Gagasannya sederhana, dan justru karena sederhana, hampir tak mungkin.
Rani sudah melihat pola yang sama di tiap rumah: keluarga yang merawat ODGJ selalu merawat sendirian. Bu Surti tak pernah bertanya pada tetangga bagaimana menenangkan Sutejo, karena bertanya berarti mengaku punya aib. Bu Tarni tak pernah tahu ada keluarga lain di gang seberang yang juga memikul beban yang sama, karena tiap keluarga menyembunyikan bebannya seolah ia satu-satunya di dunia. Mas Bayu hancur seorang diri karena ia mengira tak ada yang pernah mengalami apa yang ia alami. Stigma membuat tiap keluarga jadi pulau yang terisolasi—dan pulau yang terisolasi paling mudah tenggelam.
Jawabannya, di buku teks, punya nama yang membumi: Posyandu Jiwa. Bukan klinik, bukan rumah sakit. Hanya pertemuan rutin—keluarga ODGJ berkumpul, berbagi cara merawat, saling menjaga saat satu keluarga harus pergi, dan, yang terpenting, saling membuktikan bahwa mereka tidak sendirian. Sederhana. Murah. Tak butuh obat yang sering kosong. Hanya butuh satu hal yang paling sulit di kampung ini: keberanian untuk duduk di ruangan yang sama dan mengakui, di hadapan sesama, bahwa di rumah mereka ada seseorang yang sakit jiwa.
Rani memilih balai Posyandu kecil di dekat langgar Ustaz Karim—tempat yang sudah biasa dikunjungi orang, sehingga datang ke sana tak menarik perhatian. Ustaz Karim setuju membuka acara dengan doa, memberi payung moral agar keluarga merasa ini ikhtiar yang dihormati, bukan tontonan aib. Bu Inah menyebar undangan dari mulut ke mulut, bukan selebaran. Rani sengaja tak menyebut kata jiwa di undangan. Ia menyebutnya pertemuan keluarga, samar, agar tak ada yang merasa dicap di depan umum sebelum mereka bahkan datang.
Pertemuan pertama, ia sudah menyiapkan diri untuk kekecewaan.
Dan kekecewaan itu datang. Hanya tiga keluarga muncul. Bu Surti, datang lebih dulu, duduk di sudut dengan kerudung ditarik agak menutup wajah. Mas Bayu, tanpa istrinya, dengan mata yang masih menyimpan lelah. Dan, mengejutkan Rani, Bu Tarni—yang datang membawa Mbah Ginem sekalian, karena tak ada yang menjaganya di rumah, dan mungkin juga karena ia sudah terlalu lelah menyembunyikan.
Ketiganya duduk berjauhan, canggung, menghindari mata satu sama lain. Tiga pemilik aib di ruangan yang sama, masing-masing yakin aib mereka yang paling memalukan. Ustaz Karim membuka dengan doa pendek. Lalu hening. Rani mencoba memancing—menjelaskan tujuan, menawarkan teh—tapi keheningan itu keras, tebal, ketakutan kolektif untuk jadi yang pertama membuka mulut.
Lalu Bu Surti, perempuan yang dulu menjerit minta kayu dipasang lagi di kaki anaknya, melakukan sesuatu yang Rani tak menyangkanya. Ia mengangkat wajah, melepas tarikan kerudungnya, dan mulai bicara—pelan, terbata, tapi bicara.
"Anak saya, Tejo, dipasung belasan tahun." Ruangan membeku. "Saya pikir dia kerasukan. Saya pikir dia harus dirantai biar selamat semua. Saya... saya malu sama tetangga, malu sama kampung." Tangannya gemetar di pangkuan. "Tapi sekarang dia bisa jalan. Lima langkah, kemarin. Dia nyebut nama saya. Dia nanya kabar adiknya. Dia... dia anak saya lagi." Air matanya jatuh, tapi suaranya menguat. "Saya cuma mau bilang ke yang lain. Jangan kayak saya, yang nunggu belasan tahun. Kalau ada cara, coba. Saya nyesel nunggu lama."
Sesuatu retak di ruangan itu. Bukan tembok besar yang runtuh—hanya retakan tipis, satu garis di permukaan stigma yang bertahun-tahun membatu. Tapi retakan adalah tempat cahaya pertama masuk. Bu Tarni, yang seumur hidup memikul Mbah Ginem sendirian, mengangkat wajahnya dan, untuk pertama kali, menatap mata Bu Surti—dua perempuan yang baru menyadari mereka tidak sendirian. Mas Bayu menunduk, bahunya berguncang pelan, mungkin karena untuk pertama kali ia mendengar seseorang lain mengucapkan apa yang ia kira hanya bebannya seorang.
Pertemuan itu tak menyembuhkan siapa pun. Tak ada obat dibagikan, tak ada rantai dilepas hari itu. Ketika bubar, ketiga keluarga pulang ke rumah masing-masing, ke pasien masing-masing, ke kesulitan masing-masing yang tak berkurang seujung rambut pun.
Tapi di pintu, saat berpamitan, Bu Tarni menahan langkah di samping Rani dan berkata pelan, hampir malu, "Minggu depan ada lagi, Mbak?" Dan Bu Surti, yang mendengar, ikut menjawab untuk Rani, "Ada. Saya bawa Tejo, biar yang lain liat." Dan Mas Bayu, dari ambang pintu, mengangguk sekali—janji diam-diam untuk kembali.
Rani berdiri di balai kosong setelah mereka pergi, memandang kursi-kursi yang masih berantakan, dan untuk pertama kali sejak surat rujukan yang ditolak itu tergeletak di lantai gudang, ia merasakan sesuatu yang lebih kuat daripada lega. Bukan kemenangan. Hanya benih. Tiga keluarga yang besok mungkin jadi enam, lalu sepuluh—keluarga-keluarga yang dulu saling menyembunyikan, perlahan belajar saling menjaga. Dan dari benih sekecil itu, ia tahu, kadang tumbuh hal-hal yang akhirnya cukup kuat untuk menahan rantai tetap terbuka.