Judas datang ke rumah keluarga Tarrigan untuk pertama kalinya pada hari Minggu sore, tanpa pemberitahuan sebelumnya, dengan satu kotak kue dari toko kue terbaik di Nemville dan kepercayaan diri yang tidak pernah bisa diukur dengan alat ukur mana pun.
Yang membukakan pintu bukan Ara, melainkan Reagant.
Dua pria itu berdiri berhadapan di depan pintu selama beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit. Reagant sudah mengenal wajah Judas dari berita-berita, dari foto-foto di media, dari cerita-cerita yang tidak semuanya baik. Dan Judas sudah mengenal wajah Reagant dari laporan Josh yang sangat teliti, laporan yang sama yang memberitahunya bahwa kakak Ara ini pernah menyatakan niat untuk memukulnya.
“Tuan Reagant Tarrigan.” Judas menyodorkan kotak kuenya dengan senyum yang dia pasang setingkat lebih ramah dari biasanya. “Judas Ellington. Saya datang untuk menemui Ara, dan untuk memperkenalkan diri dengan benar kepada keluarganya. Kue ini bukan suap. Ini ... pembuka negosiasi.”
Reagant menatap kotak kue itu, lalu menatap wajah Judas, lalu menatap kotak kue itu lagi, seolah sedang menghitung berapa banyak masalah yang bisa disembunyikan di dalam sebuah kotak kue. “Ara tidak memberitahu saya bahwa Anda akan datang.”
“Karena saya tidak memberitahunya. Kejutan adalah satu-satunya senjata yang tersisa dalam hubungan kami, dan saya menjaganya baik-baik.”
Ada jeda hening yang canggung di depan pintu itu. Lalu suara Ara terdengar dari dalam rumah, dari arah tangga, dengan nada yang sudah penuh dengan kecurigaan.
“Kak, siapa di pintu—”
Ara muncul dari arah tangga dan berhenti di tengah-tengahnya ketika matanya menangkap sosok yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan kotak kue dan senyum pongahnya. Hari Minggu, dan dia sedang mengenakan pakaian rumah yang paling sederhana, rambut yang diikat seadanya, dan tanpa satu pun lapisan pertahanan yang biasa dia kenakan di luar rumah.
“Kau.” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.
“Aku.” Judas mengangkat kotak kuenya sedikit lebih tinggi. “Aku datang untuk bernegosiasi dengan kakakmu tentang hak berkunjung ke rumah ini. Sepertinya negosiasinya tidak berjalan dengan mulus sejauh ini.”
Reagant menatap adiknya dengan tatapan yang mengandung pertanyaan besar, dan Ara menuruni sisa tangga dengan wajah yang sudah memerah sampai ke telinga.
“Kak, ini Judas. Jud, ini kakakku, Reagant. Sekarang kita sudah saling mengenal, jadi urusan perkenalan selesai dan kau bisa pulang.”
“Belum bisa, Nona. Aku sudah membawa kue dari toko terbaik di kota. Peraturan tidak tertulis di seluruh benua mengatakan bahwa tamu yang membawa kue tidak boleh diusir sebelum kuenya dicicipi.” Judas melirik Reagant. “Benar, Tuan Reagant?”
Reagant menatap dua orang itu bergantian — adiknya yang memerah dengan cara yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya, dan konglomerat muda paling berbahaya di Monaghan yang berdiri di depan pintunya dengan kotak kue seperti anak SMA yang datang berkencan — dan untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal dari gambaran besar yang selama ini dia susun tentang Judas Ellington.
“Masuklah,” ucapnya akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Tapi kita akan berbicara di ruang tengah, dan saya akan duduk di sana sepanjang waktu.”
“Tentu saja. Saya justru berharap begitu.”
Sore itu berjalan jauh lebih aneh dari yang dibayangkan siapa pun. Judas duduk di ruang tengah keluarga Tarrigan dengan sopan santun yang bahkan membuat Ara harus menatapnya dua kali untuk memastikan dia adalah orang yang sama yang mengancam akan menyobek mulutnya di malam pertama mereka bertemu. Dia menjawab semua pertanyaan Reagant dengan jujur — tentang bisnisnya, tentang kasinonya, tentang posisinya di kerajaan — tanpa menutup-nutupi bagian-bagian yang tidak indah, dan hanya melewatkan bagian-bagian yang berhubungan dengan ruang hitam, serigala, dan hal-hal yang sebaiknya tidak dibicarakan di depan kue.
