Ketika akhirnya tiba di kamarnya, Reza dengan berat melemparkan dirinya ke tempat tidur yang besar dan mewah. Langit-langit di atasnya dihiasi ukiran rumit yang menggambarkan para dewa perang kuno, tapi semua keindahan itu tak mampu menenangkan hatinya. Perasaan hampa menyelimuti hatinya setelah pertemuannya dengan Nenek Yarha. Ritual yang seharusnya membantu malah membuatnya semakin terjebak dalam kebingungan. Diagnosa bahwa ada roh jahat dalam tubuhnya terdengar konyol bagi Reza, namun Hektor dan Orion mempercayai hal itu sepenuhnya.
Tanpa sadar, matanya tertuju pada cermin besar di sudut ruangan. Wajah Jenderal Ares kembali menatapnya dari balik pantulan kaca itu, dengan semua karisma dan kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin perang. Namun, yang paling menyita perhatiannya adalah mata biru itu—mata yang begitu familiar namun sekaligus asing.
Reza menatap cermin dengan intensitas yang tak terlukiskan. Ada sesuatu yang sangat mengganggunya tentang mata itu. Sebuah perasaan yang menghantui, yang membuat dadanya terasa sesak.
"Kenapa mata ini terasa begitu familiar?" gumam Reza pelan, tangannya menyentuh cermin seolah mencoba menjangkau sesuatu yang lebih dalam dari sekadar refleksi fisik.
Ia terdiam sejenak, tatapannya terfokus pada mata biru yang ia lihat setiap kali menatap cermin.
"Mata ini... mata ini..." gumamnya lirih, merasakan perasaan ganjil merayap naik dari dasar hatinya.
Dan tiba-tiba, kenangan itu datang seperti gelombang pasang yang tak bisa ia hentikan.
***
Flasback…
Malam itu, udara kota Verlian terasa dingin, tapi Reza tak menghiraukannya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan lemburnya dan dalam perjalanan pulang. Pikirannya terfokus pada rutinitas sehari-hari—pekerjaan, keluarga, kehidupan yang terasa monoton namun nyaman. Namun, kenyamanan itu hancur begitu ia mendekati rumahnya.
Dari kejauhan, Reza melihat seorang pria berdiri di depan pintu rumahnya, membungkuk sedikit dengan tubuh Dewi, istrinya, di pelukannya. Jantung Reza langsung berdegup kencang. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Saat ia mendekat, ia melihat lebih jelas. Dewi tampak tak sadarkan diri. Pakaian yang ia kenakan berantakan, dan lehernya penuh dengan bekas kecupan merah yang mencolok di bawah cahaya lampu jalan. Pria itu, dengan mata biru cerah yang menatap Reza dengan senyum licik, tampak begitu santai, seolah tidak ada yang aneh dengan apa yang baru saja terjadi.
Reza merasa darahnya mendidih. Amarah melonjak dari dalam dirinya, namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, pria itu mendudukkan Dewi di kursi di depan rumah mereka. Dengan tenang, pria itu berdiri, menatap Reza sekali lagi dengan senyum dingin yang membuat darah Reza berdesir. Tanpa berkata apa-apa, pria itu kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan dan melaju pergi, menghilang di balik gelapnya malam.
Reza berdiri terpaku, menatap mobil itu yang semakin menjauh, kemudian berlari ke arah Dewi. Tangannya gemetar saat ia mengguncang tubuh istrinya. "Dewi! Dewi, bangun!" serunya dengan panik.
Namun, Dewi tetap tak sadarkan diri. Tidak peduli seberapa keras Reza mengguncangnya, ia tetap tak bergerak, hanya berbaring lemah dengan bekas kecupan yang memalukan itu menghiasi lehernya. Reza merasa seluruh dunianya runtuh.
Malam itu terasa seperti mimpi buruk. Reza mengangkat Dewi ke dalam rumah, membaringkannya di sofa. Sepanjang malam, ia duduk di sampingnya, memandangi lehernya yang dipenuhi bekas kecupan merah. Setiap kali ia menatap bekas kecupan itu, kemarahannya berkobar lagi. Siapa pria itu? Apa yang sudah terjadi?
