Banan menolak meninggalkan komputer. Ia mengatakan semua tuduhan adalah balas dendam CEO yang menginginkan tunangannya. Auditor memperlihatkan surat penugasan dan meminta ia menyerahkan ponsel kantor.
"Ini penyalahgunaan kekuasaan," kata Banan.
"Pemeriksaan dimulai sebelum hubungan pribadi Bapak diketahui," jawab auditor. "Silakan didampingi pengacara atau perwakilan pekerja."
Banan akhirnya berdiri. Ia berhasil menyelipkan ponsel rahasia ke saku dalam jas sebelum dibawa ke ruang pemeriksaan.
Tim forensik menemukan beberapa berkas baru saja dihapus. Salinan otomatis masih tersimpan di server: persetujuan pembayaran vendor, komunikasi dengan perusahaan Adelaide, dan dokumen tanda tangan digital palsu. Namun bukti belum menunjukkan Banan sebagai perencana utama. Ia dapat saja menjadi orang yang digunakan pihak lain.
Orin juga dipanggil karena kartu aksesnya tercatat mengunduh berkas komunikasi internal. Ia datang dengan pengacara dan mengatakan seluruh tindakan dilakukan atas permintaan Banan.
"Saya tidak tahu kaitannya dengan sabotase," katanya. "Dia bilang pembayaran itu untuk kampanye penanganan isu produk."
Auditor menunjukkan foto kendaraan sewa serta pembayaran dari vendor. Orin mengakui menggunakannya untuk mengikuti Dine, tetapi membantah tahu kendaraan tersebut dibayar melalui perusahaan yang sama dengan teknisi Abram Creeks.
Di tengah pemeriksaan, ponsel rahasia Banan mengirim pesan otomatis kepada sebuah nomor luar negeri. Pesan itu berisi satu kata: bersihkan.
Logan di Australia menerima peringatan bahwa seseorang mencoba menghapus rekaman sistem lama. Timnya memutus akses tepat waktu dan mengamankan server fisik.
Di Jakarta, Bian tidak ikut masuk ke ruang pemeriksaan. Ia menyerahkan proses kepada auditor eksternal agar tidak dapat dituduh mengarahkan hasil. Ketika dewan meminta Banan segera dipecat, Bian menolak sebelum tahapan disiplin dan hukum selesai.
"Kalau kita melanggar prosedur karena yakin dia bersalah, kita memberi alasan untuk membatalkan seluruh temuan," katanya.
Sore hari, Bian datang ke Animalia Pet World setelah Dine akhirnya mengizinkan. Ia memakai mobil resmi dan tidak lagi menyamar. Dua petugas keamanan berjaga jauh dari pintu agar klinik tidak terlihat seperti lokasi perkara.
Dine menunggunya di ruang kerja. Tidak ada senyum ketika Bian masuk.
"Jadi Bian SE itu apa?" tanyanya.
"Bian dari nama Abian. SE gelar sarjanaku. Secara teknis tidak palsu, tapi aku sengaja membuatnya tampak seperti seluruh identitasku."
"Kenapa?"
Bian menceritakan kepulangannya untuk mengaudit Emery Holding, kebiasaannya menghindari publik sejak orang tuanya meninggal, serta keinginannya dikenal Dine tanpa kekayaan dan jabatan.
"Kamu mengambil hakku menilai dengan informasi lengkap," kata Dine.
"Iya."
"Kamu juga menyelidiki tunanganku tanpa memberitahuku."
"Audit terhadap pekerjaannya sudah berjalan. Setelah aku melihat perselingkuhan, kepentingan pribadiku bercampur. Seharusnya aku mundur lebih cepat dari bagian pemeriksaan Banan."
Bian tidak membela diri dengan mengatakan semua dilakukan demi Dine. Ia mengakui menikmati keunggulan mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Banan maupun Dine.
"Aku ingin kamu meninggalkannya," katanya. "Itu membuat diamku tidak sepenuhnya mulia."
Dine menatap lelaki itu lama. "Aku menghargai kamu akhirnya jujur. Tapi aku tidak bisa langsung mempercayaimu."
"Aku tidak meminta langsung."
"Dan aku baru mengakhiri pertunangan. Aku tidak akan berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain hanya karena yang kedua terlihat lebih baik."
