Rani tidak bisa menyuntik penyembuhan untuk apa yang menimpa Sutejo di warung Bu Sumi. Tidak ada dosis untuk tatapan, tidak ada injeksi untuk anak-anak yang berlari sambil meneriaki dongeng yang mereka warisi dari orang tua. Selama beberapa hari sesudah sore itu, Sutejo kembali ke teras dan tak mau lebih jauh. Ia duduk menghadap halaman, tapi matanya menatap ke arah gudang, dan tiap kali Rani datang ia tahu lelaki itu sedang berhitung—berhitung apakah dunia di luar pintu rumahnya sepadan dengan rasa malu yang harus ia bayar untuk berada di sana.
Maka Rani berhenti memikirkan obat dan mulai memikirkan sesuatu yang sudah lama tidak ia pertimbangkan sebagai bagian dari pekerjaan keperawatan: pekerjaan.
Di rekam medis lama, di catatan yang ia buat pada hari pertama menemukan Sutejo terantai, ada satu baris kecil yang dulu ia tulis sambil lalu. Riwayat sebelum sakit: tukang bengkel. Lima belas tahun lalu, sebelum suara-suara itu datang dan keluarganya tak tahu apa lagi yang harus diperbuat, Sutejo memperbaiki motor dan sepeda di kampung ini. Orang-orang yang kini menjauh darinya dulu mengantar kendaraan mereka ke tangannya. Tangan itu pernah berguna. Tangan itu pernah punya nama yang disebut bukan dengan takut, tapi dengan 'titip motorku, ya, Tej'.
Ia pergi menemui Pak Wandi, pemilik bengkel di pinggir jalan menuju pasar, lelaki bertubuh besar yang Rani kenal karena ibunya rutin kontrol darah tinggi di Puskesmas. Rani tidak datang sebagai perawat yang memohon belas kasihan. Ia datang membawa proposal kecil yang masuk akal.
"Saya nggak minta Bapak menggaji dia penuh," kata Rani, duduk di bangku berminyak di antara ban-ban bekas. "Saya minta Bapak kasih dia kerjaan kecil. Bersihin onderdil, beresin baut, hal-hal yang nggak butuh keputusan besar. Setengah hari saja, beberapa kali seminggu. Saya yang jamin obatnya jalan. Kalau ada apa-apa, nomor saya nempel di sini."
Pak Wandi mengusap dagunya, ragu. "Orang-orang ngomong macam-macam, Mbak. Nanti pelanggan saya takut."
"Pelanggan Bapak takut karena mereka cuma kenal dia sebagai orang yang dirantai di gudang," jawab Rani. "Kalau mereka lihat dia megang kunci pas, lama-lama mereka akan ingat dia pernah jadi siapa. Stigma itu cuma bertahan selama orang nggak punya gambar lain buat menggantikannya, Pak."
Pak Wandi diam lama. Lalu, mungkin karena ibunya, mungkin karena ada sesuatu dalam diri lelaki bertubuh besar itu yang lebih lunak daripada penampilannya, ia mengangguk. "Suruh dia datang. Tapi kalau bikin onar, saya nggak bisa."
"Nggak akan," kata Rani, dan ia berdoa diam-diam supaya janjinya tidak jadi beban baru di pundaknya.
Membujuk Sutejo lebih sulit daripada membujuk Pak Wandi. Lelaki itu menggeleng berkali-kali. "Saya udah lupa caranya, Mbak. Tangan saya udah nggak bisa apa-apa." Ketakutan di matanya bukan ketakutan akan mesin. Itu ketakutan akan ditatap lagi, akan gagal di depan orang, akan membuktikan pada kampung bahwa mereka benar tentang dirinya.
"Bapak nggak usah mikir orang dulu," kata Rani. "Pikirin baut aja. Satu baut. Besok kita coba satu baut."
Hari pertama, Rani dan Yoga mengantarnya. Bengkel sepi pagi itu, sengaja dipilih jam ketika belum banyak pelanggan. Pak Wandi, dengan kekikukan lelaki yang tak terbiasa berbaik hati terang-terangan, mendorong sebuah karburator kotor ke arah Sutejo. "Ini, bersihin. Dulu kamu bisa, kan."
Sutejo menatap benda itu seperti menatap bahasa asing. Tangannya menggantung di sisi tubuh. Rani menahan napas, siap menanggung kegagalan, siap membawanya pulang dan mencari cara lain.
Lalu Pak Wandi menyodorkan kunci pas ke tangan Sutejo.
Logam dingin itu menyentuh telapaknya, dan sesuatu terjadi yang tidak bisa Rani jelaskan dengan istilah klinis mana pun. Tangan Sutejo, yang bertahun-tahun hanya mengenal rantai dan dinding gudang, mengatup di sekeliling gagang kunci itu. Gemetar—jelas gemetar, jari-jarinya tak yakin, ototnya yang baru dilatih ulang masih lemah. Tapi cara tangan itu menemukan posisinya, cara ibu jarinya bergeser mencari titik tumpu, cara pergelangannya berputar mencoba sudut yang tepat—itu bukan tangan yang lupa. Itu tangan yang mengingat.
Tubuh menyimpan apa yang dirampas dari hidup, pikir Rani. Bertahun-tahun rantai tak bisa menghapus lima belas tahun lebih awal ketika tangan ini tahu siapa dirinya.
Sutejo menatap kunci pas di tangannya yang gemetar, dan untuk pertama kali sejak sore di warung Bu Sumi, bahunya tidak menunduk. Ia membungkuk ke arah karburator, perlahan, ragu, lalu mulai—membuka satu baut yang berkarat, gerakan kecil yang bagi orang lain tak berarti apa-apa, tapi yang membuat Rani harus berbalik dan berpura-pura mengatur isi tasnya supaya Yoga tidak melihat matanya basah.
Baut itu lepas. Sutejo memegangnya di telapak tangan, benda logam kecil berlumur oli, dan ia menatapnya seperti orang yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang ia kira sudah hilang selamanya.
"Saya masih bisa," katanya pelan, hampir tak terdengar, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Saya masih bisa, Mbak."
Dan Rani tahu, berdiri di bengkel berbau oli itu, bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dalam dari kesembuhan. Ia menyaksikan seorang lelaki menemukan kembali bahwa dirinya berguna—dan keberhargaan itu, bukan obat, bukan injeksi depot sebulan sekali, yang akan menjadi langkah pertama mengembalikan namanya dari rantai tempat kampung mengikatnya.