Reza berbaring di tempat tidur megah dengan langit-langit berornamen indah di atasnya. Rasa sakit yang samar terus menghantui tubuhnya, namun yang lebih menyiksa adalah kebingungannya. Di manakah dia sebenarnya? Bagaimana dia bisa berada di dalam tubuh orang lain? Pikiran-pikiran ini berputar-putar dalam benaknya, membuatnya merasa terjebak di antara kenyataan dan mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Dia memejamkan mata, mencoba fokus. Perlahan, seperti bayangan yang muncul dari kabut, ingatan-ingatan Jenderal Ares mulai menyusup ke dalam pikirannya. Seperti potongan teka-teki yang berserakan, ingatan-ingatan ini mulai membentuk gambaran tentang Kerajaan Veloria, sebuah kerajaan yang begitu kuno dan mistik hingga sulit dipercaya bahwa itu nyata.
"Veloria..." gumam Reza pelan, mencoba memahami apa yang baru saja terlintas di pikirannya.
Dalam bayangannya, dia melihat istana megah yang dikelilingi oleh tembok batu besar. Istana itu berdiri kokoh di tengah lembah subur, dengan puncak-puncaknya yang menjulang ke langit, seakan menantang siapa pun yang berani mendekat. Kerajaan ini dipenuhi oleh ladang-ladang yang hijau, kebun-kebun yang rapi, dan jalan-jalan yang tenang, dipenuhi oleh kuda dan kereta yang berlalu-lalang dengan anggun. Tidak ada mobil, tidak ada gedung pencakar langit seperti di Verlian—hanya keindahan alam dan arsitektur kuno yang memancarkan kekuatan dan kemegahan.
Reza mencoba mengingat lebih jauh, menggali ingatan Jenderal Ares tentang penguasa kerajaan ini.
"Raja Valerius..." gumamnya lagi, nama itu muncul dari ingatan Jenderal Ares dengan jelas.
Raja Valerius adalah penguasa Veloria, seorang raja yang bijaksana dan penuh wibawa. Rambutnya yang keperakan dan janggutnya yang lebat menunjukkan usianya yang sudah lanjut, namun matanya masih tajam, penuh dengan kebijaksanaan dan kekuatan. Dia memimpin kerajaan dengan tangan besi, namun selalu mendengarkan nasihat dari para penasehatnya, terutama dari sang ratu.
"Ratu Seraphine," bisik Reza, saat ingatan tentang ratu itu muncul.
Ratu Seraphine adalah wanita yang cantik dan anggun, dengan rambut hitam panjang yang berkilau seperti sutra dan mata berwarna hijau yang meneduhkan. Dia terkenal akan kelembutannya, namun di balik senyum ramahnya, tersembunyi kecerdasan yang luar biasa. Dia sering membantu Raja Valerius dalam membuat keputusan-keputusan penting, terutama yang menyangkut kesejahteraan rakyat Veloria.
Reza mengerutkan kening, mencoba menggali lebih dalam. Dia merasa ada sesuatu yang lebih, seseorang yang sangat dekat dengan Jenderal Ares, namun bayangannya masih samar.
"Putri... Elara," Reza akhirnya berhasil mengingat.
Putri Elara adalah satu-satunya putri dari Raja Valerius dan Ratu Seraphine. Dia adalah simbol harapan bagi rakyat Veloria, dengan kecantikan yang mempesona dan hati yang penuh dengan kebaikan. Elara dikenal karena kebaikannya terhadap rakyat, sering kali turun langsung ke desa-desa untuk membantu mereka yang membutuhkan. Namun, di balik keanggunan dan kelembutannya, dia adalah seorang pejuang yang terlatih, mewarisi keberanian dari ayahnya.
Ingatan tentang rival juga mulai muncul, dan Reza merasa tubuhnya merespons secara naluriah, seakan siap untuk bertarung kapan saja.
"Jenderal Kael," Reza merasakan sedikit kemarahan di dalam dirinya saat nama itu muncul.
Jenderal Kael adalah rival terbesar Jenderal Ares. Dia adalah seorang prajurit yang tangguh dan cerdik, dengan wajah yang selalu tersenyum dingin. Kael terkenal karena ambisinya yang besar, dan banyak yang percaya bahwa dia mengincar posisi Ares sebagai jenderal tertinggi. Meskipun Kael sering terlihat bersahabat, Ares selalu waspada terhadapnya, mengetahui bahwa di balik senyum itu, Kael selalu merencanakan sesuatu.
Namun, ada satu hal lagi yang muncul dalam benaknya, sebuah nama yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
"Selene..." Reza merasakan emosi yang campur aduk ketika nama itu muncul.
Selene adalah kekasih Jenderal Ares, seorang wanita misterius dengan rambut pirang panjang dan mata biru yang dalam, hampir mirip dengan mata Ares. Selene adalah penyihir yang kuat, salah satu dari sedikit orang yang bisa mengendalikan sihir di Veloria. Dia adalah sekutu yang berharga di medan perang, namun juga merupakan seseorang yang Ares percayai sepenuhnya, meskipun banyak yang meragukan loyalitasnya karena kekuatannya yang begitu besar.
Reza membuka matanya, napasnya memburu. Semua ini terasa seperti mimpi, tetapi dia tahu bahwa ini nyata—lebih nyata daripada apapun yang pernah dia alami sebelumnya. Veloria, dengan segala keajaiban dan misterinya, adalah dunia yang nyata, meskipun sangat berbeda dari Verlian yang modern.
"Aku... berada di Veloria," bisiknya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dia bangkit perlahan dari tempat tidurnya, melihat sekeliling ruangan dengan penuh kekaguman dan kebingungan. Ini bukan sekadar tempat yang asing; ini adalah dunia yang baginya hanya ada dalam dongeng atau legenda kuno. Kerajaan yang telah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Sebuah tempat di mana sihir bukan hanya mitos, tetapi kenyataan sehari-hari.
Reza merasakan hawa mistik yang mengalir di udara, seakan setiap sudut ruangan ini menyimpan rahasia yang belum terungkap. Dia tidak tahu bagaimana caranya bisa kembali ke dunianya sendiri, tetapi satu hal yang pasti: dia harus bertahan hidup di sini. Di Veloria, tempat di mana segalanya mungkin terjadi, bahkan membunuh tanpa menyentuh.
Dengan langkah perlahan, Reza berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan, memandang pantulan dirinya—atau lebih tepatnya, pantulan Jenderal Ares. Mata biru yang menatap balik padanya penuh dengan kekuatan dan misteri. Di cermin itulah, dia melihat cerminan Veloria, sebuah kerajaan yang mistik, penuh fantasi, dan kini menjadi kenyataan yang harus dia hadapi.