Lemari obat di pojok ruang farmasi Puskesmas adalah benda paling jujur di Tanjung Wuni. Ia tak bisa berbohong soal apakah orang akan dirawat atau ditinggalkan. Dan pagi itu, ketika Rani membukanya, lemari itu nyaris kosong.
Ia berdiri menatap rak yang seharusnya penuh. Risperidon tinggal beberapa lembar strip. Haloperidol oral menipis. Asam valproat untuk Topan tinggal setengah botol. Yang paling membuatnya dingin adalah depot—haloperidol dekanoat yang menjaga Sutejo stabil sebulan penuh—tinggal dua ampul. Droping obat dari Dinas, yang seharusnya datang awal bulan, sudah mundur dua kali. Sekarang sudah pertengahan bulan, dan tak ada kabar.
Mbak Yuli, petugas farmasi, berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah pasrah. "Saya udah telepon Dinas tiga kali, Mbak. Katanya distribusi tertunda, anggaran, e-katalog, alasannya selalu beda. Suruh sabar."
Sabar. Rani menahan kata yang ingin keluar dari mulutnya. Sabar bukan dosis. Sabar tak menahan waham. Sabar tak mencegah kejang.
Ia membawa daftar pasien terdaftar ke ruang konseling dan duduk berhadapan dengan aritmatika yang paling ia benci dari pekerjaan ini. Bukan aritmatika anggaran—itu urusan dr. Pram. Ini aritmatika yang lebih kejam: dengan obat yang ada, siapa yang dosisnya harus dipotong agar semua kebagian, dan siapa yang sama sekali tak boleh disentuh.
Ia membaginya seperti seorang yang membagi nasi terakhir di antara terlalu banyak mulut. Sutejo, dengan depot, terlindungi sampai jadwal suntik berikutnya—tapi setelah itu, jika tak ada droping, ia kosong. Wulan tak boleh dipotong; relapsnya baru saja teratasi, memotong dosisnya sekarang sama dengan mengundang suara-suara itu kembali, mungkin dengan bayi di dekatnya. Topan butuh dosis penuh agar kejangnya tak kembali persis saat ia hendak masuk sekolah. Yang tersisa adalah pasien-pasien lama yang sudah stabil bertahun-tahun—orang-orang yang justru karena stabil, terlihat paling aman untuk dipangkas.
Dan itulah jebakannya. Yang stabil terlihat tak butuh, padahal mereka stabil justru karena obat. Memotong dosis mereka sama dengan mencabut tiang penyangga rumah yang berdiri tegak, lalu berkata, lihat, rumahnya masih berdiri.
Rani memilih Pak Darji.
Lelaki itu, yang depresi menahunnya kini terkendali, sudah dua tahun stabil dengan dosis pemeliharaan. Ia bekerja kembali, makan teratur, tidur cukup. Dari semua pasien, ia yang paling mungkin bertahan beberapa minggu dengan dosis yang diturunkan separuh—pilihan paling tak buruk dari sederet pilihan buruk. Rani menulis penyesuaian itu di kartunya, tangannya berat, dan ia tahu ia sedang berjudi dengan ketenangan seorang manusia karena sebuah lemari yang kosong yang bukan salahnya.
Tapi Rani tak mau hanya membagi kekurangan. Membagi kekurangan adalah menyerah pada kekurangan itu. Ia ingin melawan sumbernya.
Maka ia mengambil sesuatu yang dulu tak ia punya: data. Ia menarik laporan pendataan pasung yang ia susun—belasan nama, alamat, diagnosis, status pengobatan—dan ia menulis surat resmi kepada Dinas Kesehatan kabupaten. Bukan surat memohon. Surat yang menuntut dengan angka. Ia menuliskan bahwa Puskesmas Tanjung Wuni kini menangani belasan ODGJ berat yang sebelumnya dipasung dan tak terdata; bahwa keterlambatan droping mengancam memutus pengobatan mereka; bahwa relaps akibat putus obat berisiko mengembalikan pasien ke pasung dan membatalkan program yang baru saja dipuji Asisten Bupati dalam kunjungannya. Ia menyebut nama pejabat itu. Ia melampirkan tabelnya. Ia membuat kekosongan lemari ini bukan masalah satu Puskesmas kecil, melainkan ancaman terhadap prestasi yang ingin dipajang kabupaten.
dr. Pram membaca surat itu dan menandatanganinya tanpa ragu—lelaki yang dulu menghitung anggaran sebelum mendengar rencana, kini ikut menekan dengan data. "Bagus," katanya. "Kamu nggak minta belas kasihan. Kamu kasih mereka alasan kenapa mereka rugi kalau diam. Itu yang dimengerti Dinas."
Surat itu dikirim. Tapi surat butuh waktu, dan tubuh tak menunggu surat.
Sepuluh hari kemudian, sebelum droping datang, Bu Inah mengetuk pintu ruang konseling dengan napas tersengal. "Mbak. Pak Darji."
Rani sudah berdiri sebelum kalimatnya selesai.
Mereka menemukan Darji di rumahnya, duduk di tepi dipan dengan tirai tertutup di siang bolong. Istrinya berdiri di pintu, cemas. "Tiga hari ini dia nggak mau keluar kamar, Mbak. Nggak mau makan. Cuma diam, ngeliatin tembok. Tadi pagi dia bilang... dia bilang nggak ada gunanya bangun pagi."
Rani duduk di samping lelaki itu. Darji tak menoleh. Matanya kosong dengan jenis kekosongan yang Rani kenal betul—bukan kekosongan baru, tapi kekosongan lama yang kembali, yang selama dua tahun ditahan oleh sebutir tablet kecil setiap hari sampai Rani sendiri yang memotongnya separuh.
"Pak Darji," panggilnya lembut. Tak ada jawaban. Ia melihat tanda-tanda awal yang ia hapal di luar kepala—penarikan diri, kehilangan minat, gelap yang merayap kembali. Belum parah. Tapi sudah cukup untuk membuat Rani tahu apa yang baru saja ia lakukan.
Ia telah memotong dosis lelaki ini karena ia terlihat paling kuat, dan justru kekuatannya—dua tahun ketenangan yang dibangun susah payah—kini retak di hadapan matanya. Bukan karena penyakitnya menang. Karena lemari yang kosong. Karena droping yang mundur. Karena anggaran di kantor tiga jam jauhnya. Karena sistem yang membiarkan ketiadaan ini terjadi, lalu menyuruh perawatnya sabar.
Rani mengeluarkan strip risperidon yang ia sisihkan, satu cadangan terakhir yang ia simpan untuk kegawatan, dan memulai mengembalikan dosis Darji ke penuh. Tapi sambil menekan tablet keluar dari kemasan, tangannya berhenti sejenak, dan ia menatap lelaki yang menatap tembok itu, dan ia tahu kebenaran yang paling pahit dari pekerjaan ini: ia bisa membebaskan seseorang dari rantai dengan tangannya sendiri, dan tetap kehilangan mereka karena rak kosong di kabupaten. Tubuh sudah lepas pasung. Tapi yang merantai ulang kali ini tak punya wajah, tak punya tangan, hanya berupa formulir distribusi yang terlambat dan kata sabar yang diucapkan oleh orang yang tak pernah duduk di tepi dipan ini.