Di sebuah ruangan gelap di lantai bawah tanah kediaman pribadi Baron, jauh di sisi lain kota, dua orang duduk berhadapan tanpa satu pun lampu yang menyala terang. Baron tidak pernah menyukai cahaya berlebih. Cahaya membuat wajah orang terlihat jelas, dan wajah yang terlihat jelas adalah wajah yang bisa diingat.
“Dia menyita kapalnya. Membekukan aset Halvern. Dan mencoret kita dari tender.” Gustav tidak lagi tersenyum seperti di istana. Tanpa saksi, wajahnya jauh lebih tua dan jauh lebih jelek. “Buku besar itu ada di tangannya, Baron. Buku besar yang mencatat pembayaran selama dua tahun. Kalau penyidik kerajaan cukup pintar membaca kode-kode di dalamnya, mereka akan sampai ke Anda.”
Baron mengetukkan tongkat emasnya ke lantai satu kali, pelan, suara yang membuat Gustav langsung bungkam. Pria tua itu duduk di kursinya dengan postur yang masih tegak meski usianya sudah jauh lewat enam puluh, dengan cincin besar di tangan kanannya yang berkilau samar dalam gelap.
“Penyidik kerajaan tidak akan sampai ke mana-mana,” ucap Baron dengan suara yang tenang, tenang yang menakutkan. “Kode-kode itu tidak berarti apa-apa tanpa saksi yang bisa menerjemahkannya. Dan saksi-saksi yang bisa menerjemahkannya sedang ditahan di fasilitas kerajaan sekarang, bukan? Nahkoda dan para pelaut dari kapal yang bodoh itu.”
Gustav menatapnya dengan tatapan yang mulai memahami arah pembicaraan ini. “Anda ingin mereka ... dibersihkan?”
“Aku ingin mereka tidak bisa berbicara. Ada banyak cara untuk itu, dan tidak semuanya memerlukan darah. Orang-orang yang cukup takut tidak perlu dibunuh untuk bungkam.” Baron berdiri dan berjalan ke dinding yang dipenuhi peta kerajaan Monaghan, dengan tongkat emasnya yang mengetuk-ngetuk lantai setiap langkahnya. “Masalah kita yang sebenarnya bukan para pelaut itu, Gustav. Masalah kita yang sebenarnya adalah Judas. Bocah kecil yang seharusnya mati di dalam mobil yang tenggelam itu. Dia tumbuh menjadi duri yang jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan.”
“Kita sudah mencoba menyelesaikannya dua kali. Dua kali gagal.”
“Karena kita menyerangnya dari arah yang salah.” Baron berbalik, dan seringainya di dalam gelap itu terlihat seperti seringai hewan tua yang sudah kehilangan giginya tapi belum kehilangan racunnya. “Judas tidak punya titik lemah selama bertahun-tahun. Tidak ada keluarga yang dia sayangi, tidak ada orang yang dia lindungi, tidak ada yang bisa kita tekan. Tapi sekarang dia punya satu. Sekarang dia berjalan ke mana-mana dengan seorang gadis di sampingnya seperti orang bodoh yang sedang jatuh cinta.”
“Gadis itu. Arandelle Tarrigan.”
“Aku ingin tahu segalanya tentang dia.” Baron mengetukkan tongkatnya lagi ke lantai. “Siapa dia, dari mana asalnya, kenapa Judas memilih dia dari semua wanita di dunia ini untuk berdiri di sampingnya di ruang rapat kerajaan. Kalau dia penting untuk Judas, maka dia adalah pintu masuk kita. Setiap benteng yang tidak bisa ditembus dari luar selalu punya satu pintu kecil yang terbuka dari dalam, Gustav. Selalu.”
“Nama Tarrigan itu ...” Gustav mengerutkan dahi, mencari sesuatu di ingatannya. “Aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Sebuah nama lama.”
“Kalau begitu gali. Gali sampai ke dasarnya.” Baron berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Gustav, sehingga wajah tua itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajah pengusaha itu. “Dan satu hal lagi. Mulai sekarang, tidak ada lagi kegiatan yang terlihat. Tidak ada kapal, tidak ada alat, tidak ada orang bersenjata. Kita berhenti total di permukaan dan bergerak penuh di bawahnya. Biarkan Judas merasa dia sudah menang. Orang yang merasa menang selalu menurunkan kewaspadaannya, dan saat itulah kita akan tahu segalanya tentang gadis kecilnya.”
