Reza terbangun dengan rasa sakit yang merayap di seluruh tubuhnya. Pandangannya masih kabur, tapi ia tahu sesuatu telah berubah. Memori terakhirnya adalah serangan brutal dari sekelompok preman di malam yang dingin di kota Verlian. Mereka memukulnya tanpa ampun, dan dia yakin bahwa itu adalah akhir dari hidupnya.
Namun, ketika matanya terbuka sepenuhnya, dia tidak lagi berada di jalanan kota yang dipenuhi asap dan kebisingan. Sebaliknya, dia mendapati dirinya terbaring di sebuah ruangan besar yang dipenuhi perabotan mewah. Langit-langit tinggi dihiasi ukiran yang rumit, dan kain-kain brokat merah serta emas menutupi dinding-dindingnya.
“Apa ini… di mana aku?” Reza bergumam, mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa berat dan kaku. Rasa sakit dari dadanya membuatnya hampir tidak bisa bernapas, tapi dia memaksakan dirinya untuk bangkit.
Dengan susah payah, dia melihat ke arah tangannya yang tampak jauh lebih besar dan berotot daripada yang ia ingat. Kulitnya kasar, penuh bekas luka. Hatinya mulai dipenuhi ketakutan, seiring ia menatap ke cermin besar di sudut ruangan.
Yang ia lihat di cermin membuatnya terkejut. Bukan wajahnya yang terpampang di sana, melainkan wajah seorang pria muda dengan luka-luka yang menghiasi kulitnya. Rambut hitam legam menjuntai berantakan, dan yang paling mencolok adalah sepasang mata biru yang menatapnya tajam.
Mata itu... tampak tidak asing, tapi Reza tidak bisa mengingat di mana ia pernah melihatnya. Pikirannya berusaha mengaitkan rasa familier itu dengan seseorang, tapi rasa sakit yang masih menghantam tubuhnya menghalangi pikirannya untuk berpikir jernih.
“Siapa… ini?” Reza bertanya pada dirinya sendiri, tangan gemetar saat menyentuh wajah asing yang dilihatnya di cermin. Mata biru itu, penuh kekuatan dan misteri, menambah kebingungannya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan suara keras, dan seorang pria berpakaian besi masuk dengan ekspresi cemas.
“Jenderal Ares! Anda sudah sadar!” seru pria itu dengan nada lega. “Kami khawatir Anda tidak akan bertahan setelah pertempuran melawan Pasukan Lothar. Luka Anda sangat parah.”
Reza memalingkan wajahnya dari cermin dan menatap pria itu dengan kebingungan. “Jenderal Ares?” ulangnya pelan, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.
“Ya, Jenderal. Anda adalah Jenderal Ares, komandan pasukan Valoria. Kami semua sangat khawatir,” pria itu menjawab dengan penuh hormat.
“Aku… Jenderal Ares?” pikir Reza, merasa semakin terjebak dalam situasi yang tidak masuk akal ini. Matanya kembali tertuju pada cermin, pada sosok yang sekarang menjadi dirinya—sosok yang memiliki mata biru yang entah mengapa terasa begitu familiar.
Pria itu melihat Reza dengan tatapan khawatir. “Jenderal, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membantu?”
Reza mengangguk pelan, mencoba menenangkan dirinya. “Aku… aku perlu istirahat,” jawabnya, berusaha meniru nada tegas yang mungkin biasa digunakan Jenderal Ares.
“Tentu, Jenderal. Saya akan memanggil pelayan untuk membawa Anda ke kamar yang lebih tenang,” jawab pria itu sebelum memberi hormat dan keluar dari ruangan.
“Ares! Kau sudah sadar!” seru Hektor, langkahnya cepat dan penuh semangat saat memasuki ruangan. Hektor adalah pria bertubuh sedang dengan rambut cokelat keriting yang sedikit berantakan. Matanya yang cerah dan senyum hangatnya memberikan kesan ramah dan penuh kehangatan. Pakaian sederhana namun bersih menggantung di tubuhnya, memberikan aura bahwa dia adalah seseorang yang sangat dekat dengan jenderal.
