Judas menjemput Ara sore itu dengan mobil yang dia kendarai sendiri, tanpa supir, tanpa pengawal di dalam mobil yang sama. Dua mobil serdadu mengikuti dari jarak jauh. Dia tidak membawanya ke kasino, melainkan ke tempat parkir kecil di ujung jalan pantai, di tebing yang menghadap langsung ke laut yang luas.
Mereka duduk di kap mobil yang menghadap ke laut, dengan dua gelas kopi, dengan angin sore yang berbau garam. Judas membuka map yang dia bawa dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Halaman aslinya. Bukan foto. Halaman kontrak lama itu sendiri, disobek dengan hati-hati dari buku besar gelap kapal Halvern.
“Josh menyobeknya untukmu,” ucap Judas. “Buku besarnya sendiri harus tetap utuh sebagai barang bukti kerajaan. Tapi halaman ini, dia bilang, milikmu. Aku setuju dengannya.”
Ara menerima halaman itu dengan kedua tangan. Kertasnya sudah menguning di pinggirnya, tapi tintanya masih terbaca jelas. Kontrak operasi. Perairan Kerajaan Osmod. Pemindahan dan pengangkutan barang tanpa dokumen resmi melalui jalur laut timur. Dan tanggal di atasnya hanya berselisih tiga bulan dari tanggal ketika mobil kedua orang tuanya terjun ke jurang.
Tanda tangan di bawah kontrak itu tidak berbentuk nama. Hanya sebuah paraf rumit, lingkaran-lingkaran kecil yang saling bertaut, seperti tanda tangan orang yang terlatih untuk tidak pernah menuliskan namanya dengan bentuk yang bisa dikenali.
“Aku sudah meminta Josh membandingkan paraf ini dengan semua dokumen Halvern yang berhasil kami sita,” ucap Judas. “Paraf yang sama tidak muncul di satu pun dokumen lain. Orang ini hanya menandatangani kontrak-kontrak yang paling kotor, yang paling rahasia, yang paling tidak boleh terbaca oleh siapa pun.”
“Orang yang berkuasa penuh di perusahaan itu,” ucap Ara pelan.
“Gustav Halvern sendiri, atau seseorang yang setara dengannya.” Judas menatap ke arah laut. “Tapi paraf saja tidak cukup untuk pengadilan, Ara. Untuk orang tuamu, aku ingin bukti yang bahkan tidak bisa dibantah oleh setan sekalipun. Karena kalau aku turun tangan atas nama kematian orang tuamu, aku tidak ingin ada satu pun orang yang berani mempertanyakan alasannya.”
Ara menoleh dan menatap pria itu. Mata Judas yang biasanya penuh canda dan kesombongan itu sedang menatap laut dengan tatapan yang dingin, dan untuk kesekian kalinya, Ara menyadari bahwa ada bagian-bagian dari diri pria ini yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
“Ada satu jalan untuk mendapatkan bukti itu,” ucap Judas, berbalik menatapnya. “Awak kapal yang kita sita. Sebelas orang sekarang ditahan di fasilitas kerajaan. Sebagian besar hanya pelaut upahan yang tidak tahu apa-apa. Tapi nahkoda kapal itu sudah bekerja untuk Halvern lebih dari lima belas tahun, Ara. Kalau ada orang yang masih hidup dan tahu tentang operasi di perairan Osmod bertahun-tahun yang lalu, dialah orangnya.”
“Aku ikut saat kau menanyainya,” ucap Ara, dan suaranya tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Judas menatapnya lama. “Baik. Tapi kau berdiri di belakangku dan membiarkan aku yang bicara. Orang-orang seperti nahkoda itu tidak akan berbicara kepada siapa pun yang tidak mereka takuti. Dan aku ahli dalam hal membuat orang takut.”
“Kesombonganmu tidak pernah libur, ya.”
“Bukan kesombongan. Itu kurikulum resmi.”
Untuk sesaat, udara di antara mereka meringan sedikit. Lalu Ara menunduk dan menatap halaman kontrak di tangannya lagi, dan suaranya berubah menjadi lebih pelan ketika dia berbicara.
“Selama bertahun-tahun, aku menghindari laut setiap kali aku marah pada dunia. Aku menyalahkan laut karena dia yang mengambil orang tuaku. Kalau saja mereka tidak begitu mencintai laut, pikirku, mereka pasti masih hidup.” Dia berhenti sejenak, jarinya menyusuri pinggir kertas tua itu. “Ternyata bukan laut yang mengambil mereka. Orang-orang ini yang mengambil mereka. Dan laut yang selama ini kusalahkan justru yang menyimpan buktinya selama bertahun-tahun, menunggu sampai aku cukup kuat untuk menemukannya.”
Judas tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya duduk di sana dan membiarkan laut yang menjadi saksi. Dan ketika bahu Ara akhirnya bersandar ringan ke lengannya — hanya beberapa detik — Judas tetap tidak bergerak sedikit pun, seolah satu gerakan kecil saja akan merusak momen itu.
