Ruang di bawah perpustakaan tua itu jauh lebih besar dari yang dibayangkan Ara. Sebuah ruangan batu berbentuk memanjang dengan langit-langit rendah, dipenuhi lemari-lemari besi yang berjajar rapi di dua sisinya, dan sebuah meja panjang di tengahnya yang tertata kotak-kotak dokumen dengan label-label tahun yang ditulis dengan tangan tua yang rapi. Lampu-lampu kecil menyala redup di sepanjang dinding, menjaga ruangan itu tetap terawat bahkan tanpa kehadiran siapa pun.
“Dia merawat tempat ini sendirian,” bisik Ara, berjalan pelan di antara lemari-lemari itu dengan mata yang tidak berhenti membaca label-label tahun di setiap kotak. “Selama bertahun-tahun, diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun. Di bawah istananya sendiri.”
“Tahun kematian orang tuamu,” ucap Judas, sudah berdiri di depan deretan kotak dengan label tahun yang sudah mereka hafal berdua. “Di sini.”
Mereka membuka kotak itu bersama-sama. Dokumen-dokumen asli tersusun rapi di dalamnya: perizinan, kontrak, salinan surat-surat resmi istana, dan di atas semuanya, sebuah map tebal dengan tulisan tangan Raja Canis Major di sampulnya yang berbunyi: IZIN RESMI OPERASI PERAIRAN OSMOD — HALVERN GRUP.
Tangan Ara berhenti bergerak di atas map itu sejenak. Lalu dia membukanya.
Halaman pertama adalah izin resmi itu sendiri, dengan segel kerajaan Osmod di sudut atas. Dan di halaman terakhirnya, di tempat yang seharusnya diisi oleh tanda tangan pejabat tinggi kerajaan, ada sebuah tanda tangan yang tintanya sudah sedikit memudar tapi masih terbaca dengan sangat jelas.
Lord Kanzel.
Bukan paraf rumit yang tidak bisa dikenali seperti di kontrak gelap. Tanda tangan penuh, dengan nama lengkap dan jabatan, ditandatangani dengan tangan yang sama yang selama empat puluh tahun menandatangani ribuan dokumen resmi kerajaan Osmod atas nama rajanya.
“Dia menandatanganinya dengan nama resminya,” bisik Ara, dan suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. “Dia begitu yakin tidak akan ada yang pernah memeriksanya, sehingga dia bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya.”
Judas memotret halaman itu dengan ponselnya, lalu halaman demi halaman berikutnya dengan gerakan yang cepat dan teliti. Di dalam map yang sama, mereka menemukan lebih dari yang mereka cari: kontrak-kontrak operasi Halvern di perairan Osmod dari tahun-tahun sebelum izin resmi itu keluar — kontrak-kontrak gelap, tanpa segel, dan di setiap kontrak itu, di tempat tanda tangan, ada paraf rumit yang sudah sangat mereka kenali.
Paraf yang sama dengan yang ada di kontrak lama dari buku besar kapal tanpa bendera.
“Paraf yang sama di kontrak gelap, tanda tangan penuh di izin resmi,” ucap Judas dengan suara yang dingin. “Kanzel menandatangani kedua sisinya, Ara. Sisi resmi dan sisi gelap, dengan dua tangannya sendiri. Ini bukti yang bahkan tidak bisa dibantah oleh setan sekalipun.”
“Dan ini.” Ara mengangkat sebuah dokumen lain dari dalam kotak yang sama, sebuah lembar perintah operasi dengan kopian karbon yang sudah menguning. “Lihat bagian penerimanya. Lihat kode penerima di sudut kanan bawah.”
Judas menatapnya, dan rahangnya mengeras.
Kode itu hanya satu huruf: B.
Pembayaran rutin kepada B. di buku besar kapal Halvern. Dan sekarang, perintah-perintah operasi dari arsip rahasia Raja Osmod yang juga dialamatkan kepada B. Lingkaran yang sudah lama mereka susun itu akhirnya menutup sepenuhnya, menghubungkan dua kerajaan, dua istana, dua pria tua yang duduk di dua sisi laut yang sama dan menjalankan bisnis gelap yang sama selama bertahun-tahun.
“Baron dan Kanzel,” ucap Ara pelan. “Mereka bukan dua konspirasi yang terpisah, Jud. Mereka satu konspirasi dengan dua tangan. Baron di Monaghan, Kanzel di Osmod, dan Halvern sebagai mesin uangnya di tengah-tengah. Itu sebabnya pola mereka selalu sama di dua perairan. Itu sebabnya tidak pernah ada yang tertangkap di dua kerajaan. Mereka saling menutupi dari dua sisi laut.”
“Dan itu sebabnya orang tuamu mati.” Judas menatap dokumen-dokumen itu dengan tatapan yang membeku. “Karena mereka tidak hanya mengancam bisnis Kanzel di Osmod. Mereka mengancam seluruh mesin uang dua kerajaan itu.”
