Fajar belum sepenuhnya terbit ketika dua kapal Departemen Kelautan kerajaan Monaghan membelah perairan timur laut dengan kecepatan penuh, dikawal oleh tiga kapal patroli laut istana di formasi segitiga. Di atas kapal utama, Judas berdiri di anjungan dengan jaket kulit hitamnya, memandangi titik di horizon yang mulai terlihat bentuknya: sebuah kapal besar tanpa bendera, dengan kerangka besi raksasa menjulang di lambungnya, diam menunggu seperti hewan buas yang belum menyadari bahwa hutan di sekitarnya sudah penuh dengan pemburu.
Surat perintah kerajaan sudah di tangan Judas sejak semalam, ditandatangani sendiri oleh Ratu Moana. Isinya sederhana dan tidak bisa dibantah: atas nama kerajaan Monaghan, setiap kegiatan di perairan kerajaan tanpa izin tertulis adalah pelanggaran kedaulatan, dan semua pihak yang terlibat akan ditangkap serta semua peralatan disita sebagai barang bukti. Dengan penyergapan tiga hari lalu dan penyerangan rumah keluarga Tarrigan sebagai pendukung, ratu bahkan tidak perlu diyakinkan dua kali untuk menandatanganinya.
“Kapal patroli satu dan dua, maju dari sisi kiri dan kanan. Kapal tiga, jaga jarak di belakang sebagai cadangan. Semua senjata siaga, tapi jangan ada yang menembak lebih dulu,” perintah Judas lewat radio. “Mereka akan menyerah begitu melihat formasi ini. Orang-orang upahan tidak pernah mau mati untuk majikan yang membayar mereka.”
Prediksinya tepat. Ketika tiga kapal patroli kerajaan muncul dari tiga arah dengan sirene meraung dan pengeras suara memerintahkan kapal tanpa bendera itu untuk mematikan mesin, kepanikan langsung terlihat di atas geladaknya. Orang-orang bersenjata di sana berlarian ke sana kemari, beberapa mengangkat senjata mereka, tapi tidak ada satu pun yang berani melepaskan tembakan pertama ke arah kapal-kapal berbendera kerajaan. Menembak kapal patroli Monaghan artinya deklarasi perang dengan seluruh angkatan laut kerajaan, dan tidak ada bayaran di dunia ini yang cukup untuk itu.
“Kapal tanpa bendera, ini adalah Departemen Kelautan Kerajaan Monaghan.” Suara Judas menggema lewat pengeras suara, tenang dan berkuasa. “Kalian berada di perairan kerajaan tanpa izin. Perintahkan semua orang di atas kapal untuk meletakkan senjata dan berkumpul di geladak utama dengan tangan di atas kepala. Kalian punya waktu dua menit.”
Dua menit itu berjalan dengan sangat lambat. Lalu, satu per satu, senjata-senjata itu diletakkan di atas geladak.
Tim penyitaan naik ke atas kapal tanpa bendera itu dua puluh menit kemudian. Judas turun sendiri ke geladak dengan Josh di sampingnya, berjalan melewati barisan orang-orang bersenjata yang sekarang berlutut dengan tangan di atas kepala, diawasi oleh pasukan kerajaan dengan senjata terarah. Judas berhenti di depan kerangka besi raksasa di lambung kapal dan menatap tulisan besar yang tercetak di sana dengan cat yang masih baru.
HALVERN.
“Foto semuanya,” perintahnya. “Dari setiap sudut. Lalu kirim tim selam ke bawah untuk mendokumentasikan kerangka yang sudah mereka tanam di dasar. Aku ingin bukti yang bahkan tidak bisa dibantah oleh pengacara terbaik di benua ini.”
Tim dokumentasi bekerja dengan cepat. Foto-foto kerangka pengeboran, alat-alat pemetaan, kontainer-kontainer berisi peralatan pengeboran yang belum sempat dipasang. Dan di ruang nahkoda kapal, Josh menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua bukti fisik itu: sebuah peti besi terkunci yang setelah dibuka paksa berisi dua buku besar berisi catatan keuangan yang ditulis dengan tangan yang rapi.
