Surat tak cukup. Rani sudah tahu itu sebelum ia mengirimnya. Maka pagi-pagi sekali, dengan tabel pasungnya dalam map plastik dan ongkos transport dari kantongnya sendiri, ia naik bus tiga jam ke ibu kota kabupaten untuk berbicara langsung dengan orang yang menentukan apakah obat datang atau tidak.
Kantor Dinas Kesehatan adalah gedung dua lantai dengan lantai keramik mengkilap dan pendingin ruangan yang membuat Rani, yang biasa berkeringat di gang-gang Tanjung Wuni, menggigil. Ia menunggu di kursi tunggu hampir dua jam, menatap poster-poster program di dinding—poster yang menjanjikan layanan kesehatan jiwa merata, dengan foto-foto senyum yang bersih, yang sama sekali tak menyerupai apa pun yang pernah ia lihat di balik pintu gudang.
Akhirnya ia diterima oleh seorang Kepala Bidang—lelaki berkemeja rapi dengan nada bicara yang sopan dan tak tergesa, jenis kesopanan yang Rani belajar adalah pertahanan paling kokoh dalam birokrasi. Ia mendengarkan Rani menjelaskan, mengangguk di tempat yang tepat, bahkan mengeluarkan komentar prihatin yang terdengar tulus.
"Saya paham betul kesulitan di lapangan, Mbak," katanya. "Saya hargai dedikasi Mbak. Sungguh." Ia membuka map yang Rani serahkan, melihat tabel itu sekilas, lalu menutupnya kembali. "Soal stok obat jiwa, kami juga terbatas. Anggaran obat untuk seluruh kabupaten dialokasikan setahun sekali, dan tahun ini permintaan dari semua puskesmas melebihi pagu. Distribusi memang tertunda karena ada masalah di e-katalog dan pengadaan. Ini bukan cuma Tanjung Wuni, ini se-kabupaten."
"Pak, dengan hormat," kata Rani, menjaga suaranya, "se-kabupaten artinya banyak pasien yang putus obat. Salah satu pasien stabil kami sudah mulai relaps minggu ini karena dosisnya terpaksa saya potong. Yang lain menyusul kalau droping nggak datang. Ini bukan soal kenyamanan. Ini soal orang yang bisa dipasung lagi."
Kepala Bidang itu menyandarkan punggung. "Saya mengerti. Tapi saya nggak bisa menciptakan obat yang nggak ada anggarannya. Kalau saya prioritaskan Tanjung Wuni, puskesmas lain protes. Saya harus adil ke semua."
Dan di sana, di kalimat itu, Rani mengenali tembok yang sesungguhnya. Bukan kejahatan. Bukan ketidakpedulian. Tembok ini terbuat dari keadilan yang dingin—logika yang membagi kekurangan secara merata sampai semua orang sama-sama kekurangan, lalu menyebutnya keadilan. Tembok yang sopan, yang prihatin, yang sungguh-sungguh menyesal, dan yang sama sekali tak bergerak.
Ia mencoba menekan dengan data—angka belasan pasung, kunjungan Asisten Bupati, risiko program percontohan yang gagal. Kepala Bidang mengangguk, mencatat, dan berjanji akan menyampaikan ke bagian pengadaan. Tapi Rani melihat janji itu untuk apa adanya: sebuah cara sopan menutup percakapan tanpa berkomitmen pada apa pun.
Ia keluar dari ruangan itu dengan tangan kosong, kemarahan yang tak punya tempat untuk disalurkan terbakar pelan di dadanya. Di tahun pertamanya, ia mungkin akan meledak, menuntut, mengancam. Sekarang ia tahu meledak di gedung ini hanya akan membuatnya dicap perawat puskesmas yang emosional, dan tabel pasungnya akan masuk laci, dilupakan. Menekan sistem, ia pelan-pelan belajar, butuh data, butuh sekutu di dalam, dan butuh kesabaran politis yang terasa seperti pengkhianatan terhadap orang-orang yang menunggu di rumah.
Ia sedang menunggu bus pulang di teras gedung ketika seseorang menyusulnya.
Seorang perempuan paruh baya berseragam Dinas, dengan kacamata dan tas selempang, mendekat dengan langkah cepat dan ekspresi yang berbeda dari kesopanan dingin di dalam. "Mbak Rani dari Tanjung Wuni?" Ia tak menunggu jawaban. "Saya Retno. Saya yang nginput data keswa di Dinas. Saya baca laporan pasung yang Mbak kirim."
Rani menegakkan diri. "Iya, Bu."
Bu Retno melirik ke pintu gedung, lalu menurunkan suaranya. "Saya cuma mau bilang—jangan nyerah sama jawaban tadi. Saya tahu Pak Kabid bilang apa, saya hapal kalimatnya. Akan kami usahakan. Itu kalimat yang artinya bisa apa saja." Ia tersenyum tipis, getir. "Tapi laporan Mbak itu beda dari yang biasa kami terima. Yang lain cuma angka nol, atau tiga, lalu kosong. Mbak kirim belasan nama dengan alamat dan diagnosis. Itu... itu nggak bisa diabaikan begitu saja kalau orang yang tepat melihatnya."
"Orang yang tepat siapa, Bu?"
Bu Retno melirik jam tangannya, lalu ke pintu lagi. "Saya nggak bisa lama di sini. Tapi simpan nomor saya." Ia menuliskan sederet angka di sobekan kertas dan menyelipkannya ke tangan Rani. "Ada hal-hal yang nggak bisa saya omongin di dalam. Hal-hal yang mungkin bisa bantu program Mbak. Nanti saya hubungi."
Ia berbalik dan bergegas masuk sebelum Rani sempat bertanya lebih jauh, meninggalkan Rani berdiri di teras dengan sobekan kertas di tangannya dan bus yang baru saja datang. Rani menatap angka-angka itu, lalu menatap gedung dingin yang baru saja menolaknya dengan begitu sopan, dan untuk pertama kali hari itu ia merasakan sesuatu yang bukan kemarahan. Sesuatu yang lebih tipis dan lebih berbahaya untuk dipegang. Ia menyimpan kertas itu dalam-dalam di saku, naik ke bus, dan sepanjang tiga jam perjalanan pulang, ia memutar-mutar kalimat perempuan itu di kepalanya. Ada hal-hal yang nggak bisa saya omongin di dalam. Di balik tembok yang sopan dan tak bergerak itu, ternyata, ada celah—dan celah itu berbentuk seorang manusia.