Ara menatap lembar perintah operasi di tangannya, dengan foto-foto dokumen yang sudah tersimpan ratusan di ponsel Judas, dengan bukti yang selama enam belas tahun dia cari akhirnya berada di dalam genggamannya. Dan yang dia rasakan pada saat itu bukan kemenangan. Bukan kelegaan. Tapi kekosongan yang besar dan dingin, karena tidak ada satu pun dokumen di dunia ini yang bisa mengembalikan dua orang yang pergi meninggalkannya ketika dia berusia lima tahun.
“Aku ingin membawa yang asli ini,” ucapnya, mengambil map izin resmi itu dan dua lembar kontrak gelap dengan paraf Kanzel. “Sisanya sudah cukup di foto. Tapi yang ini harus keluar dari istana ini dalam bentuk aslinya.”
Judas mengangguk dan memasukkan dokumen-dokumen itu ke dalam map kulit yang dia bawa. Dan saat mereka berbalik menuju tangga, tiga ketukan kecil terdengar dari rak buku di atas sana.
Sinyal dari Josh. Ada yang datang.
Mereka membeku di tengah ruangan batu itu. Judas mematikan lampu-lampu kecil di sepanjang dinding dengan satu gerakan tangan, dan kegelapan menelan ruang arsip itu sepenuhnya, hanya menyisakan garis cahaya tipis yang turun dari celah rak buku di atas.
Suara langkah kaki terdengar dari dalam perpustakaan di atas mereka. Bukan satu langkah. Beberapa. Langkah-langkah yang berat dan teratur, langkah orang-orang yang sedang menyisir sebuah ruangan dengan hati-hati.
“Periksa rak-raknya,” terdengar suara seseorang dari atas, suara yang diredam oleh lantai batu tapi masih terdengar jelas. “Protagonis melaporkan ada cahaya dari lorong ini dua puluh menit yang lalu. Kalau ada yang masuk ke sini, mereka tidak mungkin pergi jauh.”
Ara menahan napasnya. Judas berdiri diam seperti patung di sampingnya, satu tangannya sudah bergerak pelan ke dalam jaketnya, ke arah sesuatu yang tersimpan di sana.
Langkah-langkah itu bergerak mengelilingi perpustakaan, mendekat dan menjauh, mendekat dan menjauh. Lalu terdengar bunyi buku-buku yang digeser dari raknya, rak demi rak, makin lama makin mendekat ke rak paling ujung.
Rak yang menyembunyikan tangga batu itu.
Dan kemudian, suara Josh terdengar dari arah pintu perpustakaan, keras dan disengaja, lebih keras dari yang seharusnya digunakan di dalam sebuah perpustakaan yang sunyi.
“Permisi! Permisi, Tuan-tuan! Maaf mengganggu pekerjaan kalian. Saya dari delegasi Monaghan. Saya diminta Pangeran Judas mencari sebuah buku sejarah kelautan untuk bahan presentasi besok pagi, dan saya benar-benar tidak tahu di mana letak buku yang beliau maksud. Mungkin kalian bisa membantu saya? Beliau sangat spesifik dengan permintaannya. Kalian tahu bagaimana Pangeran Judas kalau menginginkan sesuatu.”
Langkah-langkah di dalam perpustakaan itu berhenti. Lalu terdengar suara yang sama menjawab dengan nada yang sudah berubah menjadi lebih sopan, karena bagaimanapun, Josh adalah anggota resmi delegasi kerajaan tamu, dan mengusik anggota delegasi di tengah kunjungan resmi adalah pelanggaran protokol yang tidak kecil.
Suara Josh terus berbicara, terus mengalir, terus mengulur waktu dengan kemampuan seorang sekretaris yang sudah bertahun-tahun menghadapi situasi-situasi yang jauh lebih buruk dari ini. Dan perlahan-lahan, langkah-langkah di dalam perpustakaan itu bergerak menjauh dari rak paling ujung, menuju ke rak-rak lain di sisi yang berlawanan, ditarik oleh pertanyaan-pertanyaan Josh yang tidak pernah berhenti.
Judas menyentuh lengan Ara dalam gelap dan memberi isyarat dengan gerakan dagunya ke arah tangga. Mereka bergerak naik, setapak demi setapak, tanpa suara, tanpa napas, dengan map kulit berisi dokumen asli yang terasa seberat batu di tangan Judas. Di puncak tangga, Judas menggeser rak buku itu kembali ke tempatnya dengan perlahan sampai bunyi klik kecilnya terdengar, mengunci kembali rahasia di baliknya seperti tidak pernah disentuh siapa pun.
Dan saat mereka keluar dari perpustakaan tua itu melalui lorong belakang yang berbeda dari lorong tempat mereka datang, suara Josh masih terdengar dari dalam, masih membahas buku-buku sejarah kelautan dengan orang-orang Kanzel yang tidak menyadari bahwa yang mereka cari sudah lewat beberapa meter dari punggung mereka.