Berita tentang pertemuan terbatas itu sampai ke telinga Lord Kanzel sebelum matahari terbenam. Bukan dari ruang kerja raja — tidak ada satu pun pelayan di sayap barat yang berani membocorkan apa pun. Tapi dari hal-hal kecil yang bisa dibaca oleh orang yang sudah empat puluh tahun berlatih membaca istana: dari perintah raja yang melarangnya masuk, dari waktu yang dihabiskan delegasi itu di dalam, dari wajah Ara ketika dia keluar dengan mata yang masih merah dan bundel surat di tangannya.
Lord Kanzel berdiri di jendela kantornya di sayap utara istana, dengan ponsel di tangannya dan wajah yang sudah kehilangan semua senyumnya yang biasa terpasang rapi.
“Situasinya berubah,” ucapnya ke ponsel itu, tanpa basa-basi, kepada orang di seberang sana. Kepada Baron. “Raja tua itu menerima delegasi Monaghan secara tertutup dan melarangku masuk. Itu tidak pernah terjadi dalam empat puluh tahun. Dia tahu sesuatu, atau dia mencurigai sesuatu, dan delegasi itu yang menanamkannya.”
Suara Baron di seberang terdengar tenang seperti biasa. “Gadis itu. Aku sudah mengatakannya kepadamu sejak awal, Kanzel. Semua masalah besar selalu berawal dari satu orang kecil yang tidak kau anggap penting.”
“Gadis itu bukan masalah kecil lagi. Dia bertemu dengan raja secara pribadi, dan raja memberikan sesuatu kepadanya. Sebuah bundel. Sepertinya surat-surat.” Kanzel meremas tongkat peraknya sampai buku-buku jarinya memutih. “Kalau raja tua itu mulai menggali ke belakang, dia akan sampai ke dokumen-dokumen lama. Dan kalau dia sampai ke dokumen-dokumen lama, dia akan sampai kepadaku.”
“Dia tidak akan sampai ke mana-mana.” Suara Baron berubah sedikit, lebih dingin, lebih datar. “Raja tua itu sudah sangat tua, Kanzel. Orang-orang tua yang terlalu penasaran biasanya kelelahan, dan orang-orang yang kelelahan biasanya ... beristirahat lebih awal dari yang seharusnya. Kamu sudah merawat kesehatannya selama bertahun-tahun. Kamu lebih tahu dari siapa pun betapa rapuhnya kesehatan seorang raja di usianya.”
Jeda hening yang panjang mengalir di antara dua kota, dua istana, dua pria tua yang sudah terlalu jauh berjalan untuk bisa berbalik.
“Aku mengerti,” jawab Kanzel akhirnya, dan dua kata itu keluar seperti batu yang jatuh ke dasar sumur. “Tapi tidak sekarang. Tidak selagi delegasi Monaghan masih ada di sini. Kematian raja di tengah kunjungan resmi delegasi asing akan memicu penyelidikan internasional, dan penyelidikan internasional adalah hal terakhir yang kita butuhkan. Delegasi itu harus pergi dulu. Dan gadis itu harus pergi bersama mereka, atau berhenti menjadi masalah sebelum mereka pergi.”
“Kalau begitu, kerjakan dengan cepat dan bersih,” ucap Baron. “Dan, Kanzel. Ingat bahwa kegagalanmu dengan sepasang suami istri di tebing itu enam belas tahun yang lalu sudah memakan biaya yang sangat besar untuk kita berdua. Aku tidak ingin kegagalan kedua. Jangan ada jejak. Jangan ada saksi. Dan jangan ada yang selamat untuk bercerita.”
Sambungan itu ditutup. Lord Kanzel berdiri di jendela kantornya untuk waktu yang lama, menatap laut Osmod yang menggelap di kejauhan, dan kemudian dia menekan satu nomor lain di ponselnya dan mengucapkan satu perintah singkat kepada orang yang mengangkatnya.
“Gadis Tarrigan itu akan keluar dari istana lagi suatu saat. Orang-orang seperti dia selalu kembali ke laut. Tempatkan orang-orang terbaik kita di semua titik pantai yang mungkin dia datangi, mulai malam ini. Dan kalau dia datang ... pastikan dia tidak kembali ke istana. Buat seperti kecelakaan. Seperti yang dulu. Laut sudah terbiasa menelan orang-orang dari keluarga itu.”
