Setelah pertemuanku dengan Rian di kafe, aku merasa sedikit lebih tenang. Mungkin karena akhirnya aku berbicara dengan seseorang setelah sekian lama terjebak dalam pikiranku sendiri. Tapi ketenangan itu hanya sementara.
Malam itu, ketika aku kembali ke apartemen, rasa gelisah kembali menyergap. Seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam diriku—sesuatu yang belum terselesaikan.
Aku berjalan ke lemari di sudut ruangan, membuka laci paling bawah, dan menarik keluar sebuah kotak berwarna cokelat tua. Aku tahu persis apa isinya.
Kotak itu berisi barang-barang milik Anya yang masih kusimpan. Bukan karena aku ingin mempertahankannya, tapi karena aku belum punya keberanian untuk menghadapi semuanya.
Aku duduk di lantai dan membuka tutup kotak dengan hati-hati. Di dalamnya, ada