Reza berdiri di balkon kamar Jenderal Ares, menatap hamparan lembah subur yang dikelilingi oleh pegunungan megah. Kerajaan Veloria, dengan semua kemegahan dan kemistikannya, tampak begitu nyata di hadapannya, namun tetap terasa seperti dunia yang sepenuhnya asing. Langit biru cerah dengan awan-awan putih yang berarak pelan, tetapi dalam hatinya, hanya ada badai kegalauan.
"Aku harus menemukan cara untuk kembali," gumam Reza, suaranya penuh tekad, tetapi dibalut keraguan yang mendalam. "Aku tidak bisa terus berada di sini, hidup sebagai orang lain."
Setiap kali Reza mencoba mencari jawaban, ia selalu dihadapkan pada tembok besar ketidakpastian. Tubuhnya yang sekarang penuh luka dan kekuatan bukanlah miliknya, dan kehidupan yang penuh dengan tanggung jawab besar serta intrik politik terasa menakutkan. Namun, apa pilihannya? Semua yang terjadi terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.
Reza menghabiskan hari-harinya menjelajahi istana megah Veloria, mencoba memahami dunia barunya. Namun, ke mana pun ia mencari, ia tidak menemukan petunjuk tentang bagaimana kembali ke dunianya yang dulu. Perpustakaan besar yang dipenuhi kitab-kitab kuno hanya memberikan informasi tentang sejarah Veloria, sihir kuno, dan perang legendaris. Namun, tidak ada satu pun yang menyebutkan tentang perpindahan jiwa atau cara kembali ke dimensi lain.
"Ini gila," pikir Reza. "Bagaimana mungkin aku bisa terjebak di sini? Ini seperti cerita fiksi yang terlalu absurd untuk dipercaya."
Pada suatu malam, saat rasa frustrasi dan keputusasaan mencapai puncaknya, Reza memutuskan untuk membuka diri kepada Hektor dan Orion, dua sahabat terdekat Jenderal Ares. Ia berharap dengan mengungkapkan yang sebenarnya, ia bisa mendapatkan bantuan atau setidaknya pemahaman dari mereka.
Dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin, Reza duduk bersama Hektor dan Orion. Hektor, tampak serius, sementara Orion, memandang Reza dengan penuh perhatian.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada kalian," Reza memulai, suaranya sedikit gemetar. "Aku... aku bukanlah Ares yang kalian kenal."
Hektor dan Orion saling berpandangan, tampak bingung.
"Apa maksudmu, Ares?" tanya Orion dengan nada cemas.
Reza menarik napas dalam-dalam. "Aku bukan Ares. Aku adalah Reza, seorang pria dari dunia lain. Entah bagaimana, jiwaku terperangkap di dalam tubuh ini, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kembali."
Keheningan menutupi ruangan. Wajah Hektor menunjukkan kebingungan, sementara Orion tampak lebih waspada.
"Ares, apakah kau sedang bercanda?" Hektor bertanya dengan suara berat. "Ini tidak mungkin. Kau terdengar seperti... seseorang yang kehilangan akal."
"Aku tahu ini sulit dipercaya," Reza mencoba meyakinkan mereka. "Tetapi aku bersumpah, aku bukan orang yang kalian pikirkan. Aku hanya ingin kembali ke dunia asliku."
Orion menatap Reza dengan mata yang menyipit, seolah mencoba mencari kebenaran di balik kata-katanya. "Ares, kau telah melalui banyak hal akhir-akhir ini. Luka-lukamu belum sembuh, dan mungkin... mungkin ini semua akibat dari itu. Pikiranmu sedang dalam kekacauan, atau mungkin..." Ia ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Mungkin kau sedang dirasuki oleh roh jahat."
Reza terkejut, tidak menyangka penjelasannya akan dianggap sebagai tanda kerasukan atau penyakit. "Tidak! Kalian tidak mengerti! Aku bukan dirasuki, aku adalah Reza, dan aku benar-benar terjebak di tubuh ini!" Suaranya meninggi karena putus asa.
Hektor menggelengkan kepala dengan lembut, lalu meletakkan tangannya di bahu Reza. "Tenanglah, Ares. Kami akan membantumu. Mungkin kau hanya butuh waktu untuk pulih."
Namun, Reza tahu mereka tidak akan mempercayainya. "Mereka tidak akan pernah mengerti," pikirnya dengan sedih, merasa semakin terisolasi. Meskipun dua sahabat ini begitu peduli padanya, mereka tidak bisa memahami penderitaan batinnya yang sebenarnya.
Pagi harinya, Hektor dan Orion kembali menemui Reza dengan wajah yang lebih serius. Mereka duduk di ruangan yang sama, dan kali ini Orion yang pertama berbicara.
"Ares, setelah kami berpikir panjang," kata Orion, "kami merasa kau mungkin benar-benar membutuhkan bantuan. Dan karena kau mengaku sebagai orang lain, mungkin ada sesuatu yang salah secara spiritual. Kami memutuskan untuk mengajakmu ke seorang dukun. Dia dikenal mampu menangani kasus seperti ini."
"Dukun?" Reza mengerutkan kening, tidak percaya dengan arah pembicaraan ini. "Kalian pikir aku dirasuki roh jahat?"
"Ini bukan sekadar keyakinan, Ares," kata Hektor dengan nada lembut. "Kami peduli padamu, dan jika ada sesuatu yang bisa membantu mengembalikanmu, kami akan mencobanya."
