Sebelum matahari terbit keesokan harinya, Ara sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Dia mengetuk pintu kamar Judas di ujung lorong, dan ketika pria itu membuka pintu dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang langsung waspada, dia hanya mengucapkan satu kalimat.
“Bawa aku ke rumah lamaku. Sekarang. Sebelum ada yang tahu kita pergi.”
Judas tidak bertanya. Dia tidak pernah bertanya ketika nada suara Ara sudah terdengar seperti itu. Sepuluh menit kemudian, mereka meluncur keluar dari istana dengan satu mobil, menuju pinggiran kota di mana sebuah rumah kecil pernah berdiri di atas tebing yang menghadap ke laut.
Rumah itu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah fondasi tua yang ditumbuhi rumput liar dan sebuah sumur batu yang masih bertahan di sudutnya, seperti satu-satunya saksi yang menolak untuk pergi. Ara berdiri di tengah-tengah sisa fondasi itu dengan angin laut yang mengibaskan rambut pirangnya, dan untuk waktu yang lama dia tidak mengatakan apa-apa.
“Aku hampir tidak mengingat apa-apa tentang rumah ini,” ucapnya akhirnya. “Tapi aku mengingat sumur itu. Aku ingat ayahku mengangkatku dan mendudukkanku di bibirnya dan berkata bahwa sumur ini lebih tua dari kakeknya, dan akan tetap ada di sini lebih lama dari kita semua. Ternyata dia benar.”
Judas menyaksikan gadis itu berlutut di samping sumur tua dan menyentuh batu-batu pinggirnya dengan ujung jarinya, seperti orang yang sedang membaca huruf braille dari masa lalunya sendiri.
“Tebing itu,” ucap Ara tiba-tiba, menoleh ke arah sisi timur, ke arah tebing batu yang menjulang lebih tinggi di kejauhan. “Itu tebing tempat ayahku memotret kapal-kapal mereka. Buku harian ibuku bilang dia memotretnya dari tebing. Pasti tebing itu. Dari sana, seluruh teluk terlihat jelas.”
Mereka berjalan ke arah tebing itu, mendaki jalur berbatu yang sudah tidak terawat, sampai ke puncaknya yang terbuka. Dan dari atas sana, pemandangan itu terbentang persis seperti yang digambarkan di buku harian ibunya: teluk kecil yang terlindung, jalur air yang dalam dan tenang, sempurna untuk kapal-kapal yang ingin bertemu di tengah laut tanpa terlihat dari pelabuhan resmi mana pun.
“Dari sini, dengan kamera yang cukup bagus, kau bisa melihat lambung setiap kapal yang masuk ke teluk ini,” ucap Judas, mengukur jarak pandang dengan matanya. “Ayahmu memilih titik yang sempurna. Titik yang sama yang akan kupilih.”
“Dan dari sini juga, orang-orang di kapal itu bisa melihatnya berdiri dengan kameranya,” tambah Ara pelan. “Dia tidak menyadari bahwa titik yang sempurna untuk memotret adalah titik yang sempurna juga untuk dilihat.”
Mereka berdiri berdampingan di puncak tebing itu, dengan laut Osmod yang membentang di bawah mereka. Dan saat mereka turun kembali ke kaki tebing, seorang pria tua dengan perahu kayu kecil yang ditarik ke pasir memperhatikan mereka dari kejauhan, sebelum akhirnya berjalan mendekat dengan langkah yang ragu.
“Nona,” panggilnya, dengan suara yang serak dan pelan. “Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi saya ... saya merasa mengenali wajah Nona. Bolehkah saya bertanya, apakah Nona kerabat dari keluarga Tarrigan?”
Ara berhenti berjalan. “Saya anak mereka. Arandelle Tarrigan.”
Pria tua itu berdiri diam untuk waktu yang lama, dan kemudian air matanya turun begitu saja, tanpa peringatan, tanpa suara. Dia melepas topi nelayannya dan memegangnya di depan dadanya dengan kedua tangan, seperti orang yang sedang berdiri di depan altar.
“Saya Naba, Nona. Nelayan di teluk ini, seperti ayah saya dulu. Saya mengenal ayah Nona. Dia sering membeli ikan dari perahu saya, dan kadang-kadang dia ikut melaut dengan saya hanya untuk melihat lumba-lumba dari dekat.” Suara pria tua itu bergetar. “Dan saya ada di teluk ini pada malam ketika mereka pergi, Nona. Dan apa yang saya lihat malam itu tidak pernah bisa saya lupakan.”
Ara merasakan Judas bergerak satu langkah lebih dekat ke sisinya. “Ceritakan, Tuan Naba. Semuanya.”
Naba menatap lautnya sejenak, seperti meminta izin kepada sesuatu di sana, sebelum berbicara lagi.