Ketika fajar akhirnya menyingsing, Dewi membuka matanya perlahan. Dan saat itu juga, Reza langsung melontarkan pertanyaan yang telah membara di dalam dirinya sepanjang malam.
"Siapa pria itu, Dewi? Apa yang terjadi semalam?" suaranya bergetar dengan kemarahan dan keputusasaan yang tertahan.
Dewi tampak bingung, mengerutkan kening saat ia mencoba mengingat. "Apa maksudmu, Za? Aku... aku tidak ingat apa-apa."
Jawaban itu hanya membuat Reza semakin marah. "Jangan berbohong, Dewi! Aku melihatmu! Pria bermata biru itu... Apa yang kalian lakukan?!"
"Za, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Aku benar-benar tidak ingat apa-apa!" Dewi bersikeras, wajahnya dipenuhi kebingungan yang tulus. Tapi bagi Reza, kebingungan itu hanya tampak seperti kedok yang menutupi kebenaran yang menyakitkan.
Pertengkaran itu berlanjut selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Ketidakpercayaan dan rasa curiga menggerogoti hubungan mereka seperti racun. Reza tidak bisa menghapus bayangan pria bermata biru itu dari pikirannya, dan setiap kali ia melihat Dewi, rasa sakit itu kembali mengoyak hatinya.
Beberapa bulan kemudian, Dewi hamil. Namun, bukannya bahagia, Reza justru merasa hancur. Ketika Rifka lahir, mata birunya langsung menghantui Reza. Mata yang sama dengan pria itu. Setiap kali ia menatap Rifka, ia merasa bagaikan ditusuk ribuan pisau.
"Dia bukan anakku," pikir Reza dengan getir. Setiap kali Rifka menangis, tertawa, atau bahkan tersenyum padanya, rasa sakit itu semakin dalam.
Akhirnya, Reza dan Dewi memutuskan untuk melakukan tes DNA. Reza berharap hasilnya akan menunjukkan bahwa Rifka adalah anaknya, agar semua kekacauan ini bisa berakhir. Tapi harapan itu hancur berkeping-keping ketika hasilnya keluar—Rifka bukan anaknya. Kenyataan itu menghantamnya seperti palu godam, menghancurkan semua yang tersisa dari perasaan cintanya kepada keluarganya.
Sejak saat itu, Reza tidak pernah bisa memandang Rifka tanpa merasa kebencian yang begitu dalam. Anak yang seharusnya menjadi berkat baginya, kini hanya menjadi pengingat dari pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
***
Kembali ke Veloria...
Di depan cermin, Reza menatap mata biru Jenderal Ares yang terpantul di sana. Hatinya terasa hancur berkeping-keping, tertelan oleh semua kenangan pahit itu. Ia jatuh terduduk di lantai, merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Kenapa harus aku? Kenapa aku harus dihantui oleh mata ini?" pikirnya dengan penuh kepedihan. Mata yang dulu ia benci di dunia nyata kini terus menghantuinya di dunia ini, mengingatkan pada luka yang tak pernah sembuh.
Reza masih terjebak dalam pikirannya, duduk di lantai dingin di depan cermin besar. Kepalanya penuh dengan kenangan pahit dari kehidupannya sebagai Reza—seorang suami dan ayah yang terkhianati. Napasnya tersengal-sengal, dan hatinya terasa begitu hancur. Namun, di saat yang sama, ia merasa janggal dengan tubuhnya sekarang. Tubuh Jenderal Ares yang begitu kuat dan penuh karisma, namun terasa begitu asing baginya.
Tiba-tiba, sebuah suara berat memecah keheningan.
"Ares, apa yang kau lakukan di lantai seperti itu?" Suara itu terdengar akrab, namun Reza tak sempat memproses siapa pemiliknya.
