Pesawat kerajaan Monaghan mendarat di ibu kota Osmod menjelang tengah hari, di landasan khusus yang diperuntukkan bagi tamu-tamu kenegaraan. Judas turun dari pesawat dengan setelan resmi yang jarang dia kenakan, diikuti oleh Ara dengan pakaian kerja yang sederhana tapi pantas, dan Josh dengan dua koper dokumen yang salah satunya berisi buku besar gelap yang tidak akan pernah lepas dari jangkauan tangannya.
Osmod menyambut mereka dengan langit yang kelabu dan angin yang lebih dingin dari Nemville. Kota tua itu berdiri di atas tebing-tebing batu yang langsung menghadap ke laut, dengan istana kerajaan bertengger di titik tertingginya seperti hewan tua yang sudah terlalu lelah untuk turun, tapi terlalu bangga untuk mati.
Ara turun dari pesawat dan berdiri diam sejenak di atas landasan itu, menatap kota kelahirannya setelah bertahun-tahun. Judas berhenti di sampingnya tanpa mengatakan apa-apa. Dia sudah belajar bahwa ada saat-saat ketika kata-kata yang paling tepat adalah tidak ada kata-kata sama sekali.
“Aku terakhir melihat kota ini dari dalam mobil yang membawaku pergi setelah pemakaman mereka,” ucap Ara pelan. “Aku berusia lima tahun. Aku bahkan tidak sempat melihat ke belakang.”
“Kalau begitu, lihatlah sekarang,” jawab Judas. “Lihat baik-baik. Karena kali ini kau tidak datang untuk dibawa pergi. Kau datang untuk menagih.”
Delegasi itu disambut di gerbang istana oleh barisan protokol kerajaan Osmod dengan segala kemegahan yang bisa dipasang dalam waktu seminggu. Penjaga-penjaga berseragam berdiri berjajar di dua sisi tangga utama, panji-panji kerajaan berkibar di atas gerbang, dan seorang pejabat protokol senior membaca daftar delegasi resmi dengan suara yang dilatih untuk terdengar megah.
“Yang Mulia, Pangeran Judas Ellington, pewaris takhta kerajaan Monaghan, perwakilan resmi untuk kerjasama kelautan lintas kerajaan.”
Judas melangkah maju dan membungkuk sesuai protokol, disambut oleh anggukan hormat seluruh barisan.
“Sekretaris delegasi, Tuan Josh Wiberg.”
Josh membungkuk.
“Penasihat kelautan delegasi kerajaan Monaghan ...” Pejabat protokol itu berhenti sejenak, matanya turun kembali ke daftar di tangannya, seolah ingin memastikan dia tidak salah membaca. “... Nona Arandelle Tarrigan.”
Nama itu jatuh ke tengah gerbang istana Osmod seperti batu ke dalam air yang tenang.
Ara melihatnya semua dari tempatnya berdiri. Melihat bagaimana dua penjaga di barisan depan tanpa sadar menoleh ke arah teman-temannya. Melihat bagaimana seorang pelayan tua yang sedang membawa nampan di sisi gerbang berhenti di tengah langkahnya dengan mata yang membelalak. Melihat bagaimana pejabat protokol itu sendiri harus berdeham dua kali sebelum melanjutkan tugasnya dengan suara yang tidak lagi stabil.
Dan di barisan pejabat yang menyambut, di posisi paling depan, seorang pria tua dengan jubah panjang berwarna gelap dan tongkat berujung perak tidak bergerak sedikit pun. Tidak menoleh, tidak membelalak, tidak berdeham. Hanya menatap lurus ke arah Ara dengan tatapan yang datar dan panjang, tatapan orang yang sudah mengetahui nama itu jauh sebelum nama itu dibacakan, dan yang sudah memutuskan sejak lama untuk tidak menunjukkan apa pun ketika nama itu akhirnya tiba.
Judas melihatnya juga. Dan dia mencatatnya baik-baik.
“Selamat datang di Kerajaan Osmod, Pangeran Judas.” Pria tua berjubah gelap itu melangkah maju dan membungkuk dengan gerakan yang sempurna, terlalu sempurna, seperti gerakan yang sudah dilatih di depan cermin. “Saya Lord Kanzel, penasihat utama Yang Mulia Raja Canis Major. Baginda raja sedang kurang sehat beberapa hari ini dan berhalangan menyambut langsung, jadi beliau memerintahkan saya untuk memastikan delegasi Monaghan menerima semua yang diperlukan selama kunjungan ini.”