“Malam itu saya pulang terlambat dari laut. Bulan sedang terang, jadi saya bisa melihat jalan pegunungan di atas sana dari perahu saya. Saya melihat mobil keluarga Tarrigan lewat di jalan itu, menuju kota. Saya mengenali mobilnya karena hanya ada satu mobil dengan warna seperti itu di daerah ini.” Dia berhenti, tangannya meremas topinya lebih kuat. “Dan di belakang mobil mereka, ada dua mobil lain. Berjalan tanpa lampu, Nona. Dua mobil hitam yang mengikuti dari jarak yang dijaga betul. Bukan kebetulan. Nelayan tahu perbedaan antara kapal yang lewat dan kapal yang menguntit. Itu sama di darat maupun di laut.”
“Kau melihat kecelakaan itu terjadi?” tanya Judas dengan suara yang hati-hati.
“Tidak kejadiannya, Tuan. Saya hanya melihat tiga mobil itu naik ke jalan pegunungan. Tapi sekitar setengah jam kemudian, saya mendengar suara benturan dari atas sana, dan ketika saya melihat ke atas, hanya ada dua mobil yang turun dari jalan itu. Dua mobil hitam. Berjalan pelan, tanpa tergesa-gesa, seperti orang-orang yang sudah selesai dengan pekerjaannya.” Naba menunduk. “Keesokan harinya, berita mengatakan keluarga Tarrigan mengalami kecelakaan. Rem blong, kata berita itu. Dan saya pergi ke kantor polisi untuk menceritakan apa yang saya lihat, Nona. Saya pergi sendiri, dengan dua kaki saya sendiri.”
“Dan apa yang terjadi?” tanya Ara, dengan suara yang sudah tidak sepenuhnya stabil.
“Mereka mencatat nama saya dan menyuruh saya pulang. Tiga hari kemudian, dua orang datang ke rumah saya dan mengatakan bahwa kalau saya terus menceritakan hal-hal yang tidak saya lihat, perahu saya dan izin melaut saya yang akan mengalami kecelakaan berikutnya.” Naba mengangkat wajahnya. “Saya diam, Nona, karena saya punya istri dan tiga anak kecil yang perlu diberi makan. Saya diam selama enam belas tahun, dan tidak ada satu hari pun di mana saya tidak memikirkan dua mobil hitam itu.”
Ara berdiri diam di depan pria tua itu, di kaki tebing tempat ayahnya dulu berdiri, dengan angin laut yang menderu di telinganya. Lalu dia melangkah maju dan menggenggam tangan kasar nelayan itu dengan kedua tangannya.
“Kau menceritakannya hari ini, Tuan Naba,” ucapnya, dan suaranya tidak pecah, tidak goyah, tapi penuh dengan sesuatu yang lebih kuat dari keduanya. “Setelah enam belas tahun, kau menceritakannya kepada orang yang paling berhak mendengarnya. Itu bukan pengkhianatan. Itu keadilan yang datang terlambat, tapi tetap datang.”
“Kalau Nona membutuhkan saksi, Nona.” Naba menggenggam tangannya kembali dengan tangan yang bergetar. “Saya sudah terlalu tua untuk takut pada apa pun lagi. Anak-anak saya sudah besar. Izin melaut saya sudah tidak berarti apa-apa. Kalau Nona membawa orang-orang itu ke pengadilan, saya akan berdiri dan menceritakan semuanya di depan siapa pun, dengan nama saya sendiri, dengan wajah saya sendiri.”
Judas berdiri di samping mereka, mendengarkan janji seorang nelayan tua yang sudah enam belas tahun menyimpan kebenaran seperti menyimpan jangkar, dan dia tahu bahwa batu pertama yang mereka lempar ke sarang ular itu sudah mulai membuat ular-ularnya bergerak.
Di perjalanan kembali ke istana, Judas mengucapkan satu kalimat yang membuat Ara menoleh kepadanya.
“Mulai malam ini, harga dirimu di pasar gelap orang-orang itu baru saja naik, Nona. Dan harga saksi kita juga. Josh akan menempatkan orang untuk menjaga Tuan Naba dan keluarganya mulai hari ini. Diam-diam, tanpa terlihat, dua puluh empat jam.”
Ara menatapnya, dan untuk kesekian kalinya, dia mendapati dirinya tidak bisa mengatakan apa-apa selain dua kata yang sudah mulai terasa terlalu kecil untuk semua yang dilakukan pria ini.
“Terima kasih, Jud.”
“Simpan terima kasihmu untuk hari ketika semua ini selesai,” jawab Judas, menatap lurus ke jalan di depannya. “Hari itu, aku akan menagihnya dengan cara yang tidak bisa kau bayangkan. Itu janji.”