“Kami mendengar dari tabib kalau kau berada di ambang maut lagi,” tambah Orion dengan nada serius. Orion memiliki postur yang lebih tinggi dan atletis dibanding Hektor, dengan rambut hitam pendek yang teratur dan mata cokelat gelap yang tajam. Meski dia memakai pakaian yang serupa dengan Hektor, penampilannya menambah kesan tegas dan waspada. “Kau selalu saja membuat kami khawatir.”
Reza, masih bingung dan terperangkap dalam tubuh Jenderal Ares, berusaha mencerna nama-nama ini sambil menatap keduanya. “Hektor… Orion…” gumamnya, berusaha menyambungkan ingatan yang terasa asing.
Hektor duduk di sisi tempat tidur, tangannya menepuk bahu Reza dengan lembut. “Kau terlihat aneh, Ares. Kau masih merasa sakit?” dia bertanya, nada suaranya penuh kepedulian.
“Ya… sedikit,” jawab Reza, berusaha untuk terdengar tenang meski pikirannya kacau. “Tapi aku akan baik-baik saja.”
Orion melangkah lebih dekat, tatapan tajamnya seolah meneliti setiap ekspresi Reza. “Kau biasanya tidak begitu… ragu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bisa bilang pada kami, Ares.”
Reza merasakan tenggorokannya kering, tertekan oleh ekspektasi mereka. “Aku hanya… butuh waktu untuk berpikir. Semua ini terasa… berat.”
Hektor memberikan senyuman lembut, tapi ada kelelahan di matanya yang menandakan betapa khawatirnya dia. “Kami mengerti, Ares. Pertempuran kemarin sangat berat, bahkan untukmu. Tapi kau harus tahu, kami ada di sini untuk mendukungmu.”
Reza menatap Hektor, merasa ada rasa syukur namun juga ketakutan. “Terima kasih, Hektor. Kalian berdua… kalian sangat berarti bagiku.”
Orion, yang tetap berdiri tegak dengan ekspresi serius, mengangguk pelan. “Kau tahu kami tidak akan meninggalkanmu, Ares. Apa pun yang terjadi, kami di sisimu.”
“Ya, aku tahu itu,” Reza menjawab dengan suara yang sedikit lebih tegas, mencoba menyembunyikan kebingungannya di balik penampilan tegas Jenderal Ares.
Ketika Hektor dan Orion meninggalkan ruangan, Reza merasa seolah dia terjebak di dalam tubuh Jenderal Ares dengan segala rasa sakit dan kebingungannya. Dinding-dinding kamar yang mewah seolah menekan keadaannya, memberikan kesan seakan-akan dia benar-benar terkurung dalam dunia asing ini.
Pintu kamar terbuka lagi dengan lembut, dan seorang wanita muda melangkah masuk dengan cepat, penuh kekhawatiran dan penuh kasih sayang. Helena, adik perempuan Jenderal Ares, terlihat seperti cahaya di tengah gelapnya suasana hati Reza. Helena memiliki rambut panjang berwarna emas yang diikat dengan pita kecil, dan wajahnya yang cerah serta matanya yang bersinar penuh kelembutan.
“Ares!” serunya dengan nada panik, matanya segera tertuju pada Reza dengan kekhawatiran yang mendalam. “Aku mendengar kabar tentang luka-lukamu, dan aku sangat khawatir. Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat sangat lelah dan sakit.”
Reza yang masih berusaha beradaptasi dengan tubuh Jenderal Ares, mencoba memberikan senyuman yang menenangkan meskipun dia merasakan ketidaknyamanan yang mendalam. “Helena… aku… aku baik-baik saja,” jawabnya dengan suara yang lembut, berusaha meniru nada Jenderal Ares meskipun terasa canggung.
Helena mendekat dengan gerakan lembut, tangannya perlahan menyentuh dahi Reza. “Jangan berbohong padaku, Ares. Luka-lukamu masih sangat parah. Aku tahu betapa beratnya pertempuran kemarin dan bagaimana kau berjuang untuk tetap hidup. Kau harus beristirahat dan memberi dirimu waktu untuk sembuh.”