“Kerajaan Monaghan berterima kasih atas sambutannya, Lord Kanzel,” jawab Judas dengan senyum resminya. “Kami datang membawa tawaran yang akan mengubah masa depan perairan kedua kerajaan. Kami berharap baginda raja segera pulih, karena tawaran ini layak didengar langsung oleh beliau.”
“Tentu saja. Baginda akan menerima delegasi besok pagi di aula utama.” Mata Lord Kanzel bergeser, perlahan dan terukur, ke arah Ara. Hanya satu detik, tidak lebih. “Dan kerajaan Osmod juga menyambut ... seluruh anggota delegasi. Tanpa terkecuali.”
Jeda kecil di tengah kalimat itu tidak luput dari siapa pun yang sedang memperhatikan.
Mereka diantar ke sayap tamu istana melalui lorong-lorong tua yang dipenuhi lukisan raja-raja Osmod dari masa ke masa. Ara berjalan di tengah-tengahnya dengan punggung tegak dan tatapan lurus ke depan, tapi Judas yang berjalan di sampingnya bisa melihat tangannya yang sesekali menyentuh liontin kerang perak di lehernya, gerakan kecil yang sudah dia kenali sebagai cara gadis itu memegang sesuatu yang tidak bisa dipegangnya lagi.
“Kau melihatnya?” bisik Judas, tanpa menoleh, tanpa mengubah irama langkahnya.
“Lord Kanzel,” bisik Ara balik. “Dia satu-satunya yang tidak bereaksi ketika namaku dibacakan. Semua orang bereaksi. Penjaga, pelayan, bahkan pejabat protokolnya sendiri. Semua orang kecuali dia.”
“Orang yang tidak bereaksi terhadap kejutan adalah orang yang sudah mengetahui isi kejutannya sejak awal,” ucap Judas pelan. “Dia tahu kau akan datang, Ara. Pertanyaannya bukan lagi apakah dia tahu. Pertanyaannya adalah sejak kapan dia tahu, dan dari siapa dia mendengarnya.”
Kamar-kamar tamu di sayap timur istana itu megah dan dingin, dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke laut Osmod yang kelabu. Ara berdiri di jendela kamarnya untuk waktu yang lama setelah para pelayan pergi, menatap laut yang sama yang dulu dia tatap dari jendela kamar kecilnya di rumah pinggiran kota, di kehidupan yang lain, di dunia yang lain.
Laut ini yang membesarkannya. Laut ini juga yang menelan ayah dan ibunya.
Di kamarnya sendiri, tiga pintu dari kamar Ara, Judas berdiri di jendela yang menghadap ke arah yang sama sambil mendengarkan laporan Josh lewat telepon. Kabar dari Monaghan: aset Halvern sudah sepenuhnya dibekukan, Gustav tidak terlihat di mana pun sejak dua hari, dan Baron tidak bergerak sama sekali dari kediamannya — terlalu diam, menurut Josh, dan Josh tidak pernah menyukai orang-orang yang terlalu diam. Judas menyetujui penilaian itu. Ular yang tidak bergerak bukanlah ular yang mati. Ular yang tidak bergerak sedang memilih sudut terbaik untuk mematuk.
“Tambah orang di sekitar Ratu Moana,” perintahnya sebelum menutup telepon. “Dua kali lipat. Dan jangan ada yang tahu kecuali orang-orang kita sendiri.”
Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Judas, dari kamar di ujung lorong.
[Jangan keluar kamar sendirian. Bukan perintah. Permintaan. Dan satu lagi: selamat datang di rumah, Nona. Meskipun rumahnya tidak pantas mendapatkanmu.]
Ara menatap pesan itu dan membiarkan dirinya tersenyum kecil di kamar asing itu, di istana yang enam belas tahun lalu memerintahkan kematian keluarganya.
Besok pagi, dia akan berdiri di aula utama istana ini sebagai anggota resmi delegasi kerajaan lain. Besok pagi, nama Tarrigan akan bergema di ruangan yang enam belas tahun lalu memutuskan untuk menghapusnya dari segala catatan.
Dan besok pagi, dia akan mencari tahu wajah mana yang paling tidak sanggup menatapnya ketika nama itu bergema.