“Terima kasih, Jud,” bisik Ara, hampir tidak terdengar.
“Untuk apa? Aku belum melakukan apa-apa.”
“Untuk tidak mengatakan ‘aku sudah bilang begitu’. Untuk tidak menasihatiku. Untuk duduk di sini dan diam. Itu yang paling sulit dari semuanya, kan? Untuk orang sepertimu.”
Judas terkekeh pelan. “Kau benar. Diam adalah hukuman terberat dalam hidupku. Kau berutang besar untuk lima menit ini, Nona.”
Ara tertawa kecil di sampingnya, dan sore itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan untuk bernapas.
Besoknya, di istana, perhitungan yang sesungguhnya dimulai.
Gustav Halvern datang dengan empat pengacara dan wajah orang yang merasa tidak tersentuh hukum. Dia bahkan tersenyum ketika memasuki ruangan, seolah undangan itu adalah undangan makan siang biasa.
“Pangeran Judas. Suatu kehormatan—”
“Duduk,” potong Judas, tanpa berdiri, tanpa senyum, tanpa basa-basi. Di atas meja di depannya sudah tertata dua benda: foto kerangka pengeboran bertuliskan HALVERN yang diangkat dari dasar laut, dan buku besar gelap dari kapal tanpa bendera itu. “Kita tidak akan bertukar sopan santun hari ini, Tuan Gustav. Kita akan bertukar bukti.”
Wajah Gustav berubah ketika matanya menangkap dua benda di atas meja itu. Hanya sekejap, tapi Judas menangkapnya lagi, seperti di rapat pertama dulu. Ketakutan yang ditutup-tutupi selalu punya bentuk yang sama di wajah orang-orang seperti Gustav Halvern.
“Saya tidak mengerti apa yang Pangeran maksud—”
“Kapal tanpa bendera. Kerangka pengeboran di dasar laut Monaghan. Alat pemetaan ilegal. Orang-orang bersenjata di perairan kerajaan. Dan sebuah buku besar yang mencatat semuanya, termasuk pembayaran untuk Karisma Offshore yang juga membiayai pembakaran pabrik makanan saya.” Judas menyebutkannya satu per satu dengan nada datar. “Pengacara-pengacaramu boleh mulai mencatat sekarang. Aku akan menunggu.”
Salah satu pengacara membuka mulutnya, tapi Gustav mengangkat tangan menghentikannya. Senyumnya kembali terpasang, lebih tipis kali ini, lebih hati-hati.
“Semua yang Pangeran sebutkan itu akan dengan mudah dibantah oleh tim hukum saya sebagai barang bukti hasil rekayasa. Foto bisa dipalsukan. Buku besar bisa dititipkan. Dan Karisma Offshore tidak punya hubungan hukum apa pun dengan Grup Halvern. Anda punya kecurigaan yang besar, Pangeran, tapi kecurigaan bukanlah bukti.”
“Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu persis, kata demi kata.” Judas menyandarkan punggung. “Maka dengarkan keputusan resmi kerajaan, karena ini tidak bisa dibantah oleh pengacara mana pun: mulai hari ini, Grup Halvern dicoret dari seluruh proses tender kelautan Monaghan. Semua aset Halvern di wilayah kerajaan dibekukan sambil menunggu penyelidikan. Dan semua pejabat istana yang terbukti menerima aliran dana dari perusahaanmu akan menghadapi pengadilan kerajaan untuk pengkhianatan.”
Gustav berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sudah tidak bisa lagi disebut tenang. “Anda sedang bermain dengan api, Pangeran. Ada orang-orang di kerajaan ini yang tidak akan tinggal diam melihat Anda menghancurkan hubungan bisnis yang sudah dibangun bertahun-tahun. Anda membuat musuh-musuh yang sangat kuat hari ini.”
“Bukan aku yang membuat mereka, Tuan Gustav.” Judas juga berdiri, dan tingginya yang menjulang membuatnya menatap ke bawah ke arah pria tua itu. “Mereka sudah menjadi musuhku sejak lama. Aku hanya yang pertama berani menyebut nama mereka keras-keras. Sekarang, keluar dari istana ini sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa buku besar itu cukup untuk menahanmu malam ini juga.”
Gustav pergi dengan langkah-langkah yang kaku, diikuti empat pengacaranya yang tidak berani bersuara. Judas menatap kepergiannya dari jendela, dan di sebelahnya, Josh menunggu dengan wajah yang sudah tahu bahwa pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.
“Dia akan berlari ke Baron sekarang,” ucap Judas.
“Orang-orang kita sudah menempel padanya sejak dia keluar dari gerbang, Tuan.”
“Bagus.” Judas menyeringai. “Kalau dia berlari cukup cepat, mungkin kita akhirnya bisa melihat wajah orang yang selama ini bersembunyi di balik punggungnya.”