Keputusan untuk pergi ke Osmod tidak diambil dalam satu malam. Judas mengetuk pintu istana neneknya dua hari kemudian, dengan dua buku besar gelap di tangannya dan satu rencana di kepalanya yang sudah dia susun sampai ke detail terkecilnya.
Ratu Moana mendengarkan semuanya tanpa menyela. Kesaksian Drey. Kontrak lama di perairan Osmod. Perintah pembunuhan yang datang dari dalam istana Kerajaan Osmod sendiri. Dan permintaan Ara untuk berdiri di depan pintu istana kakeknya sendiri.
Wanita tua itu duduk diam untuk waktu yang lama setelah Judas selesai, dengan jari-jarinya yang bertaut di atas meja, dengan matanya yang menatap jauh ke suatu tempat di luar jendela.
“Aku mengenal ibunya,” ucapnya akhirnya, mengulang kalimat yang pernah dia ucapkan di makan malam mereka dulu. “Putri Sarella dari Osmod. Aku bertemu dengannya beberapa kali di acara-acara resmi kerajaan, sebelum dia dicoret dari keluarganya. Gadis yang cerdas dan berani, terlalu cerdas dan terlalu berani untuk istana yang kaku seperti Osmod. Semua orang tahu bahwa pencoretan itu bukan keputusan Canis Major semata. Raja tua itu mencintai putrinya, Jud. Dia mencoretnya karena orang-orang di sekeliling takhtanya memaksanya, orang-orang yang tidak tahan melihat darah kerajaan bercampur dengan rakyat biasa.”
“Dan orang-orang yang sama itu yang memerintahkan kematiannya enam belas tahun yang lalu,” ucap Judas.
“Mungkin. Atau orang-orang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan bisnis mereka sendiri.” Ratu Moana menatap cucunya lurus-lurus. “Tapi dengarkan aku baik-baik, Jud. Kau tidak bisa berjalan ke Osmod dengan buku besar gelap dan tuduhan pembunuhan di tangan. Osmod bukan wilayah Monaghan. Canis Major bisa menganggap itu sebagai tuduhan terhadap kedaulatan kerajaannya, dan satu langkah yang salah bisa berubah menjadi krisis dua kerajaan.”
“Aku tahu. Karena itu aku tidak akan pergi sebagai penuduh, Nek. Aku akan pergi sebagai mitra bisnis.” Judas membuka map yang sudah dia siapkan. “Monaghan akan mengundang Osmod untuk bergabung dalam tender kelautan internasional yang sedang kami buka. Kerjasama lintas perairan, pembagian zona eksplorasi bersama, kajian lingkungan gabungan. Tawaran yang terlalu bagus untuk ditolak oleh kerajaan mana pun, termasuk kerajaan yang paling curiga sekalipun. Dan aku akan membawanya sendiri ke sana sebagai perwakilan resmi kerajaan Monaghan.”
Ratu Moana mengangkat satu alisnya. “Perwakilan resmi kerajaan. Kamu. Yang selama sepuluh tahun menolak setiap jabatan resmi yang pernah aku tawarkan.”
“Orang berubah, Nek. Kau sudah mengatakannya sendiri.” Judas tersenyum kecil. “Dan aku tidak akan pergi sendirian. Aku akan membawa penasihat kelautanku. Nona Arandelle Tarrigan. Yang namanya, aku yakin, akan menimbulkan banyak sekali pertanyaan di istana Osmod begitu protokol mereka membacanya di daftar delegasi resmi.”
Ratu Moana tertawa, tawa yang penuh dengan pengakuan akan kecerdikan cucunya. “Kau ingin melempar batu ke sarang ular dan melihat ular mana yang keluar lebih dulu.”
“Aku ingin melihat siapa yang pucat ketika nama Tarrigan dibacakan di aula istana Osmod, Nek. Orang yang memerintahkan kematian Sarella akan mengenali nama itu sebelum orang lain sempat membacanya dua kali.”
Sang ratu mengangguk pelan, lalu wajahnya berubah menjadi lebih serius. “Ada satu hal yang harus kamu pahami sebelum pergi, Jud. Canis Major adalah raja yang sudah sangat tua, tapi dia bukan orang bodoh. Kalau ada bisnis gelap yang berjalan di perairannya selama bertahun-tahun tanpa sepengetahuannya, dia akan marah. Tapi kalau bisnis itu berjalan dengan sepengetahuannya ...”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak perlu.
“Maka kita akan mencari tahu yang mana dari dua itu yang benar,” jawab Judas. “Dan Ara berhak mendapatkan jawabannya dari mulut kakeknya sendiri, apa pun jawabannya.”
