Aula utama istana Osmod adalah ruangan yang dirancang untuk membuat orang merasa kecil. Langit-langitnya menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran tua, pilar-pilar batunya berdiri seperti raksasa yang diam, dan di ujung ruangan, takhta Raja Canis Major berdiri di atas tujuh anak tangga, dikosongkan sejak pagi karena raja yang sudah sangat tua itu belum juga muncul.
Delegasi Monaghan berdiri di tengah aula itu, di hadapan para pejabat tinggi kerajaan Osmod yang berjajar di dua sisi. Presentasi kerjasama kelautan itu dibuka oleh Judas dengan pidato yang sudah dia susun sendiri, pidato tentang dua kerajaan yang berbagi satu laut, tentang tender internasional yang transparan, tentang zona eksplorasi bersama dengan kajian lingkungan gabungan yang melindungi perairan kedua belah pihak. Judas berbicara dengan suara oratornya yang sudah lama tidak dia gunakan, dan Ara menyaksikan dari sisinya bagaimana ruangan besar itu perlahan-lahan jatuh ke dalam genggaman suaranya, seperti ruangan-ruangan lain sebelumnya.
“Kerajaan Monaghan tidak datang untuk mengambil,” tutup Judas. “Kami datang untuk membagi. Satu laut, dua kerajaan, satu masa depan yang layak diwariskan kepada anak cucu kedua bangsa. Itu tawaran kami, dan kami menunggu jawaban kerajaan Osmod dengan segala hormat.”
Tepuk tangan sopan bergema di aula. Lord Kanzel melangkah maju dari barisan pejabat untuk memberikan tanggapan resmi, dengan senyumnya yang sudah terpasang rapi sejak pagi.
“Presentasi yang sangat mengesankan, Pangeran Judas. Kerajaan Osmod akan mempelajari tawaran ini dengan saksama. Namun, sebelum kami melangkah lebih jauh, ada satu hal kecil yang ingin kami luruskan, sekadar untuk kejelasan protokol.” Dia berhenti sejenak, dan jeda itu sudah dihitungnya dengan tepat. “Di dalam daftar delegasi Yang Mulia, tercantum satu nama yang ... tidak asing bagi istana ini. Nona Arandelle Tarrigan. Kalau kami tidak keliru, nama Tarrigan pernah dicoret dari daftar keluarga kerajaan Osmod. Mungkin Yang Mulia bisa menjelaskan kepada para pejabat istana, kapasitas apa yang membuat sebuah delegasi resmi kerajaan Monaghan membawa serta seseorang yang secara resmi tidak diakui oleh kerajaan tuan rumah?”
Pertanyaan itu jatuh ke tengah aula seperti belati yang dilempar dengan senyum. Para pejabat Osmod saling berpandangan dalam bisikan-bisikan kecil yang tidak disembunyikan. Ini adalah serangan resmi, dibungkus dalam bahasa protokol yang sopan, dirancang untuk mempermalukan delegasi di depan seluruh istana.
Judas membuka mulutnya untuk menjawab, tapi suara lain terdengar lebih dulu. Suara yang tenang, jernih, dan tidak bergetar sedikit pun. Suara Ara.
“Izin menjawab pertanyaan itu sendiri, Lord Kanzel, kalau Yang Mulia mengizinkan.”
Seluruh aula menoleh ke arahnya. Gadis itu melangkah satu langkah ke depan, berdiri tegak di tengah aula besar itu dengan kalung liontin kerang peraknya yang berkilau samar, dan menatap lurus ke arah pria tua berjubah gelap itu tanpa sedikit pun gentar.
“Benar bahwa nama Tarrigan pernah dicoret dari daftar keluarga kerajaan ini,” ucapnya, dan suaranya menggema sampai ke langit-langit aula. “Ibuku, Putri Sarella dari Osmod, dicoret karena menikahi pria yang dicintainya, seorang rakyat biasa yang tidak punya apa-apa selain hatinya. Pencoretan itu resmi, tercatat, dan saya tidak akan memperdebatkannya hari ini. Tapi Lord Kanzel bertanya tentang kapasitas saya berdiri di sini, maka izinkan saya menjawabnya dengan lengkap.”
Aula itu hening seperti ruangan yang sedang menahan napasnya.
