Selesai sholat subuh berjamaah dengan warga paviliun, Kasih memulai harinya dengan memastikan Raka masih tertidur dan ia siap untuk menyambut pekerjaannya hari ini walaupun perasaannya tetap gak enak mengingat kejadian semalam yang membuat jantungnya kebat kebit.
"Pagi Pak ,, " ucap Kasih sambil melempar senyumnya.
"Wah Non Kasih,, " jawab Pak Mad dengan sumringah.
Kasih menuju kolam memastikan tidak ada orang yang mengapung disana tapi saat ia melewati kursi paling ujung kolam Kasih menggelengkan kepalanya,
ini kan roti coklat dan teh madu lemon yang saya taruh di ruang baca hhiiikkk Kasih meringis menahan bulu kuduk nya yang meremang membayangkan sesuatu.
Selesai membersihkan daerah kolam dan menyapu ruangan, Kasih memasuki daerah dapur dan melirik ke kulkas kok gak ada note ya ehm Kasih menelisik dapur mencoba mencari note.
"Kamu nyari apa,, " ucap bu Sri yang bingung melihat Kasih yang seolah olah mencari sesuatu.
"Gak bu,, " jawab Kasih menggeleng bingung.
Kasih memulai paginya dengan membersihkan kamar tidur tuan mudanya dan mengambil baju kotor dari kamar mandi. Saat memasuki walking closet ada sebuah note yg terselip di atas meja, tolong bersihkan bawah tempat tidurku dan taruh barangnya di ruang baca, kening Kasih mengkerut membayangkan ada apa di bawah tempat tidur tuannya.
Masak iya ruangan bersih kayak gini bawah tempat tidurnya ada tikus gak mungkin kan,, sembari menengok bawah tempat tidur yang ternyata ada bra ya Allah ini bra siapa sembari menyincing dan memicingkan matanya Kasih memasukkan bra tersebut ke dalam plastik dan menaruhnya di atas meja ruang baca.
Turun dari ruang baca, Kasih kembali memicingkan mata saat diri ruang depan dilihatnya ada seorang wanita cantik memasuki rumah utama dengan santainya Siapa dia .
"Apakah kamu sudah membereskan tempat tidur tuan muda? " tanya perempuan cantik yang sembari berlalu pergi ke ruang atas. Kasih terbengong melihatnya tanpa mampu menjawabnya.
"Bu Sri dia siapa sich? " tanya Kasih masih dengan rasa penasarannya.
"Itu Nadia, sekretaris atau asisten tuan muda, tapi sepertinya kekasih tuan muda, hihihi" jawab bu Sri sambil terkekeh geli.
Cantik, apakah bra itu miliknya ucap Kasih dalam hatinya, sambil berlalu mengerjakan hal yang bisa ia kerjakan.
Selesai menyelesaikan makan malam dan akan kembali ke paviliun, Kasih dikagetkan dengan ucapan pak Mad yang mengharuskan Kasih tinggal karena ada teman tuan muda jadi Kasih harus menyiapkan kamar tamu.
Enak sekali hidupnya bisa bawa siapapun yang dia suka, ehm monolog Kasih sambil terus merapikan kamar tamu.
"eeh kamu iyaa kamu" panggil seseorang yang ya ampun punya wajah ganteng kebangetan dibalik meja makan. "kok kamu bengong sich kan saya panggil kamu,, kamu orang baru yaa disini" ucapnya lagi.
Waduh jangan jangan ini tuan muda lagi, tapi tadi Pak Mad bilangnya temen nya tuan muda,, tapi bingung Kasih sambil menghampiri pria muda tadi yang masih dengan sabar menatap kebengongan Kasih.
"Iya Pak,, ada yang bisa saya bantu? " jawab Kasih.
"Huwaaa kamu panggil apa saya tadi,, Pak,, apa saya setua itu hehe? " tawa laki laki itu membahana memenuhi dapur, Kasih hanya mampu membelalakkan matanya tak percaya melihat tawa lepas pria ini karena ucapan sopan nya.
"Maaf"
"Kamu buatin teh lemon madu ma sandwich taruh di ruang baca, terus kalau saya,, buatin mie rebus yaa"
"oh iyaaa selesai saya mandi mie nya dah selesai yaa soalnya saya lapar, "
"oow saya lupa,, nama kamu siapa,, kamu orang baru yaaa kok Pak Mad gak bilang bilang sich, " lanjut pria itu sambil menghampiri Kasih yang masih berdiri di seberang meja.
