Nahkoda kapal tanpa bendera itu bernama Drey, pria berusia lima puluhan dengan wajah yang sudah dibentuk oleh tiga puluh tahun kehidupan di laut. Seminggu ditahan di fasilitas kerajaan sudah cukup untuk mengajarinya bahwa tidak ada seorang pun yang akan datang untuk menyelamatkannya. Halvern sudah melepaskannya seperti orang melepaskan peralatan yang rusak. Baron bahkan tidak pernah tahu namanya.
Judas tahu semua itu sebelum dia masuk ke ruangan interogasi. Dan dia menggunakan semuanya, satu per satu, dengan ketelitian seorang ahli bedah.
“Mereka sudah melupakanmu, Drey,” ucap Judas, duduk di kursi di seberang meja besi tempat nahkoda itu dirantai. “Sembilan hari, dan tidak ada satu pun pengacara yang datang untukmu. Tidak ada satu pun pesan dari Halvern. Kau bukan orang mereka. Kau hanya peralatan mereka, dan peralatan yang tertangkap selalu dibuang.”
Drey menatapnya dengan mata yang lelah tapi masih keras. “Kalau Anda datang untuk membuatku bicara dengan cara yang sama yang sudah dicoba penyidik-penyidik Anda, Anda membuang waktu Anda, Pangeran. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya pelaut.”
“Aku tidak datang untuk membuatmu bicara tentang kapal itu. Kapal itu sudah selesai urusannya.” Judas meletakkan sebuah foto di atas meja di antara mereka dan mendorongnya ke arah Drey. Foto halaman kontrak lama dari buku besar gelap itu. “Aku datang untuk membuatmu bicara tentang ini. Perairan Osmod. Enam belas tahun yang lalu.”
Wajah Drey berubah. Perubahan itu kecil, hanya sedikit pengerasan di sekitar matanya, tapi Judas menangkapnya seperti dia selalu menangkapnya. Pria tua itu mengenal kontrak ini. Bukan sekadar mengenal — mengenal dengan cara yang membuat tangannya tanpa sadar bergerak ke atas meja sebelum dia menahannya.
“Kau ada di sana,” ucap Judas, bukan bertanya.
Drey tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ruangan itu hanya diisi oleh suara napas dua orang dan dengung lampu neon di atas mereka.
“Lima belas tahun saya bekerja untuk Halvern,” ucapnya akhirnya dengan suara yang serak. “Dan saya akan mengatakan satu hal kepada Anda, Pangeran, bukan karena takut, tapi karena saya sudah terlalu tua untuk mati demi orang-orang yang bahkan tidak menganggap saya manusia. Saya memang ada di sana. Di perairan Osmod. Di kapal yang menjalankan kontrak itu.”
Judas mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit. “Ceritakan semuanya.”
“Operasi sederhana pada masa itu. Barang-barang dipindahkan dari kapal ke kapal di tengah laut, jauh dari mata patroli. Rokok, senjata, apa pun yang menghasilkan uang tanpa dokumen. Saya bukan orang yang memutuskan apa-apa. Saya hanya mengemudikan kapal dan memastikan barang sampai ke titik yang ditentukan.” Drey menatap ke bawah, ke tangannya yang dirantai. “Tapi ada satu malam yang tidak pernah bisa saya lupakan. Malam ketika ada perintah khusus yang datang bukan dari kapten saya, tapi dari jauh lebih tinggi.”
“Perintah apa?”
“Ada sepasang suami istri di daratan yang memotret kapal-kapal kami dari tebing. Salah satu pengawas kami menangkap mereka dengan kamera mereka sendiri, dan foto itu dikirim ke atas. Beberapa hari kemudian, perintahnya turun: urus mereka. Bukan cegah mereka. Bukan ambil fotonya. Urus mereka.” Drey menelan ludah dengan kasar. “Saya tidak ikut melakukannya. Saya bahkan tidak tahu bagaimana mereka melakukannya. Tapi beberapa hari kemudian, saya membaca di berita bahwa sepasang suami istri mati dalam kecelakaan mobil di jalan pegunungan Osmod. Dan semua orang di kapal kami berhenti membicarakannya, karena semua orang sudah tahu jawabannya tanpa perlu bertanya.”
Judas duduk diam di kursinya. Di belakang kaca satu arah di sisi ruangan itu, dia tahu ada dua orang yang sedang menyaksikan interogasi ini: Josh, dan Ara. Ara yang bersikeras untuk hadir, yang berdiri di balik kaca itu sekarang, mendengarkan seorang pria tua menceritakan malam-malam terakhir dalam kehidupan kedua orang tuanya.
“Siapa yang menurunkan perintah itu, Drey?” tanya Judas dengan suara yang tetap datar, tetap terkendali, karena dia tahu bahwa jawaban berikutnya adalah jawaban yang paling penting dari semuanya.
