Jawaban Baron atas semua langkah Judas datang tiga malam kemudian, di jalan pantai yang sama, di tikungan yang sama, di tempat yang hampir persis sama dengan tempat mobil Judas pernah terjun ke laut karena rem yang disabotase.
Malam itu Judas dalam perjalanan kembali dari Moresby, duduk di jok belakang mobilnya dengan dua mobil pengawal di depan dan belakang. Jalan pantai itu sepi seperti biasa, dengan laut yang gelap di satu sisi dan tebing batu di sisi lainnya. Supir Judas baru saja melewati tikungan kedua ketika sebuah truk besar tanpa lampu tiba-tiba melaju keluar dari jalur kecil di sisi tebing, menghadang tepat di tengah jalan.
“Tabrak saja!” teriak Judas dari jok belakang, dan supirnya, salah satu serdadu senyap terbaik Josh, menginjak gas tanpa ragu.
Mobil itu menghantam sisi truk dengan keras, bukan menabraknya lurus melainkan menyenggol bagian belakangnya, cukup untuk membuka celah dan lolos tanpa berhenti. Mobil pengawal di belakang tidak seberuntung itu. Dari truk yang menghadang, lima orang bersenjata turun dengan gerakan terlatih dan langsung menembaki ban mobil pengawal itu.
Tapi mereka sudah menghitung tanpa memperhitungkan satu hal: mobil-mobil Judas bukan mobil biasa, dan pengawalnya bukan pengawal biasa.
Mobil Judas sendiri berputar balik dua ratus meter di depan, alih-alih melarikan diri. Judas turun dengan pistol di tangan, diikuti oleh empat serdadu senyap dari mobil pengawal pertama yang sudah lebih dulu mengambil posisi di balik bebatuan pantai. Pertukaran tembakan itu berlangsung singkat dan sepihak. Lima penyerang itu jelas tidak menyangka akan menghadapi perlawanan setara pasukan khusus, dan dalam waktu kurang dari dua menit, tiga dari mereka sudah terbaring di aspal, satu melarikan diri ke arah tebing dengan dikejar dua serdadu, dan satu lagi diseret oleh Judas sendiri ke sisi jalan dengan kerah baju yang dicengkeram kuat.
“Kamu masih bernapas karena aku mengizinkannya,” ucap Judas, menempelkan moncong pistolnya ke dahi pria itu. “Dan kamu akan terus bernapas selama kamu berguna. Josh, bawa dia ke ruang hitam. Yang lainnya, bersihkan jalan ini sebelum ada yang lewat.”
Pertarungan itu berakhir secepat dimulainya. Tidak ada satu pun dari orang-orang Judas yang terluka parah, hanya dua serdadu dengan luka gores di lengan. Tapi ketika Josh menghitung ulang semua orangnya dan memeriksa seluruh area, wajahnya berubah.
“Tuan. Truk itu membawa dua tim. Tim pertama menyerang konvoi di sini. Tim kedua tidak ada di sini.”
Judas menatapnya dengan mata yang memicing. “Maksudmu?”
“Dua kendaraan meninggalkan area gudang Karisma Offshore malam ini, Tuan. Kami mengawasi keduanya. Yang satu menuju ke sini. Yang satunya lagi menuju ke arah rumah keluarga Tarrigan.”
Dunia Judas berhenti selama satu detik. Lalu dia sudah berlari ke mobilnya sambil berteriak. “Semua ikut aku! Sekarang! Josh, telepon orang-orangmu yang menjaga rumah itu!”
Karena Josh, atas perintahnya sendiri sejak seminggu yang lalu, sudah menempatkan tiga orang terbaiknya untuk mengawasi rumah keluarga Tarrigan dari kejauhan. Bukan untuk mengintai. Judas sudah belajar satu hal dari malam pertama mereka bertemu: Ara menyelamatkan nyawanya di jalan pantai yang sepi itu, dan dia tidak akan pernah membiarkan gadis itu menghadapi bahaya yang sama sendirian.
Tiga orang itu menjawab telepon Josh saat itu juga. Mereka sudah bergerak sejak dua kendaraan tak dikenal mendekati rumah itu lima menit sebelumnya. Enam orang bersenjata turun dari dua kendaraan itu dan mencoba masuk lewat pagar belakang, tapi tiga serdadu Josh sudah menunggu di sana. Baku tembak di halaman belakang rumah itu berakhir dengan dua penyerang tumbang dan sisanya melarikan diri dengan kendaraan mereka, meninggalkan rumah keluarga Tarrigan yang utuh dan penghuninya yang baru terbangun dengan jantung berdebar oleh suara tembakan di halaman belakangnya sendiri.