Reza merasa terjebak. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan bahwa masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekadar gangguan roh? Namun, di sisi lain, ia tidak ingin mengecewakan dua sahabat ini yang jelas-jelas sangat peduli padanya. Mungkin mengikuti rencana mereka akan memberinya lebih banyak waktu untuk memahami situasinya sendiri.
"Baiklah," kata Reza akhirnya, meskipun ada keraguan di dalam hatinya. "Jika itu yang kalian pikir bisa membantu, aku akan ikut."
Beberapa hari kemudian, Reza dibawa ke sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan. Di sana, seorang dukun tua yang dikenal sebagai Nenek Yarha menyambut mereka di pondok kayunya yang sederhana namun penuh dengan aura mistis. Nenek Yarha memiliki rambut putih panjang yang diikat rapi, matanya yang tua namun tajam menatap Reza dengan penuh rasa ingin tahu.
"Jenderal Ares," sapanya dengan suara serak namun penuh wibawa. "Aku sudah mendengar ceritamu dari Hektor dan Orion. Kau merasakan ada sesuatu yang salah dengan dirimu, bukan?"
Reza mengangguk, berusaha menutupi kegugupannya. "Benar, Nenek Yarha. Aku... tidak merasa seperti diriku sendiri."
"Mari kita lihat apa yang bisa kulakukan," kata Nenek Yarha, mengajak Reza duduk di tengah ruangan yang dipenuhi dengan aroma dupa dan suara gemerincing dari peralatan mistik.
Ritual dimulai dengan nyanyian lembut yang diiringi oleh dentingan lonceng kecil. Nenek Yarha menutup mata Reza dengan kain hitam dan mulai membacakan mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti Reza. Selama ritual, Reza merasakan sensasi aneh, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang berusaha menelusuri kedalamannya, mencari jawaban atas pertanyaannya.
Setelah beberapa saat, Nenek Yarha berhenti dan membuka kain penutup mata Reza. Tatapannya penuh dengan ekspresi serius yang tampak dipaksakan.
Kemudian, tiba-tiba, Nenek Yarha menghentikan nyanyiannya. Suasana hening menyelimuti ruangan, dan Reza bisa merasakan tatapan tajam dari mata Nenek Yarha menembus kegelapan kain hitam yang menutupi matanya.
"Roh jahat," Nenek Yarha berkata dengan nada yang begitu serius. "Ada roh jahat yang sangat kuat dalam tubuhmu, Jenderal Ares. Roh ini berasal dari dunia lain, kiriman seseorang yang berniat mencelakaimu. Ia telah merasuki tubuhmu dan menguasai jiwamu."
Reza merasa darahnya mendidih. "Apa maksudnya ini?" pikirnya dengan marah. "Ini tidak masuk akal! Aku bukan dirasuki roh jahat, aku adalah Reza, seorang manusia yang terjebak di tubuh ini!"
Namun, Nenek Yarha melanjutkan tanpa memberikan kesempatan pada Reza untuk merespon. "Roh ini sangat berbahaya. Ia ingin menghancurkanmu dari dalam, menghapus ingatanmu, dan menguasai seluruh tubuhmu. Jika kita tidak segera bertindak, kau akan kehilangan kendali atas dirimu sendiri, dan roh jahat ini akan sepenuhnya mengambil alih."
Hektor dan Orion, yang mendengarkan dengan cemas, saling berpandangan. Ketakutan jelas tergambar di wajah mereka. "Apa yang harus kita lakukan, Nenek Yarha?" tanya Hektor dengan nada penuh kekhawatiran.
"Kita harus mengadakan upacara penyucian yang besar," jawab Nenek Yarha dengan tegas. "Ini akan menjadi ritual yang sangat berat, tapi ini satu-satunya cara untuk mengusir roh jahat itu dan mengembalikan Jenderal Ares yang sebenarnya."
Reza ingin berteriak, ingin memberitahu mereka bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan roh jahat. Namun, kata-katanya tertahan. Ia merasa semakin terjebak dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan.
"Aku harus segera keluar dari sini," pikir Reza dengan putus asa. "Mereka tidak akan pernah mengerti. Ini semua hanya akan membuatku semakin jauh dari jalan pulang."
Tetapi, sebelum Reza bisa mengatakan apa-apa, Nenek Yarha sudah mulai mengatur persiapan untuk ritual besar yang akan diadakan. Suara lonceng kecil itu kembali bergema, seolah-olah memanggil sesuatu yang lebih dalam dan gelap. Reza hanya bisa duduk diam, merasakan keputusasaan yang semakin mendalam. Bagaimana mungkin ia bisa menemukan jalan pulang jika semua orang di sekitarnya percaya bahwa ia adalah korban dari roh jahat?
Ritual ini, yang seharusnya membantunya, justru membuatnya semakin terperangkap dalam situasi yang tidak masuk akal. Dengan berat hati, akhirnya, Reza membuat keputusan berat. "Jika aku tidak bisa segera kembali," pikirnya, "maka aku harus bertahan hidup di sini. Aku harus menjadi Jenderal Ares, setidaknya sampai aku menemukan cara untuk pulang." Dengan tekad yang baru, Reza memutuskan untuk mempelajari lebih dalam tentang kehidupan Jenderal Ares, belajar cara berbicara, berpikir, dan bertindak seperti dia. Sambil terus mencari jalan pulang, Reza akan beradaptasi dengan dunia ini, berharap suatu hari nanti, ia akan menemukan jalan untuk kembali ke kehidupannya yang lama.