Udara pegunungan masih terasa segar saat aku mulai menuruni jalur setapak. Langkahku lebih ringan dibanding saat mendaki tadi. Entah karena perjalananku ke puncak benar-benar membawa sedikit kelegaan, atau karena aku hanya terlalu lelah untuk terus memikirkan kesedihanku.
Aku tidak tahu pasti, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Dulu, aku menghindari tempat-tempat yang mengingatkanku pada Anya, takut tenggelam dalam kenangan. Tapi sekarang, setelah kembali ke tempat yang dulu penuh dengan momen indah kami, aku menyadari satu hal—kenangan itu tidak seharusnya menjadi beban.
Kenangan adalah bagian dari hidupku, tetapi bukan berarti aku harus hidup di dalamnya.
Saat mobilku memasuki jalan utama menuju kota, aku melihat bayangan sendiri di kaca spion. Aku masih orang yang sama, tapi aku