Rani memutuskan sudah waktunya. Ia menyerahkan kasus Topan sepenuhnya kepada Yoga.
Secara klinis, Topan adalah kasus yang paling mungkin berhasil—epilepsi yang selama tujuh tahun disangka kesurupan, kini terkontrol dengan asam valproat, kejangnya jarang, dan pemuda sembilan belas tahun itu punya keinginan untuk hidup kembali. Tapi Rani tak menyerahkannya karena mudah. Ia menyerahkannya justru karena ia tahu program ini tak boleh selamanya bergantung pada satu tubuh, satu nama, satu perawat yang akan kelelahan dan suatu hari runtuh. Yoga harus belajar memegang sebuah nyawa sendirian.
"Kamu yang pegang dari sekarang," kata Rani, menyerahkan buku catatan Topan. "Kunjungan, dosis, edukasi keluarga, semuanya. Saya nggak akan ikut campur kecuali kamu minta atau ada kegawatan. Anggap saya nggak ada."
Yoga menerima buku itu dengan campuran bangga dan gugup. "Beneran, Mbak? Nggak diawasi?"
"Diawasi dari jauh. Tapi keputusan di tangan kamu."
Minggu-minggu pertama berjalan baik, dan itulah yang membuat Yoga lengah. Topan menyukainya—lelaki muda itu lebih dekat usianya, lebih mudah diajak bicara soal sepak bola, soal sekolah, soal masa depan. Yoga datang lebih sering dari yang diperlukan, membawa semangat yang menular. Dan dalam semangatnya, dalam keinginannya membuat Topan dan keluarganya percaya, ia melakukan kesalahan yang Rani sudah duga sejak awal, kesalahan yang Rani sendiri pernah buat di tahun pertamanya.
Ia berjanji terlalu banyak.
Rani tahu persisnya kapan itu terjadi karena ibu Topan, Bu Lastri, mendatanginya di Puskesmas, wajahnya keras. "Mbak Rani, katanya Mas Yoga yang pegang Topan sekarang. Tapi saya mau ngomong sama Mbak." Ia duduk tanpa diminta. "Mas Yoga bilang Topan bisa sembuh total, bisa sekolah lagi, bisa kayak anak normal. Tapi minggu lalu Topan kejang lagi. Di depan tetangga. Malu-maluin. Katanya udah sembuh, kok masih kejang?"
Rani merasakan perutnya tenggelam. Ia tahu apa yang Yoga lakukan. Dalam keinginannya menanamkan harapan, Yoga menjanjikan kesembuhan yang tak bisa ia jamin. Epilepsi yang terkontrol bukan epilepsi yang hilang—kejang bisa tetap terjadi, terutama di awal, terutama jika dosis belum pas, terutama jika ada pemicu. Tapi keluarga yang dijanjikan sembuh total mendengar setiap kejang sebagai bukti kegagalan, bukti bahwa obat tak berguna, dan dari sanalah jalan kembali ke rantai dimulai.
Naluri pertama Rani adalah turun tangan. Datang ke rumah Topan, meluruskan, menambal kerusakan yang Yoga buat. Tangannya sudah meraih kunci motor.
Lalu ia berhenti.
Kalau ia turun tangan sekarang, Yoga akan belajar satu hal: bahwa ketika ia gagal, Rani akan datang menyelamatkan. Dan itu berarti Yoga tak akan pernah benar-benar memikul. Program ini tak akan pernah bisa hidup tanpanya. Rani akan tetap jadi satu-satunya yang menahan rantai tak putus, sampai ia sendiri putus.
Maka ia melakukan hal yang jauh lebih sulit daripada turun tangan. Ia menelepon Yoga, menceritakan kunjungan Bu Lastri, lalu berkata, "Saya nggak akan ke sana. Ini kasus kamu. Kamu yang benerin."
Hening di ujung telepon. "Tapi Mbak, saya... saya nggak tahu harus gimana. Keluarganya udah kecewa."
"Kamu tahu kenapa mereka kecewa?"
Jeda panjang. Lalu suara Yoga, kecil. "Karena saya janjiin sembuh total. Padahal saya nggak boleh janji itu."
"Iya. Sekarang kamu balik ke sana, dan kamu jujur. Bilang kamu keliru. Bilang epilepsi nggak hilang begitu saja, tapi bisa dikontrol, dan kejang sesekali itu wajar di awal, bukan tanda gagal. Susun ulang harapan mereka ke yang realistis. Itu lebih sulit daripada janji manis, tapi itu yang bikin mereka nggak nyerah waktu Topan kejang lagi nanti. Karena dia pasti akan kejang lagi."
Rani mendengar Yoga menarik napas. "Mbak nggak mau bantu sama sekali?"
"Saya udah bantu. Saya bantu kamu liat di mana salahnya. Sisanya kamu."
Ia menutup telepon dan duduk dengan tangan masih gemetar oleh keinginan untuk turun tangan. Membiarkan seseorang yang ia sayangi membuat dan memperbaiki kesalahannya sendiri ternyata jenis kasih sayang yang menyiksa.
Tiga hari Yoga tak menghubunginya. Rani menahan diri untuk tidak menelepon, tidak lewat rumah Topan, tidak bertanya. Ia memaksa dirinya percaya. Pada hari keempat, Yoga muncul di ruang konseling sore-sore, lelah, bajunya basah keringat, tapi ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Lebih tua. Lebih sepi.
Ia menjatuhkan diri di kursi seberang Rani. "Udah saya benerin," katanya. "Saya minta maaf ke Bu Lastri. Saya jelasin ulang, pelan-pelan. Awalnya dia marah, terus dia nangis, terus dia... dia ngerti. Topan juga. Saya bilang ke dia, kamu tetap bisa sekolah, tapi kita harus jujur sama gurunya soal epilepsi. Saya nggak janji sembuh lagi. Saya cuma janji nemenin."
Rani mengangguk pelan. "Bagus."
Yoga menggosok wajahnya dengan kedua tangan. Lalu ia menurunkan tangannya dan menatap Rani dengan tatapan yang seolah baru pertama kali benar-benar melihatnya—melihat berapa banyak yang selama ini Rani pikul tanpa pernah ia mengerti beratnya.
"Mbak," katanya pelan. "Sekarang saya ngerti kenapa Mbak selalu kelihatan capek."
Rani tersenyum, dan untuk pertama kali ada keletihan dalam senyumnya yang ia biarkan terlihat oleh orang lain. "Sekarang kita capek berdua," katanya. "Itu kemajuan."