Laporan itu datang setengah dari rasa kasihan, setengah dari rasa risih. Bu Inah menerimanya di pos kader sambil menimbang bayi, lalu mengetik pesan ke grup keswa Puskesmas dengan dua jari: ada orang diikat di Wuni Lor, katanya gila, sudah lama, tetangga mulai mengeluh baunya.
Andarini Saraswati membaca pesan itu di atas motor dinas yang mesinnya masih dingin. Orang memanggilnya Rani, dan Rani sudah hafal nada laporan semacam ini—nada yang menyebut manusia dengan kata "katanya" dan "sudah lama", seolah waktu yang panjang membuat penderitaan jadi wajar. Ia memasukkan ponsel ke saku rompi, menyalakan motor, dan berkata pada Yoga yang membonceng di belakang, "Bawa tensi, senter, sama yang di kotak P3K lengkap. Jangan lupa sarung tangan dua pasang."
Dusun Wuni Lor menempel di pinggir kecamatan Tanjung Wuni seperti sisa kampung yang lupa ikut pindah ke kota. Gang-gangnya cukup untuk satu motor, rumahnya berdempetan, dan di antara tembok-tembok plester yang menghitam masih ada petak sawah yang menyusut tiap tahun. Rani lahir tiga gang dari sini. Ia tahu rumah mana yang punya sumur, rumah mana yang anaknya merantau, dan—ini yang membuat dadanya selalu sedikit sesak tiap masuk—rumah mana yang menyimpan sesuatu di belakang.
Mereka berhenti di depan rumah Pak Darmin. Lelaki tua itu keluar dengan wajah yang sudah menyiapkan penolakan. "Nggak ada apa-apa, Mbak. Cuma anak saya. Sudah dari sananya begitu."
"Saya dari Puskesmas, Pak. Andarini. Yang dulu anak Bu Tukinem, penjual nasi pecel di pasar lama." Rani sengaja menyebut ibunya. Di kampung, nama lebih berguna daripada seragam. Mata Pak Darmin melunak sedikit. Rasa malu pada orang asing berbeda dengan rasa malu pada anak tetangga.
Ia mengantar mereka memutar lewat samping, ke bagian rumah yang tak punya jendela menghadap jalan. Bau itu menyambut lebih dulu daripada gelap: pesing yang sudah meresap ke tanah, bercampur asam keringat dan sesuatu yang manis-busuk, bau luka yang lama tak dibasuh. Yoga refleks menutup hidung dengan punggung tangan, lalu menurunkannya cepat-cepat, malu pada dirinya sendiri.
Di sudut gudang, di atas dipan bambu tanpa alas, duduk seorang lelaki. Kakinya—pergelangan kaki kanannya—terkurung balok kayu yang dilubangi, model pasung lama yang dijepit dua bilah dan dipaku. Rantai sepeda tua menambah ikatan ke tiang. Tubuhnya kurus sampai tulang selangkanya seperti gantungan baju. Rambutnya gimbal. Kuku kakinya panjang melengkung. Dan matanya—Rani selalu memulai dari mata—matanya menatap satu titik di lantai, jauh, seperti orang yang sudah lama berhenti menunggu siapa pun datang.
"Namanya siapa, Pak?" tanya Rani pelan.
"Sutejo." Pak Darmin berdiri di ambang, tak mau masuk. "Dulu kerja di bengkel. Umur empat puluh dua sekarang. Mulai aneh waktu dua puluhan, ngomong sendiri, dengar suara-suara, nuduh tetangga mau bunuh dia. Pernah ngamuk, mecahin kaca, ngejar adiknya pakai parang. Kami bawa ke orang pinter, dimandiin, dikasih air. Nggak mempan. Akhirnya begini. Demi selamat semua."
Demi selamat semua. Rani sudah mendengar kalimat itu puluhan kali, dan tiap kali ia menahan diri untuk tidak mengoreksi siapa yang sebenarnya selamat. Ia jongkok perlahan, menjaga jarak dua langkah, tidak menjulurkan tangan, tidak menatap lurus—matanya ke arah dipan, suaranya rendah dan datar.
"Pak Sutejo. Saya Rani. Saya bukan polisi, bukan orang yang mau bawa Bapak ke mana-mana sekarang."
Tak ada jawaban. Hanya napas. Yoga membuka kotak dengan gerakan pelan, menyiapkan tensimeter, tapi Rani memberi isyarat menunggu. Belum waktunya menyentuh.
Ia memperhatikan dengan mata seorang perawat: pergelangan kaki di balok kayu itu lecet melingkar, dagingnya menebal jadi parut keras di satu sisi dan menganga basah di sisi lain. Otot betisnya nyaris hilang. Kulitnya di bagian bokong, dari duduk bertahun di bambu yang sama, pasti penuh luka tekan yang tak terlihat dari sini. Ini bukan kasus yang bisa selesai hari ini, dan Rani tahu itu. Membebaskan kaki dari kayu adalah pekerjaan lima menit dengan obeng. Membebaskan sisanya butuh bertahun, dan butuh sesuatu yang lebih langka daripada obeng: kepercayaan satu keluarga yang sudah lama menyerah.
"Sudah berapa tahun, Pak?" tanya Rani tanpa menoleh ke Pak Darmin.
Lelaki tua itu menghitung dengan jari, lalu berhenti. "Lupa. Belasan."
Belasan. Rani menelan sesuatu yang naik ke tenggorokan. Di kepalanya, sebentar saja, terbuka pintu lain—gudang lain, bau yang sama, dan suara yang dulu ia kenal memanggil namanya dari balik kayu, suara kakaknya. Ia menutup pintu itu cepat-cepat. Bukan sekarang. Sutejo bukan Bagas. Tapi tubuhnya tahu, tubuhnya selalu lebih dulu tahu daripada pikirannya.
Ia mengeluarkan dari tasnya sebotol air minum dan membukanya, lalu meletakkannya di lantai, dalam jangkauan tangan Sutejo, tanpa menyodorkan. Sebuah tawaran tanpa paksaan. Lalu ia ikut duduk di lantai semen yang dingin, menyamakan tingginya, dan diam.
Waktu di gudang itu bergerak lambat. Yoga gelisah di belakang. Pak Darmin batuk-batuk kecil, menunggu mereka selesai dan pergi. Tapi Rani menunggu hal lain. Ia menunggu satu hal yang tak bisa diburu.
Dan setelah entah berapa lama—mungkin sepuluh menit, mungkin dua puluh—tangan kurus itu bergerak. Pelan, ragu, seperti tangan yang lupa caranya meminta. Jari-jarinya yang kotor meraih botol di lantai. Tapi bukan itu yang membuat napas Rani tertahan.
Mata Sutejo terangkat. Untuk pertama kali sejak mereka masuk, lelaki itu memindahkan tatapannya dari titik di lantai ke wajah Rani. Bukan tatapan kosong. Bukan tatapan binatang terjebak yang selama ini disangka keluarganya. Ia menatap perempuan asing di depannya dengan sesuatu yang Rani kenali, sesuatu yang membuat seluruh program ini ada—ia menatapnya seperti seorang manusia yang sedang menimbang apakah aman, akhirnya, untuk diperlakukan sebagai manusia.
Rani tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, dan berkata, "Iya. Saya lihat Bapak."