Pembicaraan terbatas itu berlangsung sore harinya, di ruang kerja pribadi raja di sayap barat istana, ruangan tua yang dipenuhi buku-buku dan peta-peta dan potret-potret keluarga. Raja Canis Major duduk di kursi besarnya di belakang meja kerja yang dipenuhi dokumen, dan di depannya hanya ada dua kursi: untuk Judas dan untuk Ara.
Josh menunggu di luar bersama para pengawal kedua kerajaan. Lord Kanzel, atas perintah raja yang sangat jelas dan sangat tidak biasa, tidak diizinkan masuk.
“Lord Kanzel sudah mengabdi pada kerajaan ini selama empat puluh tahun,” ucap raja tua itu, seolah membaca pertanyaan di wajah tamu-tamunya. “Dan selama empat puluh tahun itu, dia adalah orang yang paling aku percaya di istana ini. Tapi hari ini, percakapan ini bukan tentang kepercayaanku kepadanya. Percakapan ini tentang kebenaran yang mungkin tidak akan disukainya untuk kudengar.”
Dia menatap Ara dengan tatapan yang sudah tidak lagi menyembunyikan apa-apa.
“Sebelum kita berbicara tentang kerjasama kelautan dua kerajaan, aku akan berbicara dulu tentang mengapa aku mencoret ibumu dari keluarga ini, Arandelle. Karena aku tahu kau datang membawa pertanyaan itu, dan pertanyaan itu lebih tua dan lebih berat daripada tender mana pun.”
Ara tidak menjawab. Dia duduk di kursinya dengan punggung tegak dan tangan yang bertaut di pangkuannya.
“Pencoretan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku,” ucap raja tua itu, dan kalimat itu keluar tanpa hiasan, tanpa pembelaan. “Bukan karena aku tidak mencintai ibumu. Justru karena aku terlalu mencintainya. Ketika Sarella memilih menikahi ayahmu, orang-orang di sekeliling takhta ini datang kepadaku dengan dalih-dalih yang kudengar masuk akal pada masa itu. Tentang stabilitas garis takhta. Tentang preseden. Tentang musuh-musuh yang akan menggunakan pernikahan itu untuk melemahkan kerajaan. Aku mendengarkan mereka, Arandelle, karena aku pikir mendengarkan penasihat adalah pekerjaan seorang raja. Dan aku mencoretnya, berpikir bahwa itu akan melindunginya.”
Suaranya berhenti sejenak, dan tangannya yang tua meraih sebuah bingkai foto kecil di mejanya, memutarnya ke arah mereka. Foto seorang wanita muda dengan mata yang sama persis dengan mata Ara, berdiri di tepi laut.
“Ternyata aku salah. Hidup sederhana itu tidak menjauhkannya dari bahaya. Hidup sederhana itu justru membuatnya tidak punya siapa-siapa yang melindunginya ketika bahaya datang. Dan ketika berita kematiannya sampai ke istana ini, aku mengunci diriku di ruangan ini selama tiga hari, dan tidak ada satu pun orang yang berani mengetuk pintunya.”
Ara duduk diam di kursinya dengan air mata yang mengalir turun tanpa suara di pipinya. Judas duduk di sampingnya dalam keheningan yang penuh hormat, tidak bergerak, tidak bicara.
“Aku akan bertanya satu hal, Yang Mulia, dan aku meminta jawaban yang sebenarnya, apa pun jawabannya.” Suara Ara pecah di awal kalimatnya, tapi dia menyelesaikannya sampai ke akhir. “Apakah Yang Mulia yang memerintahkan kematian mereka? Ayah dan ibuku. Karena kami menemukan bukti bahwa perintah itu datang dari dalam istana ini.”
Ruangan itu hening total. Raja tua itu menatapnya, dan wajahnya tidak berubah menjadi marah atau tersinggung. Wajahnya berubah menjadi wajah seorang tua yang baru saja mendengar hal yang sudah ditakutinya selama bertahun-tahun, dinyatakan keras-keras di hadapannya.
“Bukan aku,” jawabnya, dan dua kata itu keluar dengan berat enam belas tahun. “Demi segala yang kumiliki dan segala yang sudah kurelakan, bukan aku. Aku sudah membunuh putriku sendiri dengan pencoretan itu, Arandelle. Aku tidak akan membunuhnya dua kali dengan perintah yang lain.”
Dia berdiri dari kursinya dengan susah payah, menolak bantuan siapa pun, dan berjalan ke lemari tua di sudut ruangan. Dia membukanya dengan kunci kecil dari dalam jubahnya, dan mengeluarkan sebuah bundel surat yang diikat dengan pita yang sudah pudar warnanya.