"Aku bisa menunggu tanpa menuntut jawaban."
"Jangan menunggu sebagai transaksi. Jalani hidupmu."
Dine meminta penjelasan lain tentang foto yang tersebar. Bian menunjukkan laporan bahwa gambar pertama diunggah melalui akun yang terhubung dengan jaringan perusahaan, tetapi ia belum menyebut Orin sebagai pelaku sebelum forensik selesai.
"Kamu masih melindunginya?" tanya Dine.
"Aku melindungi ketepatan proses. Kalau aku menyebut nama tanpa laporan final, pengacaranya bisa mengatakan semua bukti diarahkan olehku."
Dine memahami logikanya, meski tidak menyukai jarak formal dalam jawaban tersebut. Bian lalu menawarkan salinan seluruh data dirinya yang sempat diperiksa tim keamanan. Ia mengakui pencarian mobil dan kamera dilakukan setelah melihat bayangan di klinik.
"Aku tidak menyelidiki pesan pribadimu," katanya. "Tapi aku seharusnya meminta izin sebelum mengikuti kendaraan itu."
"Benar."
"Aku akan memastikan semua data yang tidak berkaitan dengan ancaman dihapus dan dicatat dalam berita acara."
Dine mengangguk. Permintaan maaf Bian tidak serta-merta memulihkan kepercayaan, tetapi setidaknya disertai tindakan yang dapat diperiksa.
Bian mengangguk. Ia menyerahkan dokumen yang menjelaskan hak Dine meminta penghapusan foto dan perlindungan alamat. Semua layanan dibiayai Emery karena penyebaran terjadi terkait krisis perusahaan, bukan hadiah pribadi.
Dine membaca halaman demi halaman sebelum menandatangani persetujuan terbatas. Ia menerima bantuan menghapus alamat rumah serta nomor staf, tetapi menolak pernyataan publik yang disusun tim komunikasi atas namanya.
"Aku akan bicara sendiri kalau memang perlu," katanya.
"Baik. Timku hanya akan membantumu memeriksa risiko hukum."
Bian juga menjelaskan bahwa Dre sementara dirawat di apartemen oleh dirinya dan seorang petugas berpengalaman ketika ia harus menghadiri rapat. Ia memperlihatkan rekaman langsung tanpa menggunakan kucing itu sebagai alasan untuk memperpanjang kunjungan.
Dine melihat Dre tidur di tempat memanjat. Kerinduannya pada kucing itu bercampur dengan kerinduan yang tidak ingin ia akui terhadap Bian. Ia menutup video lebih cepat dan mengembalikan ponsel.
Sebelum pergi, Bian meminta Dine menjenguk Dre suatu hari nanti jika ia sudah nyaman.
"Dre merindukan dokternya."
"Kirim video lewat nomor klinik, bukan nomor pribadiku."
"Baik."
Setelah Bian pergi, Dine merasa lega sekaligus sedih. Batas itu diperlukan, tetapi tidak berarti mudah.
Malamnya, Banan dibebaskan dari pemeriksaan internal sambil menunggu proses berikutnya. Begitu keluar gedung, ia menggunakan ponsel rahasia dan menelepon nomor luar negeri.
"Kalian bilang jejaknya akan mengarah ke Bian," katanya marah.
Suara di seberang menjawab dingin, "Jejak itu gagal karena kamu mencampurkan urusan pekerjaan dengan perempuan."
"Aku butuh perlindungan."
"Kamu membutuhkan keheningan."
Sambungan terputus. Banan baru menyadari dirinya tidak pernah menjadi rekan. Ia hanyalah bagian yang dapat dibuang.
Ia mencoba menelepon kembali, tetapi nomor sudah tidak aktif. Di luar gedung, seorang pengendara motor berhenti beberapa detik di dekatnya sebelum pergi. Banan tidak tahu apakah dirinya sedang diikuti atau rasa takut mulai membuat setiap orang terlihat seperti ancaman.
Alih-alih pulang, ia berputar melalui beberapa jalan dan mengganti kendaraan di pusat perbelanjaan. Seluruh tindakan itu terlambat. Orang yang menggunakannya telah mengetahui alamat, rekening, kebiasaan, bahkan nama perempuan yang paling takut ia kehilangan.