Ara berdiri di beranda belakang rumahnya dengan jaket seadanya ketika mobil Judas meluncur masuk ke halaman depan dengan kecepatan yang nyaris merusak pagar. Pria itu keluar dari mobil sebelum mobilnya berhenti penuh, berlari mendekat, dan memeriksa tubuh Ara dari kepala sampai kaki dengan mata yang menyala-nyala.
“Kau terluka? Ada yang masuk ke dalam rumah? Reagant dan keluarganya?”
“Kami semua baik-baik saja.” Ara menepis tangannya, masih setengah terkejut. “Orang-orangmu yang menyelamatkan kami. Tiga orang itu. Mereka sudah berjaga di belakang rumahku sejak ... kapan, Jud? Sejak kapan kau menempatkan orang untuk mengawasiku?”
Judas menarik napas. Dia tahu percakapan ini akan datang, dan dia sudah memutuskan untuk menjawabnya dengan kejujuran penuh, karena berbohong kepada Ara adalah satu dari sedikit hal yang tidak pernah berhasil dia lakukan.
“Sejak seminggu yang lalu. Sejak kita tahu bahwa Halvern dan Baron berada di balik semua ini. Dan mereka bukan mengawasimu, Ara. Mereka menjagamu.”
“Tanpa seizinku.”
“Tanpa seizinmu,” akunya tanpa ragu sedikit pun. “Dan aku akan melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi, bahkan kalau kau memarahiku setiap hari sampai akhir tahun. Malam ini, enam orang bersenjata datang ke rumahmu untuk menculikmu, Ara. Enam. Dan kalau tiga orangku tidak ada di sana, sekarang kau sudah ada di dalam mobil mereka menuju ke tempat yang bahkan aku pun akan kesulitan menemukannya.”
Ara membuka mulutnya untuk membantah, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Karena dia tahu Judas benar. Dia mendengar sendiri tembakan-tembakan di halaman belakangnya. Dia melihat sendiri dua tubuh penyerang yang tergeletak di sana sebelum dibawa pergi oleh orang-orang Josh.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucapnya akhirnya, tapi suaranya sudah kehilangan sebagian besar kekuatannya.
“Aku tahu kau bisa. Kau menarikku keluar dari mobil yang tenggelam, ingat? Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu.” Judas menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari yang pernah Ara lihat di wajah pria itu. “Tapi aku tidak bisa berdiri dan menonton dari jauh sambil berharap kau akan selalu bisa menjaga dirimu sendiri. Aku tidak kuat untuk itu, Ara. Tidak untukmu.”
Kata-kata terakhir itu menggantung di udara malam di antara mereka berdua, dan untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak atau berbicara.
Lalu Ara berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, dan berkata tanpa menoleh, “Lain kali, beri tahu aku dulu sebelum menempatkan orang-orang bersenjata di sekitar rumahku. Itu saja permintaanku. Dan terima kasih.”
Dua kata terakhir itu keluar begitu pelan, hampir tidak terdengar, tapi Judas menangkapnya. Dia menangkapnya dan menyimpannya di bilik ingatan yang sama tempat dia menyimpan telinga Ara yang memerah di kantornya tempo hari.
Di ruang hitam, dua jam kemudian, penyerang yang tertangkap hidup itu akhirnya berbicara setelah satu jam berhadapan dengan Judas Ellington yang terkenal tidak punya kesabaran. Dia tidak tahu nama Baron. Orang-orang upahan seperti dia tidak pernah tahu nama orang di puncak. Tapi dia tahu satu hal, dan dia mengucapkannya dengan suara yang bergetar di ruang bawah tanah itu.
“Yang membayar kami bukan orang dari perusahaan, Tuan. Yang membayar kami adalah orang dari dalam istana. Aku melihatnya sendiri sekali, ketika dia menyerahkan uang muka. Pria tua dengan tongkat emas, dan cincin besar di tangannya. Dia datang dengan mobil berplat istana.”
Judas berdiri di depan pria itu dengan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa, tapi Josh yang berdiri di belakangnya melihat dengan jelas bagaimana rahang tuannya mengeras.
Orang dari dalam istana. Tongkat emas. Dan mobil berplat istana.
Lingkaran itu sudah hampir menutup sepenuhnya sekarang.