Reza merasakan kehangatan dan perhatian yang mendalam dari Helena, namun dalam hatinya dia merasa semakin tertekan. “Terima kasih, Helena. Kehadiranmu benar-benar membuatku merasa lebih baik,” jawabnya, berusaha untuk terdengar meyakinkan.
Helena duduk di samping tempat tidur dengan ekspresi cemas yang jelas di wajahnya. “Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan betapa khawatirnya aku. Aku mendengar betapa buruknya keadaanmu dan bagaimana kau hampir mati karena luka-lukamu. Aku ingin tahu segala sesuatu tentang pertempuran itu dan bagaimana kita bisa membantu memulihkan semuanya.”
Helena duduk di samping tempat tidur, masih dengan tatapan khawatir yang terpancar dari matanya. “Aku tak bisa berhenti memikirkan bagaimana kau bisa selamat. Aku ingin memastikan kau benar-benar sembuh. Aku sudah memanggil tabib istana untuk memeriksa keadaanmu.”
Tepat setelah Helena mengucapkan kata-kata itu, pintu kembali terbuka, kali ini disertai oleh seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan pakaian sederhana namun bersih. Tabib istana membawa tas kulit berisi berbagai ramuan dan alat-alat medis.
“Jenderal, saya mau memeriksa keadaan Anda,” kata tabib itu dengan hormat, sambil memberi salam pada Reza. Tatapannya penuh ketenangan dan kepercayaan diri, jelas dia adalah seseorang yang sudah terbiasa menangani kondisi seperti ini.
Reza hanya mengangguk, masih merasa canggung dalam tubuh Jenderal Ares. “Silakan,” ucapnya singkat.
Tabib itu mendekat, mulai memeriksa luka-luka di tubuh Reza dengan cermat. Dia mengoleskan beberapa ramuan pada luka yang masih tampak merah dan membalutnya kembali dengan kain bersih. “Luka-luka ini cukup dalam, tapi Anda sangat kuat, Jenderal. Dengan istirahat yang cukup, Anda akan pulih sepenuhnya,” katanya sambil melanjutkan pemeriksaannya.
Helena memperhatikan dengan penuh perhatian, sesekali melirik ke arah Reza dengan kekhawatiran yang masih jelas terlihat. “Apakah dia benar-benar akan pulih, Tabib?” tanya Helena, suaranya penuh harap.
Tabib itu mengangguk dengan tegas. “Ya, Yang Mulia. Dengan perawatan dan istirahat yang tepat, Jenderal Ares akan pulih sepenuhnya. Namun, dia harus menghindari stres dan terlalu banyak aktivitas fisik untuk sementara waktu.”
Helena menghela napas lega, meskipun tatapannya tetap serius. “Terima kasih, Tabib. Aku akan memastikan kakakku mendapatkan semua yang dia butuhkan untuk pulih.”
Tabib itu menutup tasnya dan memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan. Helena kemudian berdiri dan memandang Reza dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Kakakku, aku akan pergi sekarang dan membiarkanmu beristirahat. Tapi ingatlah, aku selalu ada di sini untukmu. Jika kau butuh apa pun, katakan saja,” kata Helena dengan suara lembut, sebelum memberikan Reza senyuman hangat.
“Terima kasih, Helena. Aku akan mengingat itu,” jawab Reza, berusaha menunjukkan ketenangan meski hatinya masih gelisah.
Dengan senyuman terakhir yang penuh kehangatan, Helena meninggalkan ruangan, dan Reza sekali lagi terbaring sendirian. Rasa sakit di tubuhnya perlahan-lahan mereda berkat ramuan yang diberikan tabib, tetapi kebingungan dan rasa tertekan di dalam hatinya tetap tak berkurang. Reza tahu bahwa ia harus terus berpura-pura sebagai Jenderal Ares yang kuat—meskipun di dalam hatinya, ia merasa semakin tertekan dan bingung.