat cari topik! Jangan sampai kelihatan panik! batin Amanda panik. Dia menatap ke sembarang arah sebelum akhirnya melemparkan pertanyaan seadanya yang terbersit di kepalanya.
“Aku… aku cuma berpikir wajah kamu…seperti orang asing.”
Lah bicara apa aku ini?
Reyner terkekeh pelan.
“Mata Kak Manda tajam juga, ya,” ujar Reyner lembut sambil menyapu bibirnya dengan tisu. “Mamaku memang orang Jerman. Dulu aku juga lahir di sana.”
“Wah, serius? Di kota mana?” potong Andy penasaran, menghentikan gigitan ayamnya.
“Mittenwald,” jawab Reyner singkat, matanya melirik tipis ke arah Amanda yang terdiam. “Sebuah kota kecil dekat perbatasan Austria. Daerahnya sangat dingin, terisolasi, dan sepi…”
Tatapan mata Reyner saat mengucapkan kalimat terakhir itu begitu dalam, menyiratkan emosi yang ditutupi dengan senyuman hangatnya.
“Keren, ya!” ujar Andy nyaring.
“Apa iya?” sahut Reyner tampak senang mendengar respons Andy.
Tiba-tiba, ponsel Amanda yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor anonim muncul kembali.
Dia membuka layar ponselnya dan seketika badannya menegang. Pelan-pelan, Amanda mengangkat pandangannya ke arah Reyner yang berada di hadapannya.
Pria itu masih tenang mengunyah makanannya. Bahkan kedua tangannya sibuk memegang makanan sejak awal dan tidak terlihat menyentuh ponselnya sama sekali.
Pesan itu berbunyi:
[Anonim]: "Apakah ayam gorengnya enak? Nikmati makan siangmu bersama dengan 'tetangga baru'-mu, Dewiku."
Reyner menatap Amanda, menyadari perubahan ekspresi di wajahnya. “Kak ? Kak Manda kenapa?”
Jadi… siapa yang mengirim pesan ini?