Reza tersentak kaget, berusaha bangkit dengan cepat dan memutar tubuhnya. Di hadapannya berdiri dua sosok yang membuat jantungnya hampir melompat dari tempatnya—Hektor dan Orion, dua sahabat terdekat Jenderal Ares, tiba-tiba muncul di kamarnya. Mereka tidak membuka pintu, tidak mengetuk, mereka hanya... ada di sana.
"Bagaimana... bagaimana kalian bisa masuk?" tanya Reza dengan kebingungan, matanya masih melebar karena kaget.
Hektor, tertawa kecil. "Ares, kau ini kenapa? Bukankah kita sudah sering melakukan ini? Menembus ruang adalah salah satu kemampuan yang biasa di Veloria. Kau bahkan yang paling ahli melakukannya di antara kami."
Orion, menyeringai sambil melipat tangan di dadanya. "Kau terlihat aneh, Ares. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau biasanya tidak pernah terganggu oleh hal kecil seperti ini."
Reza mencoba menenangkan diri, tapi detak jantungnya masih berdegup kencang. Ia baru saja mengalami kejadian mistis bersama Nenek Yarha, dan sekarang sahabat-sahabat Jenderal Ares ini tiba-tiba muncul begitu saja di kamarnya seolah itu hal yang biasa. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu mustahil di dunia lamanya menjadi hal yang wajar di sini?
"Aku hanya... sedang tidak fokus," jawab Reza dengan suara pelan, mencoba meniru sikap dingin Jenderal Ares. "Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku."
Hektor dan Orion saling bertukar pandang, lalu Hektor melangkah maju dan menepuk bahu Reza dengan lembut. "Apa pun itu, Ares, kau harus tetap tenang. Kau pemimpin kita. Jika kau mulai goyah, bagaimana kita bisa bertahan di tengah segala kekacauan ini?"
Orion mengangguk setuju. "Kau benar, Hektor. Ares, kami di sini untuk mendukungmu. Ingat, apapun yang kau hadapi, kita akan melewati ini bersama-sama."
Reza hanya bisa mengangguk kecil, meskipun dalam hatinya ia merasa begitu terasing dari semua ini. Ia bukan Jenderal Ares. Ia bukan pemimpin perang yang tangguh dan penuh wibawa ini. Ia hanyalah Reza, seorang pria yang hidupnya berantakan dan penuh dengan luka emosional yang dalam.
Namun, di depan Hektor dan Orion, ia harus tetap menjaga penampilan. Jika mereka mulai curiga, seluruh penyamarannya bisa hancur. Ia menghela napas panjang dan mencoba mengatur emosinya.
"Kalian benar. Aku harus fokus pada tugas kita. Ada terlalu banyak yang dipertaruhkan," kata Reza dengan nada yang lebih tegas, meskipun di dalam dirinya ia masih merasa hancur.
Hektor tersenyum lebar dan menepuk bahu Reza sekali lagi. "Itu dia! Itu Jenderal Ares yang kami kenal."
"Terima kasih, kalian berdua," ujar Reza dengan suara yang lebih tenang. "Aku menghargai dukungan kalian."
Orion tersenyum tipis, lalu melangkah mundur sedikit. "Kami selalu ada untukmu, Ares. Ingat itu."
Hektor mengangguk dan berkata, "Kami akan membiarkanmu sendiri dulu. Istirahatlah. Besok kita punya banyak hal yang harus dilakukan."
Mereka berdua kemudian menghilang secepat mereka datang, meninggalkan Reza sendirian di kamarnya. Keheningan kembali menguasai ruangan, tapi kali ini, Reza merasa sedikit lebih tenang. Meski dunianya penuh dengan kekacauan, setidaknya ada orang-orang seperti Hektor dan Orion di sisinya—sahabat-sahabat Jenderal Ares yang siap membantunya menghadapi segala rintangan.
Namun, di dalam dirinya, Reza tahu bahwa pertempuran terbesar masih ada di dalam hatinya. Perang antara kenangan kelam dari kehidupannya di Verlian dan kehidupan baru yang harus ia jalani sebagai Jenderal Ares di Veloria. Dan di antara semua itu, mata biru Rifka terus menghantuinya, mengingatkannya pada luka yang tak pernah sembuh.