Kabar bahwa pejabat kabupaten memuji program keswa Tanjung Wuni menyebar lebih cepat daripada kabar baik apa pun yang pernah Rani bawa pulang. Dan orang pertama yang berubah karenanya adalah orang yang paling tidak Rani duga.
Pak Hardi datang ke Puskesmas pada suatu pagi, bukan dengan dahi berkerut seperti biasa, tapi dengan senyum lebar dan map plastik bening di tangannya. Ia menunggu sampai Rani selesai dengan antrean pasien, lalu duduk di kursi di depan meja konseling tanpa diminta, menyilangkan kaki dengan sikap seseorang yang merasa tempat itu sudah jadi miliknya.
"Mbak Rani," katanya, ramah dengan cara yang membuat Rani waspada. "Saya sudah pikir-pikir. Program jiwa ini bagus. Bagus sekali. Pejabat saja muji. Provinsi mau kasih perhatian. Ini kebanggaan dusun kita."
Rani meletakkan pulpennya. "Senang Bapak akhirnya melihatnya begitu."
"Makanya," Pak Hardi membuka map plastiknya, mengeluarkan selembar kertas dengan kop dusun dan beberapa foto yang dicetak buram. Rani mengenali foto-foto itu: hari kunjungan pejabat, Sutejo berjabat tangan, peta titik merah dan biru di dinding. Tapi di pojok tiap foto, Pak Hardi telah menulis dengan spidol: 'Program Bina Sehat Jiwa Dusun Wuni Lor — penggagas: Hardi Suprapto.'
"Saya mau kita rapikan ini," lanjut Pak Hardi, masih tersenyum. "Saya yang urus surat-suratnya ke desa, ke kecamatan. Biar resmi, atas nama dusun. Saya yang maju kalau ada acara, ada pejabat, ada kamera. Mbak Rani fokus saja yang medis. Kita bagi tugas, kan enak."
Rani menatap kertas itu lama. Ada gelombang panas naik ke dadanya—amarah lama, amarah yang sudah ia simpan sejak hari pertama Pak Hardi menyuruhnya 'jangan bikin ribut', sejak ancaman 'jangan permalukan dusun di depan pejabat'. Lelaki yang dulu menekan keluarga ODGJ agar 'menertibkan' anggota mereka selama acara, kini ingin namanya tercetak sebagai penggagas program yang membebaskan mereka.
Tapi Rani sudah belajar, dalam bulan-bulan ini, bahwa amarah jarang membebaskan siapa pun. Yang membebaskan adalah sumber daya, jaringan, kekuasaan yang bisa dipinjam. Dan Pak Hardi, dengan segala oportunismenya, memegang tanda tangan yang program ini butuhkan—surat komitmen desa untuk proposal provinsi, akses ke perangkat dusun, jalur ke kecamatan yang tertutup bagi seorang perawat tanpa stempel.
Ia memikirkan Bu Retno, staf Dinas yang berbisik tentang dana Stop Pasung. Butuh proposal dan komitmen desa. Komitmen desa berarti tanda tangan Pak Hardi.
"Begini, Pak," kata Rani akhirnya, memilih kata-katanya seperti menapaki batu di sungai deras. "Saya nggak keberatan Bapak disebut penggerak. Bapak memang perangkat dusun, dan tanpa dukungan dusun, program ini nggak bisa resmi. Bapak boleh maju di acara, boleh ada di foto, boleh bicara di depan pejabat."
Senyum Pak Hardi melebar.
"Tapi ada satu garis yang nggak bisa digeser," lanjut Rani, suaranya tetap tenang tapi mengeras seperti besi di balik kapas. "Keputusan medis—siapa yang dilepas pasungnya, kapan, obat apa, dirujuk ke mana, kapan harus rehospitalisasi—itu mutlak di tangan tim. Di tangan saya dan dr. Pram. Bukan keputusan acara. Bukan keputusan yang diambil karena ada kamera atau pejabat datang. Kalau Bapak setuju itu, kita jalan bareng."
Mata Pak Hardi menyipit sedikit, menimbang. Ia bukan orang bodoh; ia tahu Rani baru saja menyerahkan panggung dan menahan kemudi. Tapi ia juga tahu panggung itulah yang ia inginkan. "Adil," katanya akhirnya, dan ia mengulurkan tangan. "Bapak yang depan, Mbak yang dalam."
Rani menjabat tangan itu. Tangan yang—ia ingat dari catatan lama dan cerita warga—dulu pernah ikut memerintahkan beberapa keluarga memasung anggota mereka 'demi ketertiban dusun'. Tangan yang sama kini menjadi kunci untuk membuka dana yang bisa membebaskan lebih banyak orang. Kontradiksi itu duduk pahit di mulutnya, tapi ia menelannya. Pragmatisme, ia mengingatkan diri sendiri, bukan pengkhianatan. Yang penting orang-orang itu bebas.
Sore harinya, ketika Bu Inah datang membawa daftar kunjungan minggu depan, Rani menceritakan kesepakatan itu. Bu Inah mendengarkan sambil melipat kerudungnya yang basah keringat, dan wajah perempuan tua itu tidak menunjukkan kelegaan yang Rani harapkan.
"Mbak yakin?" tanya Bu Inah.
"Saya nggak yakin," jawab Rani jujur. "Tapi saya butuh tanda tangannya. Saya butuh jalannya. Kalau saya tolak dia, proposal provinsi mentok di komitmen desa."
Bu Inah mengangguk pelan, tapi matanya menatap jauh ke arah jendela, ke arah gang-gang dusun yang mulai gelap. "Saya cuma mau ngingetin, Mbak," katanya akhirnya, suaranya rendah, lebih seperti peringatan seorang ibu daripada nasihat seorang kader. "Hati-hati. Orang yang dulu masang rantai di rumah-rumah itu, sekarang mau pegang kuncinya. Orang kayak gitu nggak berubah karena hatinya berubah. Dia berubah karena anginnya berubah. Dan angin bisa balik lagi, Mbak. Kapan saja."
Rani diam. Di luar, lampu-lampu teras mulai menyala satu per satu di kampung yang dulu menyembunyikan rantai. Dan untuk pertama kali sejak pejabat itu memujinya, ia merasakan bahwa pujian, seperti kabar baik di kampung ini, tak pernah datang sendirian—selalu ada yang mengikuti di belakangnya, dan tidak semuanya membawa berkah.