Jamuan resmi untuk delegasi Monaghan diadakan malam itu di aula besar istana Osmod, dengan meja panjang yang dipenuhi hidangan kerajaan, musik dari pemain-pemain biola di sudut ruangan, dan seluruh pejabat tinggi istana yang hadir dengan senyum-senyum protokol mereka yang sudah terlatih. Raja Canis Major duduk di ujung meja utama dengan wajah yang lebih baik dari kemarin, dengan Ara duduk di sisi kanannya atas perintahnya sendiri — sebuah penempatan kursi yang membuat separuh pejabat istana saling berpandangan, dan yang membuat Lord Kanzel harus duduk tiga kursi lebih jauh dari rajanya dari biasanya.
Judas duduk di seberang mereka, mengamati segalanya dari balik gelas anggurnya. Dia mengamati bagaimana Lord Kanzel berbicara dengan komandan pengawal istana di sudut aula, terlalu lama dan terlalu pelan untuk sebuah pembicaraan biasa di tengah jamuan. Dia mengamati dua pelayan yang berdiri terlalu diam di dekat pintu utama, dengan postur yang salah untuk pelayan, dengan mata yang salah untuk orang-orang yang pekerjaannya adalah menuangkan anggur. Dan dia mengamati wajah Ara di sisi rajanya, wajah yang sedang berusaha keras untuk terlihat seperti tamu yang sedang menikmati jamuan, padahal Judas tahu persis ada sebuah kunci rahasia yang menunggu di suatu tempat di istana ini malam ini.
Josh berdiri tidak jauh di belakang kursi tuannya, dan satu anggukan kecil dari Judas sudah cukup untuk membuatnya mengerti bahwa malam ini bukan malam biasa. Josh sudah belajar membaca tuannya sejak lama. Dia tahu bahwa ketika Judas terlihat paling santai di sebuah ruangan, ruangan itu sedang dihitungnya dari sudut ke sudut tanpa ada satu pun yang menyadarinya.
Di tengah jamuan, ketika musik sedang mengalun paling keras dan percakapan-percakapan sedang berada di puncak keramaiannya, Raja Canis Major meraih tangan Ara dengan tangannya yang tua dan berbisik pelan.
“Berjalan-jalanlah bersamaku sebentar, Arandelle. Raja tua yang berjalan-jalan dengan cucunya di tengah jamuan tidak akan menarik perhatian siapa pun. Itu satu-satunya keuntungan menjadi orang tua: semua orang menganggapmu tidak berbahaya.”
Mereka berjalan perlahan keluar dari aula melalui pintu samping, diikuti oleh tatapan-tatapan yang sudah diperhitungkan oleh sang raja: tatapan yang menganggap seorang kakek tua sedang memamerkan cucunya yang baru ditemukan. Tidak lebih. Tidak kurang.
Di lorong yang sepi, langkah raja tua itu berhenti. Dia memandang ke dua arah lorong dengan hati-hati, lalu meraih sesuatu dari dalam jubahnya dan menekannya ke telapak tangan Ara.
Sebuah kunci kecil, berukir rumit, dengan pegangan berbentuk kerang.
“Dari pigura foto ibumu di mejaku,” ucapnya pelan. “Kau sudah membaca surat kelima itu. Aku tahu kau sudah membacanya, karena kau datang ke jamuan ini dengan wajah orang yang sedang menyusun rencana. Kau mewarisi itu juga dari ibumu: ketika Sarella menyusun rencana, seluruh wajahnya menjadi peta.”
Ara menggenggam kunci itu dengan jantung yang berdegup kencang. “Yang Mulia tahu sejak awal bahwa aku akan menemukan surat itu.”
“Aku menaruhnya di surat kelima dengan harapan kau akan menemukannya di malam pertama atau kedua. Kau lebih cepat dari perkiraanku.” Raja tua itu tersenyum kecil, senyum yang bangga dan sedih dalam waktu yang sama. “Ruang arsip itu ada di bawah perpustakaan tua di sayap utara. Tangga turunnya tersembunyi di balik rak buku paling ujung, rak yang berisi buku-buku sejarah kelautan — dan aku yakin itu bukan kebetulan, karena ibumu yang menyarankan lokasinya bertahun-tahun yang lalu, ketika aku pertama kali mulai mengumpulkan dokumen-dokumen itu. Pergilah malam ini, selagi seluruh istana minum dan tertawa di aula besar. Dan bawa dokumen-dokumen itu keluar dari istana ini secepat mungkin, Arandelle. Aku sudah terlalu tua untuk melindungi mereka lebih lama lagi.”