"Nama saya Kasih pak, saya baru 2minggu ini kerja disini, oh iyaa mie nya pedas atau tidak pak,, original atau pakai telur" jawab Kasih sambil memperhatikan pria yang dikira tuan mudanya itu.
"mienya pake telur jangan pedes saya gak suka,, saya malik temennya arkana,, nama kamu bagus juga yaaa sesuai hihi" lanjut malik sambil memperhatikan perawakan Kasih yang cukup menarik dimatanya.
Selesai menyiapkan mie rebus, Kasih menuju ruang baca, dari kejauhan samar samar ia mendengar suara perempuan merintih, diberanikan dirinya untuk terus melangkah menuju ruang baca
Ayo Kasih cepet selesaikan kerjaanmu dan istirahat segera, Raka sudah menunggumu,, doa Kasih menyemangati dirinya sendiri.
Tak dipedulikan lagi suara rintihan perempuan yang mulai terdengar dengan jelas seperti suara geraman dan desahan di telinganya, ia terus saja melaju dan membuka ruang baca.
"Permisi ya tuan, ini teh lemon madunya dan sandwich, jangan sampai dingin takutnya nanti gak enak sandwichnya tulis Kasih pada sebuah note yang ditempelkan di baki makanan.
"Astaghfirullah " Kasih menutup mulutnya dan memelototkan matanya tak percaya saat akan berlalu dari ruang baca ada suara teriakan di balik lemari lemari buku yang saling tersusun dengan rapi.
Kasih menempelkan telinganya berkeliling ke sekitar lemari buku sampai tanpa disadarinya kuping nya bersandar dengan lemari yang bergerak dengan sendirinya.
"Kamu ,, keluar" ucap laki laki yang terpampang dengan hanya celana boxer di hadapannya ini dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Saya keluar tapi saya mau mastiin kalau tidak ada yang butuh saya,, tadi saya denger ada yang teriak" jawab Kasih dengan wajah polosnya menatap langsung ke mata elang yang siap menerkamnya.
"Siapa juga yang butuh kamu,,, keeluuaarr" teriak laki laki tadi sampai Kasih harus menutup telinganya dan memanyunkan bibirnya.
Kan bisa bilang baik baik ehm ucap kasih senewen.Lihat saja nanti jangan sampai ku baru memejamkan mata dia sudah memencet voice bel nya lanjut Kasih kesal.
"Saya lapar" voice bel itu membuat Kasih benar benar geram, tak percaya melihat waktu yang sudah tengah malam dan dengan seenaknya saja tuan muda itu berkata saya lapar.
Kasih melajukan langkahnya menuju dapur sambil terus menahan umpatannya. Niatnya kasih hanya akan memanaskan makanan yang sudah di siapkan tapi sepertinya Kasih harus bertahan lama di dapur.
"Buatkan saya mie rebus yang pedas" ucap laki laki yang membuatnya kesal berdiri di samping kulkas mengagetkan Kasih.
"Tadi nyuruh saya keluar sekarang tengah malam gini kelaparan hhhuu" ucap Kasih sembari menyiapkan peralatan masaknya.
"Duduklah tuang muda, mie nya akan segera saya siapkan" ucap Kasih menahan kesalnya.
"Saya tunggu di ruang baca" jawab tuan mudanya.
Ya Allah kesel banget dech sama itu orang untung aja dia tuan mudanya,, oceh Kasih dalam hati sambil membawa baki dan melangkahkan kaki menuju ruang baca.
Sebenernya dia ngapain sich di ruang baca, sok sibuk banget omelan Kasih masih berlanjut sampai ia berdiri di depan pintu.
"Permisi pak tok tok" ucap Kasih
"Kalau kamu cari bapak bapak disini gak ada,, " jawab laki laki yang tetiba saja sudah berdiri di samping pintu kamar yang berada di sebelah ruang baca. Mata laki laki itu mengintimidasi Kasih dengan tatapannya.
"Trus saya harus panggil apa,, nanti saya gak sopan lagi ,, ehm ini mie rebusnya taruh dimana ya tuan muda" jawab Kasih memiringkan bibirnya.
"Tadi saya bilangnya dimana" jawab laki laki itu sembari bergerak ke arah Kasih.
Kasih menatapnya dengan malas sembari menggumamkan "Ruang Baca" lirih.
"Pintar" laki laki itu berlalu di hadapan Kasih dan membuka pintu Ruang Baca.