Perempuan tua di gang itu bernama Bu Tarni, dan yang ia jaga di lorong belakang bukan anaknya, melainkan ibunya—Mbah Ginem, tujuh puluhan, yang kakinya dirantai ke tiang dipan dengan rantai anjing yang dibeli di toko kelontong.
Rani masuk dengan izin, dan apa yang ia temukan membuatnya menyusun ulang seluruh gambaran yang ia bawa tentang pasung. Mbah Ginem tidak menatap titik jauh di lantai seperti Sutejo. Ia menatap Rani dengan senyum, ramah, dan menyapanya dengan nama seseorang yang bukan Rani—"Sri, kamu sudah pulang? Ibu masakin sayur lodeh, ya"—lalu sedetik kemudian bertanya di mana ia berada, kenapa kakinya sakit, kapan suaminya yang sudah meninggal dua puluh tahun lalu akan menjemputnya. Pikirannya datang dan pergi seperti pasang surut, membawa wajah-wajah dari masa lalu ke ruang sempit ini, lalu menariknya kembali ke kebingungan.
Ini bukan psikosis. Ini bukan skizofrenia, bukan epilepsi, bukan depresi. Ini demensia—otak tua yang perlahan kehilangan peta dunianya sendiri. Dan rantai itu, Rani segera mengerti, tidak dipasang oleh kebencian.
"Saya kerja, Mbak," kata Bu Tarni, duduk di lantai di samping ibunya, tangannya mengelus rambut beruban Mbah Ginem dengan kelembutan yang menyakitkan untuk ditonton. "Cuci-setrika dari rumah ke rumah, dari pagi sampai sore. Suami saya sudah nggak ada. Anak saya merantau. Cuma saya yang ngurus Ibu." Ia menelan ludah. "Dulu Ibu suka keluar. Lupa jalan pulang. Pernah hilang seharian, ketemu di pasar nangis-nangis nggak tahu rumahnya di mana. Pernah hampir ketabrak motor. Pernah nyalain kompor terus lupa, hampir kebakaran." Air matanya jatuh. "Saya nggak bisa jagain dia terus sambil kerja. Kalau saya nggak kerja, kami nggak makan. Jadi pas saya pergi... saya iket. Biar dia nggak ke mana-mana. Biar dia aman. Biar dia masih ada pas saya pulang."
Rani duduk diam, menyerap kebenaran yang berbeda dari semua kasus sebelumnya. Pada Sutejo, ia melawan stigma. Pada Wulan, ia melawan mitos guna-guna dan rasa malu. Tapi di sini, di gang pasar ini, ia tak punya musuh untuk dilawan. Bu Tarni bukan keluarga yang menyerah karena malu. Ia perempuan yang mencintai ibunya sampai ke ujung tenaganya, lalu menemukan bahwa cinta saja tak cukup ketika kemiskinan memaksanya memilih antara menjaga dan makan—dan ia memilih rantai karena rantai adalah satu-satunya cara ia tahu untuk memastikan ibunya masih hidup saat ia pulang.
Dan obat tak menjawab ini. Tak ada suntikan untuk demensia. Tak ada risperidon yang mengembalikan peta dunia ke otak yang menua. Yang Mbah Ginem butuhkan bukan obat penenang—justru obat penenang akan mempercepat kemunduran. Yang ia butuhkan adalah penjagaan. Mata yang mengawasi. Seseorang yang ada saat Bu Tarni harus pergi. Dan itu, di kampung yang nyaris tak punya apa-apa, adalah barang yang lebih langka daripada obat mana pun.
Rani tak menjanjikan keajaiban. Ia tak pernah lagi menjanjikan keajaiban setelah gudang Sutejo. Tapi ia mulai berpikir—keras, praktis, membumi. Penitipan siang, bukan rantai. Mungkin tetangga yang bisa dititipi dengan sedikit imbalan. Mungkin Posyandu lansia yang bisa jadi tempat Mbah Ginem dititip beberapa jam. Mungkin Bu Sri, kader baru yang rumahnya dekat dan yang siangnya kosong. Mungkin pagar yang aman di halaman, bukan rantai di kaki, supaya Mbah Ginem bisa bergerak tanpa hilang. Bukan satu solusi besar. Banyak solusi kecil yang ditambal-tambal jadi jaring—seperti subuh ketika tiga jam jarak ke provinsi runtuh oleh banyak tangan.
Ia melepas rantai dari kaki Mbah Ginem sore itu, perlahan, sementara Mbah Ginem bertanya apakah ia akan diajak ke pasar membeli ikan. Kulit di pergelangan kaki itu lecet tapi tak separah Sutejo—rantai anjing lebih lunak dari balok kayu, dan Bu Tarni jelas sering melonggarkannya, sering membersihkannya, menjaga ibunya di dalam batas yang ia mampu.
Ketika Rani hendak pamit, Bu Tarni menggenggam tangannya, erat, dengan tangan yang kasar oleh cucian bertahun-tahun. Ia tak meminta maaf seperti Pak Darmin. Ia tak menangis seperti Bu Surti. Ia hanya menatap Rani dengan mata seorang yang sudah terlalu lama sendirian memikul sesuatu, dan berkata dengan suara yang serak dan jujur dan tanpa pembelaan:
"Saya bukan nggak sayang Ibu saya, Mbak. Saya sayang banget. Saya cuma capek. Dan saya takut—takut suatu hari saya pulang kerja, terus dia udah nggak ada di mana-mana. Saya ngerantai dia bukan karena benci. Saya ngerantai dia karena saya takut kehilangan dia di jalan."
Dan Rani, yang seumur hidup mengira ia mengerti semua bentuk pasung, berdiri di gang sempit itu dan mengerti satu bentuk baru: rantai yang ditempa bukan dari kebencian atau malu, tapi dari cinta yang kehabisan pilihan.