“Yang Mulia ikut dengan kami,” ucap Ara cepat. “Setelah ini selesai. Ke Monaghan. Ratu Moana akan—”
“Tidak.” Raja tua itu menggeleng pelan tapi tegas. “Aku raja di tanah ini, Nak. Raja tidak lari dari istananya, bahkan ketika istananya sudah dipenuhi ular. Tugasku di sini belum selesai. Tugasmu di luar sana baru dimulai.” Dia menggenggam tangan Ara dengan kedua tangannya yang bergetar. “Sekarang, kembalilah ke aula sebelum ada yang curiga. Dan ingat: kau punya tiga puluh menit, tidak lebih. Jamuan seperti ini tidak pernah bertahan lebih dari dua jam, dan saat jamuan bubar, seluruh istana akan kembali penuh dengan mata-mata yang terjaga.”
Ara kembali ke aula dengan kunci kerang itu tersimpan rapat di genggamannya, dan dengan satu pesan yang disampaikannya kepada Judas hanya dengan satu tatapan mata dari seberang meja.
Judas menangkapnya. Dia meletakkan gelas anggurnya perlahan, berdiri, dan mengucapkan sesuatu kepada pejabat di sebelahnya dengan suara yang cukup keras untuk didengar beberapa meja: bahwa dia ingin menikmati udara malam di taman istana sebelum jamuan berakhir, karena udara istana selalu lebih segar daripada udara kasino mana pun.
Tidak ada yang menahannya. Pangeran tamu yang ingin berjalan-jalan di taman bukanlah hal yang perlu dicurigai, apalagi pangeran itu sudah sejak awal dikenal sebagai orang yang tidak pernah betah duduk terlalu lama di satu tempat. Judas berjalan keluar dari aula dengan langkah-langkah yang malas, menyusuri taman yang gelap dengan tangan di saku, berhenti sebentar untuk memandangi air mancur seperti orang yang benar-benar sedang menikmati malam — dan kemudian berbelok tajam ke lorong sayap utara begitu mata terakhir di taman itu tidak lagi mengikutinya.
Ara menyusul lima menit kemudian, dengan alasan yang bahkan lebih sederhana: pamit ke kamar kecil. Tidak ada satu pun orang di aula besar itu yang akan mengikuti seorang wanita ke kamar kecil.
Sepuluh menit kemudian, tiga orang berdiri di lorong gelap di sayap utara istana, di depan perpustakaan tua yang pintunya sudah berkarat di engselnya. Josh, yang menghilang dari aula tiga menit setelah Judas, sudah lebih dulu memastikan lorong itu kosong.
“Tiga puluh menit,” ucap Judas, memandangi arlojinya. “Kita masuk sekarang.”
Perpustakaan tua itu menyambut mereka dengan bau kertas tua dan debu yang sudah puluhan tahun mengendap. Rak-rak kayu menjulang sampai ke langit-langit yang gelap, dipenuhi ribuan buku yang sudah tidak pernah disentuh oleh siapa pun selain waktu. Josh menyalakan senter kecilnya dan mengarahkannya ke rak paling ujung, rak yang berisi buku-buku sejarah kelautan, persis seperti yang dikatakan raja.
Judas memeriksa rak itu dengan tangannya, menekan setiap sisi, setiap sudut, sampai satu bunyi klik kecil terdengar dari dalam rangka kayu itu. Perlahan, dengan suara derit yang ditahannya sekuat mungkin agar tidak menggema, rak itu bergeser ke samping dan menampakkan sebuah tangga batu yang turun ke dalam kegelapan.
“Josh, jaga pintu. Kalau ada yang datang, ketuk tiga kali di rak ini,” perintah Judas. “Ara, ikut aku.”
Mereka turun ke dalam kegelapan tangga batu itu, dengan kunci kerang di tangan Ara, dan dengan tiga puluh menit yang terus berkurang di atas kepala mereka.