Pagi berikutnya tim keswa berkumpul di ruang yang oleh Puskesmas Tanjung Wuni dengan murah hati disebut "ruang konseling", padahal aslinya gudang arsip yang disekat tripleks. Rani menempel foto pergelangan kaki Sutejo di papan, di samping lembar pengkajian yang sudah ia isi semalam.
"Skizofrenia kronis, tidak diobati belasan tahun," katanya. "Komplikasi pasung: kontraktur kaki kanan, atrofi otot tungkai, ulkus dekubitus di sakrum, luka lecet melingkar di pergelangan yang sudah terinfeksi. Status gizi buruk. Kemungkinan besar belum pernah dapat antipsikotik sama sekali."
dr. Pram, kepala Puskesmas merangkap satu-satunya dokter umum yang menetap, menyandarkan punggung ke kursi dengan ekspresi seorang yang sudah menghitung anggaran sebelum mendengar rencana. "Rani, aku nggak bilang dia nggak perlu ditolong. Aku bilang kita ini punya satu Puskesmas buat lima belas ribu jiwa. Stok risperidon-mu untuk semua pasien jiwa terdaftar saja sering kosong tengah bulan. Sekarang kamu mau buka kasus pasung yang artinya komitmen bertahun. Siapa yang nyetir motor ke Wuni Lor tiap minggu? Kamu? Sambil tetap pegang Posyandu, TB, KIA?"
"Saya," jawab Rani tanpa ragu. "Dan Yoga."
Yoga, perawat termuda di tim, baru setahun dari bangku kuliah, mengangkat dagu seolah ditunjuk jadi tentara. "Saya siap, Dok."
dr. Pram memijat pelipisnya. "Idealisme itu murah di tahun pertama. Mahal di tahun kelima." Tapi ia tidak melarang. Ia menandatangani lembar rencana asuhan, dan di kolom catatan ia menulis: lanjutkan, dengan catatan beban kerja dipantau. Tanda tangan yang setengah hati, tapi tanda tangan.
Sorenya mereka kembali ke rumah Pak Darmin. Kali ini bukan untuk membuka pasung—Rani tahu itu kesalahan pemula, melepas paksa lalu kabur meninggalkan keluarga sendirian dengan ketakutan mereka. Ia datang untuk menawar.
Istri Pak Darmin, Bu Surti, ibu Sutejo, akhirnya muncul. Perempuan itu tak mau masuk gudang, bicara dari teras dengan tangan meremas ujung daster. "Mbak nggak ngerti. Dia pernah hampir bunuh adiknya. Kalau dilepas terus ngamuk lagi, siapa yang tanggung? Mbak? Mbak nggak tidur di rumah ini."
"Saya ngerti takutnya, Bu," kata Rani, dan ia betul-betul mengerti. "Saya nggak minta dilepas sekarang. Saya minta izin satu hal kecil: kasih dia obat tiap hari, lewat saya, dan biar saya rawat lukanya. Pasung tetap. Tapi kita coba apakah obatnya bikin dia lebih tenang. Kalau setelah beberapa minggu Ibu lihat dia makin tenang, baru kita ngobrol soal kayu itu. Kalau dia makin parah, Ibu boleh suruh saya berhenti."
Tawaran itu memberi keluarga sesuatu yang selama ini tak pernah mereka punya: kendali. Bukan orang Puskesmas yang memaksa, tapi mereka yang memegang rem. Bu Surti menatap suaminya. Pak Darmin mengangguk pelan.
Bu Inah, kader yang ikut, sudah menyiapkan air hangat dan kain bersih. Rani mengenakan sarung tangan, jongkok di samping dipan, dan untuk pertama kali menyentuh kulit Sutejo—membersihkan luka melingkar di pergelangan kaki dengan gerakan yang pelan dan selalu memberitahu lebih dulu apa yang akan ia lakukan. "Saya bersihin ya, Pak. Mungkin perih sedikit. Saya pelan-pelan."
Sutejo meringis tapi tak menarik kakinya. Yoga di belakang mencatat tanda vital. Bau infeksi menusuk, tapi Rani sudah lama berhenti memikirkan bau. Yang ia pikirkan adalah otot betis yang nyaris tak ada, sendi pergelangan kaki yang sudah kaku ke satu posisi, dan berapa bulan fisioterapi sederhana yang harus dijalani sebelum kaki ini bisa menopang tubuh lagi—seandainya, seandainya semua tahap lain berhasil.
Dosis pertama risperidon ia berikan saat itu juga, dengan air dari botol yang sama yang kemarin diraih Sutejo. Ia menjelaskan pada Bu Surti tiap butir: ini untuk meredakan suara-suara di kepala anaknya, bukan untuk membuatnya tidur terus, dan butuh waktu berminggu sebelum kelihatan hasilnya. "Jangan berhenti kalau belum kelihatan efek. Justru kalau berhenti, dia bisa balik parah."
Mereka sudah hampir pulang ketika sebuah suara memanggil dari ujung gang. Kepala Dusun Wuni Lor, Pak Hardi, lelaki bertubuh tegap dengan rokok terselip di telinga, menghampiri dengan langkah yang sengaja dilambatkan agar terlihat berwibawa.
"Mbak Rani." Ia tersenyum, tapi senyum yang dingin. "Saya dengar Mbak rutin ke sini sekarang. Saya cuma mau ingatkan. Keluarga Darmin itu sudah tenang bertahun-tahun. Kampung juga tenang. Jangan sampai gara-gara program Mbak, orangnya dilepas terus bikin onar, terus warga panik, terus saya yang dimarahin Pak Lurah. Tolong urus yang rapi. Jangan bikin ribut di dusun saya."
Ia tidak menunggu jawaban. Ia membuang puntung rokok ke selokan dan berlalu, meninggalkan kalimat itu menggantung seperti pasung jenis lain. Rani memandang punggungnya, lalu memandang gudang gelap di belakang rumah Pak Darmin, dan menyadari sesuatu yang akan ia bawa pulang malam itu: yang mengikat Sutejo bukan cuma rantai sepeda dan balok kayu. Ada ikatan yang tak kelihatan, yang melilit seluruh kampung, dan ujungnya dipegang oleh tangan-tangan yang lebih takut pada keributan daripada pada penderitaan.