“Perintah itu datang lewat jalur yang tidak pernah kami tanyakan. Tapi orang-orang di kapal berbisik, dan bisikan di kapal selalu benar pada akhirnya.” Drey mengangkat wajahnya dan menatap Judas langsung untuk pertama kalinya. “Perintah itu tidak datang dari Halvern, Pangeran. Halvern hanya menjalankannya. Perintah itu datang dari seseorang di dalam istana Osmod. Seseorang yang berkuasa cukup besar untuk membuat sebuah kecelakaan terlihat seperti kecelakaan, dan untuk membuat kasusnya ditutup selamanya tanpa satu pun pertanyaan. Itu sebabnya tidak ada yang pernah diselidiki. Itu sebabnya tidak ada yang pernah dihukum. Orang yang seharusnya menyelidikinya adalah orang yang sama yang memerintahkannya.”
Judas menutup matanya sejenak.
Istana Osmod. Bukan hanya Halvern. Seseorang di dalam istana Kerajaan Osmod sendiri, kerajaan kakek Ara, kerajaan yang mencoret ibu Ara dari keluarganya karena menikahi rakyat biasa.
Semua kepingan itu jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang dingin dan mengerikan. Ibu Ara dicoret dari keluarga kerajaan, menikah dengan rakyat biasa, hidup sederhana di pinggiran Osmod. Dan ketika suaminya memotret kegiatan ilegal di perairan kerajaan, seseorang di dalam istana — seseorang yang masih menganggap keluarga yang dicoret itu sebagai aib yang harus dihapus — tidak hanya membiarkan mereka dibunuh, tapi memerintahkannya.
“Nama,” ucap Judas. “Kau punya nama?”
“Tidak ada nama. Hanya bisikan. Tapi bisikan itu menyebut satu hal yang sama berulang kali: bahwa di istana Osmod, ada orang yang selama bertahun-tahun menjalankan bisnis gelap dengan Halvern, dan bahwa orang itu sangat dekat dengan takhta.” Drey menggeleng pelan. “Itu semua yang saya tahu, Pangeran. Dan saya mengatakannya karena saya sudah muak menyimpannya. Sepasang suami istri yang tidak bersalah mati karena sebuah foto, dan saya menghabiskan enam belas tahun berlayar dengan bayangan mereka di setiap tebing yang saya lewati.”
Judas berdiri dari kursinya. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Drey. Dia berjalan keluar ruangan interogasi, menembus lorong, dan berhenti di depan pintu ruang pengamatan di sebelahnya. Dia berdiri di sana selama dua detik penuh sebelum membuka pintunya, mengumpulkan setiap kekuatan yang dia miliki untuk menghadapi apa yang menunggu di dalamnya.
Ara berdiri di balik kaca satu arah itu dengan kedua tangan menempel di kacanya, dengan air mata yang sudah mengalir turun ke pipinya tanpa suara, dengan Josh berdiri di belakangnya dengan wajah yang tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak meratap. Dia tidak berteriak. Dia hanya berdiri di sana dengan air mata yang mengalir dan rahang yang mengetat, mendengarkan pintu yang terbuka di belakangnya.
“Ara.”
Dia tidak berbalik. “Kau dengar itu semua, Jud.”
“Aku mendengarnya.”
“Seseorang di dalam istana Osmod. Seseorang yang berbagi darah yang sama denganku.” Suaranya pecah di tengah kalimat, hanya sedikit, hanya sekejap, sebelum dia mengendalikannya kembali. “Kakekku sendiri yang mencoret ibuku dari keluarganya. Dan seseorang di istana itu, di istana yang sama, memerintahkan kematiannya enam belas tahun kemudian karena sebuah foto.”
Judas berdiri di sampingnya di depan kaca itu, menatap ruang interogasi yang kosong di baliknya, dan mengucapkan satu-satunya hal yang pantas diucapkan pada saat seperti itu.
“Kita akan menemukan orangnya, Ara. Dan dia akan membayar untuk setiap tahun yang sudah kau lalui tanpa mereka.”
Ara akhirnya berbalik dan menatapnya, dan mata yang basah itu menatapnya dengan tatapan yang tidak Judas kenali. Bukan tatapan sedih. Bukan tatapan marah. Tapi tatapan seseorang yang sedang berdiri di depan satu-satunya jalan yang tersisa dan sudah memutuskan untuk menjalaninya sampai ke ujung.
“Kalau begitu, bawa aku ke Osmod, Jud,” ucapnya. “Aku ingin pulang ke kerajaan yang membunuh keluargaku. Dan aku ingin melihat wajah-wajah mereka ketika aku berdiri di depan pintu istana itu dan mengatakan bahwa aku adalah anak dari putri yang mereka coret dan mereka bunuh.”