Judas membukanya di meja nahkoda, di tengah ruangan yang sunyi setelah semua awak kapal digiring ke dek. Halaman-halaman buku itu dipenuhi catatan pembayaran. Tanggal, jumlah, kode-kode singkat. Sebagian besar pembayaran keluar kepada nama-nama samaran dan perusahaan cangkang, termasuk satu nama yang membuat Judas berhenti membaca sejenak: Karisma Offshore, dengan kolom keterangan yang berbunyi ‘operasi daratan’.
“Operasi daratan,” ulang Judas pelan. “Pembakaran pabrikku. Konfirmasinya, Josh. Tercatat dengan rapi di buku besar mereka sendiri. Orang-orang yang terlalu percaya diri memang selalu menyimpan bukti kebodohan mereka sendiri dengan rapi.”
“Ada lagi, Tuan.” Josh membalik beberapa halaman ke belakang, ke catatan-catatan yang lebih lama. “Lihat kolom ini. Pembayaran berulang, setiap bulan, selama lebih dari dua tahun, kepada satu kode penerima yang sama: B.”
B.
Judas menatap huruf tunggal itu dengan tatapan yang membeku. Dua tahun pembayaran rutin. Bukan pembayaran proyek, bukan pembayaran jasa. Pembayaran rutin seperti gaji. Gaji untuk seseorang yang bekerja untuk mereka dalam jangka panjang. Gaji untuk seseorang yang namanya bahkan tidak berani mereka tulis lengkap di buku besar gelap mereka sendiri.
“Dan ini, Tuan.” Josh menunjuk satu halaman yang jauh lebih tua, di bagian paling belakang buku besar kedua, dengan tanggal yang membuat Judas harus membaca dua kali untuk memastikan. “Kontrak operasi lama. Perairan Kerajaan Osmod. Pemindahan dan pengangkutan barang tanpa dokumen resmi, melalui jalur laut timur Osmod. Tanggal kontraknya ...”
Josh tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak perlu.
Tanggal kontrak itu hanya berselisih tiga bulan dari tanggal kematian kedua orang tua Ara.
Judas menutup buku besar itu dengan pelan, sangat pelan, seperti orang yang sedang memegang sesuatu yang bisa meledak. Dia berdiri di ruang nahkoda itu dengan dua buku besar di tangannya, dengan bukti yang selama bertahun-tahun dicari oleh sebuah keluarga yang hancur, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang dan penuh kekerasan, Judas Ellington merasakan amarah yang benar-benar berbeda dari semua amarah yang pernah dia kenal.
Amarah yang ini bukan untuk dirinya sendiri.
“Tuan,” panggil Josh pelan, membaca wajah tuannya dengan waspada.
“Kirim semua bukti ke istana dengan pengawalan penuh. Dua buku besar ini di tanganku langsung, tidak lewat tangan siapa pun.” Judas berjalan keluar ruang nahkoda, ke geladak yang sudah mulai terang oleh matahari pagi. “Dan, Josh. Hubungi Gustav Halvern. Katakan padanya bahwa Pangeran Judas mengundangnya ke istana. Bukan untuk rapat bisnis kali ini.”
“Untuk apa, Tuan?”
Judas menatap ke arah laut yang membentang ke segala arah, laut yang di dalamnya tersimpan jawaban-jawaban yang sudah terlalu lama terkubur.
“Untuk perhitungan,” jawabnya dingin. “Dan kali ini, aku yang akan menghitung.”
Di daratan, di rumahnya, Ara menerima dua foto yang dikirimkan Josh atas perintah Judas, dengan satu pesan pendek yang menyertainya.
[Bukti sudah di tangan. Kontrak Osmod, tiga bulan sebelum tanggal itu. Aku akan menjemputmu sore ini. Ada yang harus kita bicarakan. Tidak lewat telepon. — Jud]
Ara menatap foto halaman kontrak lama itu dengan tangan yang bergetar. Tanggal di atasnya. Logo perusahaan di sudutnya. Dan tanda tangan di bawahnya, tanda tangan yang bentuknya tidak dia kenali, tapi yang suatu hari nanti akan dia kenali, dia bersumpah pada dirinya sendiri, bahkan kalau itu hal terakhir yang dia lakukan di dunia ini.
Kalung berliontin kerang perak terasa berat di lehernya, seolah ibunya ikut menatap foto itu bersamanya dari tempat yang jauh.
‘Tunggu aku, Bu,’ bisiknya di dalam hati. ‘Sedikit lagi. Aku sudah sedekat ini.’