Malam itu, Judas menyampaikan rencana itu kepada Ara di beranda belakang rumah keluarga Tarrigan, di tempat yang sama di mana dia menyatakan ‘untuk sekarang’ beberapa hari sebelumnya. Ara mendengarkannya dalam keheningan yang panjang, dengan kalung liontin kerang perak di lehernya, dengan buku harian ibunya di tangannya yang sudah tidak pernah jauh dari jangkauannya akhir-akhir ini.
“Delegasi resmi kerajaan Monaghan,” ulangnya pelan. “Kau akan membawaku ke istana yang mencoret ibuku, sebagai tamu resmi, dengan pengawal dan protokol kerajaan.”
“Sebagai penasihat kelautan kerajaan Monaghan. Dengan seluruh hormat yang pantas diberikan kepada seorang pejabat kerajaan. Mereka akan membukakan pintu untuk delegasi, Ara. Mereka tidak punya pilihan. Dan begitu pintu itu terbuka, kau akan berdiri di dalamnya sebagai Nona Arandelle Tarrigan, cucu dari raja mereka, anak dari putri yang mereka coret — dan mereka harus menatapmu tanpa bisa melakukan apa-apa.”
Ara menatap ke arah taman yang gelap untuk waktu yang lama.
“Selama enam belas tahun, aku membayangkan bagaimana rasanya berdiri di depan pintu istana itu,” ucapnya akhirnya. “Dalam bayanganku, aku selalu datang sendirian. Dengan buku harian ini di tangan dan dengan amarah yang tidak punya arah. Aku tidak pernah membayangkan datang ke sana dengan sebuah kerajaan lain di belakangku.” Dia menoleh dan menatap Judas. “Kenapa kau melakukan semua ini, Jud? Sungguhan. Bukan jawaban genitmu yang biasa. Kenapa?”
Judas menatapnya, dan untuk beberapa detik dia diam, menimbang antara jawaban yang aman dan jawaban yang benar. Dia memilih jawaban yang benar, seperti yang selalu dia pilih ketika menghadapi gadis ini, karena Ara adalah satu-satunya manusia di dunia yang tidak pernah bisa dia bohongi dengan jawaban yang aman.
“Karena sembilan belas tahun yang lalu, ada seorang anak kecil yang menemukan ibunya mati karena pengkhianatan orang-orang terdekatnya, dan tidak ada satu pun orang dewasa di dunia ini yang berdiri di sampingnya dan membantunya mencari keadilan. Anak itu menyelesaikan semuanya sendiri, dengan caranya sendiri, dengan dua nyawa di tangannya dan satu jiwa yang tidak pernah utuh lagi.” Judas menatapnya tanpa berkedip. “Aku tidak akan membiarkan anak lain menempuh jalan yang sama, Ara. Tidak kalau aku bisa berdiri di sampingnya dan memastikan kali ini keadilan datang dengan cara yang benar, dengan bukti yang benar, dengan sebuah kerajaan penuh di belakangnya. Itu jawabanku. Dan itu bukan jawaban genit.”
Ara menatapnya lama sekali, dengan angin malam yang bergerak di antara mereka, dengan bulan yang tergantung di atas taman belakang itu seperti seseorang yang sedang menyimak pembicaraan dua orang ini.
“Kalau begitu, kita berangkat,” ucapnya akhirnya dengan suara yang sudah kembali tegas, suara Arandelle Tarrigan yang sudah Judas kenal. “Tapi dengan satu syarat, Jud.”
“Sebutkan.”
“Kalau kita menemukan orangnya, orang yang memerintahkan kematian orang tuaku, kau tidak akan turun tangan sebelum aku selesai berbicara dengannya. Aku ingin melihat matanya ketika aku mengatakan siapa aku. Aku ingin dia tahu persis siapa yang datang untuk menagihnya, dan aku ingin dia mendengarnya dari mulutku sendiri, bukan dari surat, bukan dari pengadilan, bukan dari orang lain.”
Judas menatapnya, dan dalam tatapan gadis itu dia melihat sesuatu yang dia kenali dengan sangat baik, sesuatu yang pernah hidup di dalam dirinya sendiri sejak dia berusia sembilan tahun. Api yang tidak padam oleh waktu. Api yang hanya bisa dipadamkan oleh satu hal saja.
“Kau punya kata-kataku untuk itu,” jawabnya. “Dengan kata-kata. Resmi.”
Dan di beranda belakang rumah keluarga Tarrigan itu, di bawah bulan yang menyimak, dua orang yang sama-sama dibentuk oleh kehilangan itu berdiri berdampingan menatap ke arah yang sama — ke arah timur, ke arah kerajaan Osmod yang menunggu dengan pintu istananya dan rahasia-rahasia yang sudah enam belas tahun terkubur di perairannya.
Perjalanan itu akan dimulai dalam satu minggu.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di Osmod, di dalam istana tua itu, seseorang sudah mulai bergerak lebih dulu, jauh sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di gerbangnya.