Jovanka menatap Abizar dengan air mata yang mengalir, ia menyentuh tangan Abizar namun, Abizar menepisnya dengan kasar, hati Jovanka semakin sakit.
“Mas, apa salahku? Kenapa kau memperlakukanku dengan kasar seperti ini? aku seakan tidak mengenalmu lagi, kau bukan mas Abizarku yang dulu, kau telah berubah. Hiks..hiks…” Jovanka terisak, hatinya benar-benar terhina dan hancur berantakan.
Abizar membuang muka, ia tidak sudi melihat air mata wanita itu lagi. Air mata itulah yang dulu selalu membuatnya tidak tahan sampai ia harus memberikan seluruh isi hatinya.
“Mas, jawab aku…!!!” Jovanka semakin menangis, ia bahkan sudah berlutut di hadapan Abizar tanpa daya.
“Kau sangat tahu kesalahanmu terhadapku, renungkan saja. Tapi jika kau masih belum menyadarinya maka kau bisa mencari tahu sendi