Tidak ada jawaban.
Sena mengetuk sekali lagi, lebih pelan, hampir berharap memang tidak ada siapa-siapa di dalam supaya ia punya alasan untuk pergi. Tapi kali ini ada suara—gesekan kursi, langkah kaki, lalu pintu kayu tua itu terbuka dengan keluhan engsel yang panjang.
Seorang anak laki-laki berdiri di ambang pintu. Tinggi, kurus, dengan rambut sedikit berantakan seolah baru saja bangun dari tidur singkat. Matanya tenang, jenis ketenangan yang membuat orang lain ikut menurunkan suara saat bicara dengannya. Ia memegang sebuah buku tulis yang segera ia tutup begitu melihat Sena, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ya?" katanya. Suaranya rendah dan pelan.
"Um." Sena mengangkat kertas Bu Ratih seperti perisai. "Saya... disuruh ke sini. Klub Sastra. Saya harus daftar ekskul dan—"
"Masuk saja." Ia melangkah mundur, membuka pintu lebih lebar.
Sena masuk, dan untuk sesaat ia hanya bisa berdiri terpaku.
Ruangan itu kecil, lebih kecil dari kelas biasa, dan penuh dengan rak-rak buku yang berderet dari lantai sampai hampir menyentuh langit-langit. Buku-buku itu tampak tua, sampulnya menguning, beberapa bahkan miring kelelahan di rak. Bau khas kertas lama memenuhi udara—bau yang justru membuat Sena merasa, untuk pertama kalinya hari itu, sedikit lebih tenang. Di tengah ruangan ada satu meja panjang dengan beberapa kursi yang tak seragam, seolah dikumpulkan dari berbagai tempat. Sinar sore masuk lewat jendela besar dan menumpahkan cahaya keemasan ke atas tumpukan kertas.
Tapi yang paling mencolok adalah betapa kosongnya ruangan ini. Hanya ada satu orang. Anak laki-laki itu.
"Cuma... kamu?" tanya Sena sebelum sempat menahan diri.
Anak laki-laki itu duduk kembali di kursinya, di dekat jendela. "Sekarang ya. Namaku Damar. Ketua klub." Ia menyandarkan punggung. "Sebenarnya 'ketua' itu istilah yang agak berlebihan untuk mengetuai klub yang anggotanya bisa dihitung pakai satu jari."
Sena memandang berkeliling sekali lagi. "Klub ini... cuma satu orang?"
"Empat, secara resmi. Tapi yang lain jarang datang." Damar mengangkat bahu, gestur yang ia lakukan seperti sudah terlalu sering. "Klub Sastra ini dulu besar, katanya. Bertahun-tahun lalu. Ada lemari penuh piala di sana." Ia menunjuk sudut ruangan, tempat sebuah lemari kaca berdiri dengan beberapa piala berdebu di dalamnya. "Tapi itu sebelum aku lahir, mungkin. Sekarang... ya, begini."
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat Sena tidak tahu harus berkata apa. Bukan keluhan, bukan kesedihan—lebih seperti penerimaan yang lelah. Seperti orang yang sudah lama berhenti berharap.
"Kamu mau daftar?" Damar bertanya, memecah keheningan. "Atau cuma disuruh datang?"
Sena merasa pipinya menghangat. "Yang... kedua. Maaf. Bu Ratih bilang ini syarat kelulusan. Semua ekskul lain sudah penuh, jadi—"
"Jadi kamu nyasar ke sini." Damar tersenyum kecil, dan anehnya senyum itu tidak menyinggung sama sekali. "Tidak apa-apa. Kebanyakan orang yang masuk klub ini memang nyasar." Ia meraih sebuah buku tulis bersampul cokelat dari laci meja, lalu membukanya ke halaman yang hampir kosong. "Tulis namamu di sini. Kelas dan nomor absen juga."
Sena mendekat, mengambil pena, dan menulis dengan tangan yang masih sedikit kaku. *Sena Maharani. XI-3. Absen 24.* Ketika ia mengangkat pandangan, ia sadar Damar sedang mengamatinya—bukan dengan cara yang membuat tidak nyaman, tapi seperti seseorang yang terbiasa memperhatikan detail kecil.
"Kamu suka baca," kata Damar. Itu bukan pertanyaan.
"Kok tahu?"
"Cara kamu lihat rak buku tadi." Ia menunjuk dengan dagunya. "Orang yang tidak suka baca tidak akan melihat rak buku seperti itu. Kamu seperti melihat kolam waktu kehausan."
Sena tidak tahu harus tersinggung atau tersanjung, jadi ia memilih diam. Tapi diam-diam, dalam hatinya, ia mengakui bahwa Damar benar. Buku-buku ini, ruangan ini, baunya, cahayanya—ada sesuatu yang menariknya. Sesuatu yang membuat bagian dirinya yang biasa bersembunyi justru ingin tinggal lebih lama.
"Jadi," kata Sena hati-hati, "apa yang biasanya dilakukan di klub ini?"
Damar memandang ke luar jendela sebentar, ke arah lapangan tempat anak-anak ekskul lain berlatih dengan riuh. "Kami baca. Kadang nulis. Kadang cuma duduk dan diam, dan itu juga tidak apa-apa." Ia menoleh kembali ke Sena. "Klub ini namanya Jam Ketujuh karena dulu, kata pendirinya, jam ketujuh itu jam saat kelas sudah selesai tapi hari belum berakhir. Jam di antara. Jam tempat orang akhirnya bisa jadi diri sendiri." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Setidaknya itu yang tertulis di buku catatan lama klub ini."
Sena merasakan sesuatu yang hangat dan asing menggelembung di dadanya. *Jam tempat orang akhirnya bisa jadi diri sendiri.* Ia memikirkan perpustakaan, sudut nyamannya, semua tempat ia bersembunyi selama ini. Mungkin ia tidak bersembunyi. Mungkin ia hanya sedang mencari jam ketujuhnya sendiri.
"Boleh aku duduk di sini? Hari ini saja?" tanya Sena, dan ia sendiri kaget mendengar dirinya bertanya.
Damar mengangkat alis, lalu tersenyum—senyum yang lebih lebar kali ini. "Tentu. Ambil kursi mana saja. Tapi awas, yang dekat jendela suka goyang." Ia membuka kembali buku tulis yang tadi ia sembunyikan, dan mulai menulis lagi.
Sena memilih kursi di seberang Damar, mengeluarkan buku dari tasnya, dan untuk pertama kalinya sejak Bu Ratih memanggilnya tadi siang, ia merasa napasnya kembali normal. Di luar, matahari turun perlahan. Di dalam ruangan yang hampir dilupakan itu, dua orang duduk dalam diam yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri—dan entah bagaimana, untuk sekali ini, kesendirian itu terasa tidak begitu sepi.