Malam itu, di kamar tamunya, Ara membaca surat-surat kakeknya satu per satu dengan lampu tidur yang menyala redup, membiarkan dirinya hanya membaca lima surat seperti yang diminta kakeknya, tidak lebih. Lima surat dari seorang ayah yang kehilangan putrinya. Lima surat yang membuatnya menangis tanpa suara di kamar asing itu sampai bantalnya basah.
Dan di surat kelima, di lipatan terakhirnya, dia menemukan satu kalimat yang membuat tangannya berhenti bergerak dan matanya membaca ulang tiga kali.
[... aku sudah memerintahkan pengawal pribadiku untuk menyimpan salinan semua dokumen perizinan lama di ruang arsip rahasia di bawah perpustakaan istana. Semua, Sarella. Termasuk dokumen yang ditandatangani di tahun kematianmu. Aku mulai mengumpulkannya sejak kecurigaanku tumbuh, tanpa sepengetahuan siapa pun, bahkan tanpa sepengetahuan orang-orang yang paling kupercaya. Kalau suatu hari seseorang yang mencintaimu datang mencari kebenaran, ruang arsip itu akan menunggunya. Kuncinya kusimpan di dalam pigura foto kecil di mejaku, pigura yang berisi foto engkau berdiri di tepi laut ...]
Ara membaca kalimat itu dengan jantung yang berdegup keras. Ruang arsip rahasia di bawah perpustakaan istana. Dokumen-dokumen asli. Kunci yang disimpan di dalam pigura foto ibunya di meja kerja sang raja.
Semua yang mereka butuhkan ada di dalam istana ini, hanya beberapa lorong dari kamar tempat dia berbaring sekarang.
Dia meraih ponselnya dan mengetik pesan kepada Judas dengan tangan yang gemetar.
[Jud. Aku menemukan sesuatu. Ruang arsip rahasia di bawah perpustakaan istana. Dokumen asli perizinan lama, termasuk tahun kematian orang tuaku. Kakekku mengumpulkannya diam-diam selama bertahun-tahun. Kita harus masuk ke sana sebelum orang lain menemukannya lebih dulu.]
Balasan datang dalam hitungan detik.
[Jangan keluar dari kamarmu. Jangan membuka pintu untuk siapa pun kecuali aku. Aku datang sekarang. Dan, Ara — mulai malam ini, kita tidak lagi berada di istana tamu. Kita berada di istana musuh. Bertindaklah seperti itu.]
Tiga menit kemudian, Judas sudah berdiri di kamarnya dengan jaket yang dipakai setengah tergesa, membaca surat kelima itu dua kali dengan mata yang menyipit di setiap kalimat pentingnya. Dia tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu dia mengangkat wajahnya, dan Ara melihat sesuatu di wajahnya yang sudah dia kenali: wajah pemburu yang baru saja menemukan jejak mangsanya.
“Ruang arsip rahasia di bawah perpustakaan. Kunci di dalam pigura foto ibumu di meja kerja kakekmu,” ulangnya pelan. “Kalau kakekmu cukup hati-hati untuk menyimpan dokumen-dokumen itu diam-diam selama bertahun-tahun, maka kita harus dua kali lebih hati-hati untuk mengambilnya. Kita tidak akan bergerak malam ini, Ara. Malam ini semua mata di istana ini sedang terjaga. Kita bergerak besok, ketika seluruh istana sibuk dengan jamuan resmi delegasi, ketika tidak ada satu pun orang yang memperhatikan dua tamu yang pamit lebih awal.”
Ara mengangguk, meski setiap serat di tubuhnya ingin berlari ke perpustakaan itu malam ini juga.
Ara berdiri di tengah kamarnya dengan ponsel di tangannya, dengan surat-surat kakeknya berserakan di atas tempat tidur, dengan kalung liontin kerang perak yang terasa berdenyut di lehernya, dan dia tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir istana ini menjadi tempat yang aman untuknya.
Di luar jendelanya, laut Osmod berdebur di bawah bulan yang tertutup awan, dan di suatu tempat di dalam istana tua itu, langkah-langkah kaki sudah mulai bergerak di lorong-lorong yang gelap, menuju ke arah yang sama yang sedang dia tuju.
Perlombaan itu sudah dimulai. Dan hanya satu pihak yang akan sampai ke ruang arsip itu lebih dulu.