“Saya berdiri di sini sebagai penasihat kelautan kerajaan Monaghan, diangkat langsung oleh Pangeran Judas Ellington, karena saya mengetahui perairan ini lebih dalam daripada siapa pun di ruangan ini. Saya berdiri di sini sebagai seorang ilmuwan yang telah menghabiskan seluruh hidupnya mempelajari laut yang kita bicarakan hari ini.” Ara berhenti sejenak, dan ketika dia melanjutkan, suaranya turun menjadi lebih pelan tapi justru lebih tajam. “Dan saya berdiri di sini sebagai anak dari Putri Sarella, cucu dari Raja Canis Major, yang namanya dibacakan di gerbang istana ini dua hari yang lalu oleh protokol resmi kerajaan Osmod sendiri. Kalau protokol istana ini mengakui keberadaan saya di dalam delegasi, maka saya kira pertanyaan tentang kapasitas saya sudah terjawab oleh istana itu sendiri, sebelum pertanyaan itu sempat diajukan.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan total. Lalu, dari sudut aula, suara tepuk tangan yang tidak sopan tapi tulus terdengar dari mulut seorang pejabat tua yang segera diikuti oleh beberapa lainnya, dan bisikan-bisikan di barisan pejabat Osmod berubah nadanya menjadi sesuatu yang lain. Bukan lagi bisikan meremehkan. Bisikan mengakui.
Lord Kanzel tersenyum, dan senyumnya kali ini tidak sampai ke mana-mana. “Jawaban yang sangat ... lengkap, Nona Arandelle. Kerajaan Osmod beruntung mendapatkan penjelasan sejelas itu.”
Dan saat itulah, di tengah suasana yang belum sepenuhnya reda, pintu-pintu besar di sisi takhta terbuka, dan seluruh aula langsung berdiri tegak.
Raja Canis Major masuk ke aula itu dengan dua orang penopang di sisinya, dengan langkah-langkah yang lambat dan tubuh yang sudah dimakan usia, tapi dengan mata yang masih utuh dan tajam. Seluruh aula menunduk dalam satu gerakan serentak. Judas dan delegasinya membungkuk sesuai protokol tamu.
Raja tua itu berjalan perlahan ke tengah aula, dibantu oleh tongkatnya yang berat, dan berhenti. Dia tidak menatap Judas lebih dulu. Dia tidak menatap para pejabatnya. Matanya yang tua itu langsung mencari satu titik di tengah aula dan menetap di sana, menatap lurus ke arah Ara dengan tatapan yang tidak bergerak untuk waktu yang terasa sangat lama.
“Arandelle,” ucapnya, dan suaranya yang serak dan tua itu menggema di aula yang sunyi. Bukan pertanyaan. Bukan sapaan resmi. Sebuah nama yang diucapkan seperti orang yang mengucapkannya di dalam hati setiap hari selama bertahun-tahun dan akhirnya bisa mengucapkannya keras-keras.
“Yang Mulia,” jawab Ara dengan suara yang jauh lebih kecil dari suaranya tadi.
Raja tua itu menatapnya lama sekali lagi. Matanya turun sejenak ke kalung liontin kerang perak di leher gadis itu, dan sesuatu yang dalam dan retak lewat di wajahnya yang sudah penuh dengan keriput.
“Delegasi Monaghan akan tinggal untuk jamuan makan siang kerajaan,” ucapnya akhirnya, dengan suara yang sudah kembali menjadi suara seorang raja. “Dan setelah itu, aku ingin berbicara dengan delegasi ini secara terbatas. Lord Kanzel, atur semuanya.”
Dia berbalik dan berjalan keluar dari aula itu dengan langkah-langkahnya yang lambat, tanpa satu kalimat lagi. Tapi sebelum melewati pintu-pintu besar itu, dia berhenti sejenak di ambangnya, dan tanpa berbalik, dia mengucapkan satu kalimat yang hanya terdengar oleh orang-orang yang berdiri cukup dekat.
“Kau memiliki matanya, Arandelle. Mata ibumu. Tidak ada yang berubah dari mata itu, bahkan setelah enam belas tahun.”
Lalu dia pergi, meninggalkan aula yang masih membeku dalam keheningannya, dan seorang gadis yang berdiri di tengah-tengahnya dengan tangan yang tanpa sadar memegang liontin kerang peraknya, dan seorang pangeran dari kerajaan lain yang berdiri di sampingnya dengan satu kepastian baru di kepalanya.
Raja tua itu mengenali kalung itu. Dan raja tua itu, untuk alasan yang belum mereka ketahui, tidak terlihat seperti orang yang pernah memerintahkan pembunuhan siapa pun.