"Kamu sangat cantik," Mama Angkasa memuji Keysheva sembari tersenyum manis.
"Makasih, Tante juga sangat cantik malam ini," Keysheva membalas senyuman itu tak kalah manisnya.
Kini Angkasa, Keysheva, beserta kedua orang tua Angkasa sedang makan malam di salah satu Restaurant ternama.
"Bagaimana pekerjaan kamu?"
"Baik Tan," sahut Keysheva ramah.
"Angkasa bagaimana keadaan kantor?," kini giliran Papa Angkasa yang bertanya kepada Angkasa.
"Gak gimana-gimana," sahut Angkasa santai.
"Problemnya udah selesai?"
Angkasa mengangguk singkat, "Udah"
"Masih belum move on juga Sa?" sindir Mama Angkasa kepada Angkasa sembari melirik sinis Angkasa.
Angkasa yang merasa tengah disindir Mamanya itupun langsung menatap Mamanya dan menghela nafasnya, "Udah Ma," sahutnya malas.
Melinda, Mama Angkasa itu tersenyum menatap kearah putranya, "Reva udah mau nikah Sa... jangan berharap lebih sama dia," Melinda mengingatkan putranya itu.
"Iya Ma, aku ngerti"
Sedangkan Keysheva hanya diam mendengarkan pembicaraan tersebut, ia tidak ingin ikut campur dalam masalah ini, ia bukan siapa-siapa.
Makan malam itu pun berjalan dengan sempurna tanpa hambatan, Melinda sangan menyukai Keysheva dan berharap Keysheva bisa menjadi menantunya, tentu saja Keysheva senang dengan hal itu, namun ia kembali berpikir, Angkasa tidak mungkin menyukainya.
Tanpa disadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka yang sedang makan malam sembari mengobrol. Seseorang itu terus memperhatikan sembari tersenyum hambar.
"Jadi dia."
???
Hari ini adalah hari libur, Keysheva tidak ada rencana hari ini, oh ralat, ia berencana untuk bermalas-malasan dirumah, rebahan di kasur, menonton acara televisi, memakan cemilan, itu sangat menyenangkan bagi Keysheva.
"Ke Supermarket dulu deh, belanja." Keysheva berbicara dengan dirinya sendiri, itu hal biasa baginya, ia sering melakukan hal itu.
Keysheva pun memakai baju santai saja untuk ke supermarket kali ini. Memakai celana pendek yang santai, baju berwarna hitam, serta sepatu berwarna putih.
(Kira-kira seperti itu)
Setelah berpamitan dengan Bundanya, Keysheva pun langsung masuk kedalam mobilnya dan mulai mengendarainya menuju ke supermarket terdekat.
Sesampainya di Supermarket, Keysheva langsung menaruh berbagai macam cemilan di troli yang didorongnya.
"Hay," ucap seseorang. Keysheva mendengarnya namun ia tak menghiraukannya, ia pikir orang itu bukan memanggilnya.
"Hay," ulang orang itu, kali ini orang itu berdiri disebelah Keysheva dan menatap kearah Keysheva.
Keysheva mengentikan langkahnya, menatap orang itu, dan alangkah terkejutnya ia melihat siapa orang yang barusan menyapanya itu.
Seorang wanita cantik yang kira-kira seumuran dengannya, wanita itu tengah menatapnya sembari tersenyum. Wanita itu tidak asing! Keysheva mengenalnya!
Wanita itu adalah wanita yang mengobrol dengan Angkasa saat itu!
Dia adalah Reva, mantan Angkasa!
"Udah selesai belanjanya? Gue boleh ngobrol sebentar sama lo? Didepan ada Cafe, kita bisa ngobrol disana," ucap Reva sembari tersenyum tipis.
Keysheva belum menjawab, ia masih diam, menatap Reva dengan seksama, gadis dihadapannya itu terlihat sangat cantik jika dari dekat, pantas saja Angkasa jatuh hati kepadanya.
"Hey? Lo denger gue kan?"
Keysheva tersenyum canggung lalu mengangguk, "I—iya... oke gue bayar dulu bentar," ucap Keysheva lalu ia segera menuju ke kasir.
Setelah selesai membayar, Keysheva dan Reva pun berjalan beriringan menuju Cafe yang ada di seberang jalan. Mereka berdua masuk kedalam cafe itu, memesan minuman, dan mulai mengobrol.
"Kita belum kenal sebelumnya. Nama gue Reva, lo?"
