Di setiap jengkal kehidupan,cobaan dan rintangan akan selalu datang menghadang.Seperti halnya jalan yang mulus saja pasti berliku bahkan menanjak.
Begitu juga hidup kadang kala ada selingkup awan dan kedukaan.
Memasuki liburan kelulusan Riska merayakan bersama ke empat teman dan sekaligus membawa pasangan masing-masing.Karena untuk melanjutkan sekolah selanjutnya mereka belum tentu satu sekolahan.Teman- teman Riska banyak yang melanjutkan ke SMA,yang jelas beda dengan pilihan Riska.
Mereka memilih liburan ke pegunungan untuk menikmati alam,letaknya yang berdekatan dengan hutan Pinus dan air terjun yang menakjubkan.
Setelah mereka sampai ke tempat tujuan,mereka memanjakan mata melihat alam yang sejuk,jauh dari kebisingan dan tak lupa mereka ber selfi untuk mengabadikan kebersamaan mereka.
Tempat terakhir yang mereka tuju adalah air terjun.Dengan begitu mereka bisa bermain air sesukanya dan menyelam di sekitar air terjun.Mereka pikir meskipun capek dengan bermain air di sekitaran situ akan membuat badan tetap segar dan fresh kembali.
Di tepian sekitar air terjun terdapat batu-batu besar yang sebesar mobil bahkan ada yang sebesar rumah.Di batu besar tersebut mereka duduk-duduk sambil bercanda ria menikmati cemilan,tak lupa ber selfi ria.
Tiba-tiba saja saat Mannaf menginjakan kaki di batu besar itu tepat di tepi yang berlumut yang otomatis licin sehingga Mannaf terpeleset jatuh kepalanya membentur batu di sampingnya.Kejadian itu begitu cepat,Riska dan teman-temannya baru menyadari karena bunyi air byurrr,mereka mengira Mannaf sengaja menceburkan diri dari atas batu.
Tapi sampai beberapa menit Mannaf tak terlihat menampakkan dirinya,mereka semua jadi khawatir.Apalagi Riska berteriak-teriak memanggil Mannaf.
"Kak...kak Mannaf...
Mannaf jangan bercanda,cepat kembali,aku gak suka lelucon mu kak!"ucap Riska.
Kini Riska sudah berlinang air mata karena tak ada jawaban dari Mannaf.Berulang kali Riska memanggil Mannaf disertai tangisanya.
"Kak...jangan tinggalin aku"ucap Riska sesak,tetap tak ada jawaban.
Tangisan Riska terdengar pilu hingga teman-teman merasa iba,ikut juga memanggil-manggil Mannaf.
Teman-teman Riska yang cowok berinisiatif mencebur ke dalam air guna mencari keberadaan Mannaf.
Riska terus saja menangis,tak bisa membayangkan keadaan Mannaf.
Setelah tiga jam lamanya pencarian dilakukan,akhirnya Mannaf di temukan dalam keadaan pingsan.Mereka sepakat untuk membawa Mannaf ke rumah sakit terdekat supaya dapat cepat di tangani dokter karena terdapat luka di kepala Mannaf.
Riska senang Mannaf telah di temukan,tapi tetap saja khawatir dengan keadaan Mannaf yang jatuh dan terbawa arus sungai,dan pingsan beberapa jam belum sadar.
"Kak,kamu bisa dengar aku?"please buka matamu kak!"ucap Riska sambil menahan tangis.
Pihak keluarga Mannaf juga sudah di hubungi agar keluarganya tidak bertanya-tanya keberadaan Mannaf saat ini.Setelah Ayah dan ibunya Mannaf sampai rumah sakit,mereka langsung menemui Mannaf yang belum sadar terbaring lemah di bankar rumah sakit.
Setelah Mannaf di periksa dokter,Ayahnya Mannaf segera menemui dokter menanyakan kondisi Mannaf saat ini.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"ucap Ayah Mannaf.
"Luka pasien cukup serius,untung saja cepat ditangani.Meski begitu anda harus siap."ucap dokter.
"Maksud dokter?Apa kondisinya parah?"tanya Ayah Mannaf.
"Karena lukanya di bagian kepala,untuk memastikan lebih lanjut dapat dilihat setelah pasien sadar dan dipantau beberapa hari."jawab dokter.
"Apakah dia akan kehilangan ingatan?"tanya Ayah Mannaf.
"Kita lihat perkembangannya,memang ada kemungkinan pasien mengalami lupa ingatan."jawab dokter.
"Apa dia akan baik-baik saja?"tanya Ayah Mannaf.
"Itu yang kami usahakan,berdoa saja semoga pasien segera membaik."jawab dokter.
"Saya mohon dok,beri yang terbaik untuk menanggani anak saya"ucap Ayah Mannaf.
"Kami usahakan pak."ucap dokter.
"Baik,terima kasih atas informasinya.Saya permisi dok."ucap Ayah Mannaf.
"Ya pak, sama-sama.Silahkan."ucap dokter.
Setelah Ayah Mannaf keluar dari ruang dokter,Ayah Mannaf segera menemui istrinya dan menceritakan kondisi Mannaf saat ini.
Mendengar cerita dari suaminya,Rika ibu Mannaf marah,dia menyalahkan Riska yang jadi penyebabnya.Ibu Rika tak bisa membayangkan jika anaknya tidak mengenali mereka.Pasti di hadapan Mannaf mereka di anggap orang lain meskipun mereka orang tuanya.