Bima masuk ke parkiran rumahnya, ia berjalan dengan langkah lesu. Ternyata sulit melupakan sesuatu yang sudah tertanam begitu dalam di hatinya. Betapapun ia mencoba dan berusaha menghilangkan bayangan Jelita di dalam pikirannya, wanita itu tetap saja tersenyum lembut seolah mengharapkan kasih sayang dan perlindungan darinya. Apakah cinta sesakit ini jika tak terbalaskan?
Bima masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Sang ibu yang baru saja keluar dari dapur menahan langkah putranya itu.
“Sayang, kau sudah pulang kuliah?” tanya sang ibu heran karena biasanya Bima akan pulang kuliah di sore hari. Tapi sekarang, waktu masih menunjukkan pukul 1 siang.
“Iya, ma. Dosen hanya memberikan tugas untuk di selesaikan di rumah karena pulang cepat,” jawab Bima lalu hendak melanjutkan langkahn