"Keysheva"
Reva mengangguk paham, "Ah iya mungkin langsung ke intinya aja ya, biar gak buang-buang waktu," Keysheva mengangguk mengiyakan ucapan Reva.
"Gue mantan Angkasa. Gue pacaran sama dia sekitar 2 tahun, gue cinta banget sama dia, begitupun sebaliknya,"
Keysheva bingung, apa sebenarnya yang ingin Reva katakan? Menyuruhnya untuk menjauhi Angkasa?. Tapi untuk apa, bukannya Reva sebentar lagi akan menikah?
"Kita udah ngerencanain masa depan kita berdua... mulai dari rencana nikah, bulan madu, memiliki keluarga lengkap, dan lainnya," Reva menghela nafasnya, "Tapi sayangnya semua rencana itu gagal, karena gue harus nikah sama cowok pilihan orang tua gue," sambungnya.
"Gue gak bisa nentang orang tua gue. Keluarga gue punya hutang yang sangat banyak sama keluarganya si cowok yang bakal nikah sama gue itu"
Kasihan, itulah satu kata yang terpikir oleh Keysheva untuk saat ini.
"Dan akhirnya, disaat gue sama Angkasa udah mau tunangan, gue malah tunangan sama cowok itu. Gue bilang sama Angkasa kalau gue udah gak cinta sama dia, padahal gue bohong, gue cinta sama dia, lebih dari apapun," Reva terus bercerita dengan sangat pelan, dan Keysheva mendengarkan cerita Reva itu dengan seksama.
"Gue gak mau cerita sama Angkasa tentang masalah ini, gue gak mau nambah beban dia"
"Jadi...—" Reva menatap Keysheva lalu tersenyum tipis, "Gue mohon sama lo, jaga Angkasa, jangan tinggalin dia, cukup gue aja yang ninggalin dia," sambungnya.
Keysheva sungguh tidak menyangka Reva akan mengatakan hal seperti itu. Ia kira Reva akan menyuruhnya untuk menjauhi Angkasa.
"Gue tau lo perempuan baik-baik, pekerja keras, cantik, baik juga, ya walaupun gue baru pertama kali berhadapan sama lo, tapi gue tau lo wanita baik," Reva tersenyum diakhir kalimatnya.
Keysheva membalas senyuman itu, "Tapi—"
"Gue tau lo suka sama Angkasa... keliatan dari cara lo natap Angkasa hehe," Reva terkekeh pelan.
Keysheva tersipu malu dibuatnya, "Gue sama Angkasa itu cuman temen..."
"Gue sama Angkasa awalnya juga temen," sahut Reva cepat.
"Dan gue rasa... Angkasa juga mulai suka sama lo," ucap Reva tiba-tiba.
"Ngaco lo! Mana mungkin ah,"
"Mungkin aja ya... lo kasih perhatian kecil ke Angkasa, itu bisa membuat Angkasa suka sama lo," ucap Reva sembari tersenyum tipis.
"Perhatian kecil?"
"Misalnya lo anterin dia makanan pas jam makan siang," sahut Reva.
"Tapi Key—"
"Apa?" Tanya Keysheva.
"Kalau lo nganterin dia makan siang ke kantor, banyak rintangannya. Pertama lo harus ijin ke resepsionis, gak mudah loh dapat ijinnya, apalagi orang-orang kantor gak kenal sama lo. Terus lo harus ngelewatin pegawai cabe-cabean Angkasa, lo harus siap mental. Terus lo juga harus ngelewatin sekretaris bohay nya Angkasa, pokoknya lo bakal dikasih berbagai pertanyaan disana, bisa-bisa dikatain, seriusan deh," jelas Reva panjang lebar.
"Hahaha, gitu ya Rev?" Keysheva tertawa mendengar penjelasan Reva.
"Serius deh gue. Pertama kali gue ke kantor Angkasa, gue dikata-katain sama pegawainya, dibilang cewek gak tau diri lah, dibilang cuman mau harta nya Angkasa lah, terus belum lagi ditatap sinis sama Jennifer, si sekretaris Angkasa," ucap Reva dengan perasaan jengkel.
"Tapi gue sih bodo amat ya... lama kelamaan juga pegawai Angkasa malah selalu lempar senyum ke gue, hahaha, suka ngakak kalau inget itu,"
Keysheva tertawa mendengar ucapan Reva. Ternyata Reva tak seburuk yang ia kira, wanita itu bukan wanita jahat. Buktinya, Reva mendukung hubungannya dengan Angkasa.