“Jadi, Tuan Judas,” ucap Reagant setelah satu jam percakapan yang melelahkan, “apa sebenarnya hubungan Anda dengan adik saya? Karena saya sudah mendengar versi ‘teman diskusi’ dan saya tidak membelinya.”
Ruangan itu hening sejenak. Ara membeku dengan cangkir tehnya di tengah jalan ke mulutnya.
“Hubungan kami adalah tim kerja untuk urusan kelautan kerajaan,” jawab Judas, lalu setelah jeda yang disengajakan, dia menambahkan dengan nada yang sangat tenang, “untuk sekarang.”
Dua kata terakhir itu jatuh ke tengah ruangan seperti batu ke kolam yang tenang. Reagant memicingkan matanya. Ara tersedak tehnya.
“Untuk sekarang,” ulang Reagant datar.
“Saya orang yang percaya pada kejujuran, Tuan Reagant. Dan jujurnya, saya sedang berusaha menjadi lebih dari sekadar rekan satu tim untuk adik Anda. Tapi dia menyulitkan saya dengan cara yang bahkan musuh-musuh bisnis saya tidak pernah sanggup melakukannya.” Judas mengangkat cangkir tehnya dengan tenang, seolah dia sedang membicarakan cuaca. “Saya datang hari ini bukan untuk meminta izin, karena Ara bukan milik siapa-siapa yang izinnya bisa diminta. Saya datang untuk memberitahu, dengan hormat, bahwa niat saya serius, dan bahwa saya bukan orang yang perlu Anda khawatirkan di dekat adik Anda.”
Reagant menatapnya lama sekali. Sangat lama. Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Ara: dia tertawa. Tawa lepas yang bahkan membuat istrinya mengintip dari tangga dengan wajah penasaran.
“Anda tahu, Tuan Judas, saya sudah menyiapkan satu minggu penuh kalimat-kalimat untuk mengusir Anda dari rumah ini,” ucap Reagant, masih dengan sisa tawanya. “Tapi Anda baru saja mengatakan satu hal yang tidak pernah saya dengar dari mulut orang-orang seperti Anda. Anda bilang Ara bukan milik siapa-siapa yang izinnya bisa diminta. Dan untuk itu saja, Anda boleh datang lagi. Sesekali. Dengan pemberitahuan sebelumnya.”
“Itu bukan kemenangan penuh, tapi saya akan mengambilnya.” Judas tersenyum.
Di beranda belakang, ketika Reagant kembali ke dalam untuk menemani istrinya, Ara menatap Judas dengan tatapan yang campuran antara marah dan sesuatu yang lain yang dia sendiri tidak berani beri nama.
“Untuk sekarang,” ucapnya, meniru nada Judas tadi. “Kau sengaja datang ke rumahku tanpa pemberitahuan hanya untuk mengatakan itu di depan kakakku?”
“Aku sengaja datang ke rumahmu karena aku ingin melihat di mana kau tinggal, dan karena aku ingin kakakmu tahu bahwa aku tidak menyembunyikan apa-apa.” Judas berdiri di sampingnya di beranda itu, menatap taman belakang yang mulai gelap. “Dan soal ‘untuk sekarang’ itu, Ara. Aku tidak mengatakan apa-apa yang tidak benar. Kau boleh menyangkalnya di depan siapa pun yang kau mau, tapi jangan di depanku. Kita berdua sudah melewati terlalu banyak hal untuk berpura-pura bahwa ini hanya tentang laut.”
Ara tidak menjawab. Dia berdiri di sampingnya dalam keheningan yang panjang, dengan angin sore yang menggerakkan ujung-ujung rambut pirangnya, dengan kalung liontin kerang perak yang berkilau samar di lehernya, dan dengan satu pertanyaan besar di dadanya yang sudah berhari-hari tidak mau pergi: kapan tepatnya orang ini berhenti menjadi orang yang paling menyebalkan dalam hidupnya dan berubah menjadi orang yang paling dia tunggu kabarnya setiap hari?
“Kau tidak akan pernah berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, ya,” ucapnya akhirnya, hampir berbisik.
“Tidak akan pernah,” jawab Judas. “Tapi kau tidak perlu menjawabnya hari ini. Atau besok. Aku orang yang sangat sabar untuk hal-hal yang benar-benar aku inginkan, Ara. Sangat, sangat sabar.”
Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan oleh Ara, janji tentang kesabaran itu terasa jauh lebih berbahaya bagi pertahanannya daripada semua kata-kata genit yang pernah keluar dari mulut Judas Ellington.