“Selama enam belas tahun, aku menulis surat kepada ibumu setiap minggu,” ucapnya, meletakkan bundel itu di atas meja di depan Ara. “Surat-surat yang tidak pernah kukirim, karena kebanggaanku yang bodoh mengatakan bahwa seorang raja tidak boleh menarik kembali keputusannya sendiri. Aku menulis tentang penyesalanku, tentang hari-hari yang kulewati, tentang dirimu. Dan di tahun-tahun terakhir, aku menulis tentang kecurigaanku yang tumbuh pelan-pelan seperti penyakit, bahwa kematian mereka bukan kecelakaan. Bahwa ada orang-orang di sekitar takhta ini yang mengambil keuntungan dari kematian putriku, orang-orang yang sama yang dulu memaksaku mencoretnya.”
Ara meraih bundel surat itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ratusan surat. Enam belas tahun surat yang tidak pernah terkirim, dari seorang kakek yang terlalu bangga untuk meminta maaf ketika masih ada waktu.
“Kecurigaan Yang Mulia ... mengarah ke siapa?” tanya Judas, suaranya pertama kali terdengar di ruangan itu, pelan dan hati-hati.
Raja tua itu menatapnya lama. “Aku tidak punya bukti untuk menyebut nama, Pangeran. Dan aku tidak akan menyebut nama tanpa bukti, karena aku sudah pernah menghancurkan satu keluarga dengan keputusan yang kubuat tanpa berpikir cukup dalam. Tapi dengarkan satu hal ini, karena kau akan membutuhkannya di istana ini.”
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, dan suaranya turun menjadi lebih rendah.
“Di istana ini, ada orang-orang yang bekerja untuk kerajaan, dan ada orang-orang yang bekerja untuk diri mereka sendiri sambil berpura-pura bekerja untuk kerajaan. Dan garis di antara keduanya tidak bisa dilihat dari jubah yang mereka kenakan, Pangeran. Garis itu hanya bisa dilihat dari satu hal: dari siapa yang paling diuntungkan ketika sebuah keluarga kecil di pinggiran kota kehilangan dua orang tuanya dalam satu malam.”
“Siapa yang paling diuntungkan?” tanya Ara, hampir berbisik.
Raja tua itu menatapnya lama, dan dalam tatapan tua itu ada jawaban yang tidak dia ucapkan keras-keras, jawaban yang dia serahkan kepada cucunya untuk dirangkai sendiri dari semua yang sudah dia dengar hari itu.
“Bisnis gelap di perairan kami berhenti total dalam satu bulan setelah kematian mereka,” ucapnya akhirnya. “Dan enam bulan kemudian, sebuah perusahaan asing menerima izin resmi untuk beroperasi di perairan yang sama, dengan dokumen yang ditandatangani oleh pejabat tinggi yang namanya tidak akan kusebutkan tanpa bukti. Cari tahu siapa yang menandatangani izin itu, dan kau akan menemukan siapa yang memerintahkan kematian orang tuamu.”
Ara dan Judas saling berpandangan di depan meja tua itu, dan nama yang tidak diucapkan itu menggantung di udara ruangan.
Halvern. Pasti Halvern. Perusahaan yang sama. Pola yang sama. Dan satu tanda tangan pejabat tinggi di dokumen izin resmi yang akan membawa mereka ke satu nama, satu nama yang sudah berdiri terlalu lama terlalu dekat dengan takhta Osmod.
“Kami akan menemukannya, Yang Mulia,” ucap Judas. “Dan ketika kami menemukannya, kami akan membawanya ke hadapan Anda dengan bukti yang tidak bisa dibantah siapa pun.”
Raja tua itu mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, sesuatu yang mirip dengan senyum yang lelah lewat di wajahnya.
“Kalau begitu, cepatlah, Pangeran dari Monaghan. Aku sudah terlalu tua untuk menunggu terlalu lama.” Dia menatap Ara sekali lagi, dan suaranya melunak untuk terakhir kalinya sore itu. “Dan kau, Arandelle. Surat-surat itu milikmu. Bacalah pelan-pelan, jangan sekaligus. Ada seorang ayah di surat-surat itu yang kehilangan putrinya. Dan ada seorang kakek yang menunggu cucunya pulang, bahkan setelah pintu rumahnya sendiri yang dia tutup.”
Ara berdiri dari kursinya, dan untuk sesaat, protokol dan enam belas tahun jarak itu runtuh semuanya sekaligus. Dia berjalan memutari meja tua itu dan memeluk kakeknya yang sudah sangat tua, kakek yang tidak pernah dia kenal, kakek yang mencoret ibunya, kakek yang menulis surat setiap minggu selama enam belas tahun kepada orang yang sudah tidak bisa membacanya.
Dan raja tua Kerajaan Osmod itu memeluknya kembali dengan tangan yang bergetar, di ruang kerjanya yang sunyi, sambil berbisik dengan suara yang hanya terdengar oleh mereka berdua.
“Maafkan aku, Sarella. Maafkan aku.”