“Dan tender Aurelian?”
“Biarkan saja tender itu berjalan. Biarkan Aurelian menang dan menghabiskan uang mereka untuk kajian-kajian lingkungan yang tidak berguna.” Baron tertawa kecil, tawa yang tidak menyenangkan. “Pada saat kajian mereka selesai dua tahun dari sekarang, kerajaan ini sudah punya raja yang baru. Dan raja yang baru tidak akan terikat pada tender yang dibuat oleh pemerintahan yang lama.”
Kalimat itu keluar begitu ringan dari mulut Baron, seolah dia sedang membicarakan cuaca. Tapi Gustav yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya berdiri, karena dia tahu betul bahwa pria tua di depannya ini tidak pernah mengucapkan kalimat kosong.
“Anda sudah merencanakan ... sejauh itu?”
“Aku sudah merencanakannya sejak hari bocah itu lahir, Gustav.” Baron kembali ke kursinya dengan langkah yang tidak tergesa-gesa. “Tahta itu seharusnya turun ke garis keluargaku ketika raja tua itu mati. Seharusnya. Tapi Elena melahirkan seorang anak laki-laki, dan semua perhitungan berubah dalam satu malam. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk membiarkan satu bocah playboy dan satu gadis pecinta laut merusak semuanya di detik-detik terakhir.”
Dia menyandarkan punggungnya dan menatap Gustav dengan tatapan yang membuat pengusaha itu ingin segera berdiri dan pergi.
“Kerjakan tugasmu, Gustav. Cari tahu segalanya tentang Arandelle Tarrigan. Dan kirim kabar kepada teman kita di dalam istana. Katakan padanya bahwa aku ingin tahu setiap pergerakan Ratu Moana, setiap jam, setiap hari. Wanita tua itu terlalu sehat akhir-akhir ini, dan kesehatan yang berlebihan selalu membuatku curiga.”
Baron berhenti sejenak, jarinya menelusuri ukiran di gagang tongkat emasnya. “Dan soal para pelaut yang ditahan kerajaan itu, terutama nahkodanya. Cari tahu di mana mereka disimpan dan siapa saja yang sudah menemui mereka. Aku tidak takut pada pelaut-pelaut kecil yang tidak tahu apa-apa. Tapi aku sangat tidak suka pada orang-orang yang tahu terlalu banyak dan mulai merasa ditinggalkan. Orang yang merasa ditinggalkan selalu mencari telinga baru untuk bicara, dan aku ingin tahu lebih dulu ke telinga siapa mereka akan bicara sebelum mereka sempat membuka mulut.”
“Akan saya urus,” jawab Gustav, dan dalam hatinya dia mencatat sekali lagi hal yang sudah lama dia pahami: orang-orang di sekitar Baron tidak pernah benar-benar aman, termasuk dirinya sendiri. Tapi keluar dari lingkaran ini jauh lebih berbahaya daripada bertahan di dalamnya, jadi dia mengangguk seperti biasa, seperti selalu, seperti orang-orang yang sudah terlalu dalam untuk berbalik.
Gustav mengangguk dan berdiri untuk pergi, tapi kalimat terakhir Baron menahannya di depan pintu.
“Oh, dan Gustav. Kalau penyelidikanmu tentang gadis itu menemukan sesuatu yang ... tidak biasa, sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang seharusnya tidak mungkin — jangan buang itu sebagai omong kosong. Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal yang ternyata benar. Aku sudah belajar itu sejak lama. Bawakan semuanya kepadaku, sekecil apa pun bentuknya.”
Pintu itu tertutup, dan Baron duduk sendirian lagi di ruangan gelapnya, dengan tongkat emas di tangannya dan peta kerajaan di dindingnya, dan matanya yang tua dan dingin itu menatap satu titik di peta itu lama sekali.
Titik kecil bernama Nemville. Titik kecil yang di dalamnya ada satu bocah yang seharusnya sudah mati dua kali.
‘Kesabaran, Baron,’ bisiknya kepada dirinya sendiri dalam gelap. ‘Semua yang baik datang kepada orang yang sabar. Termasuk mahkota.’