Banan kembali ke apartemennya dan menemukan pintu tidak terkunci. Tidak ada barang berharga yang hilang, tetapi ponsel cadangan, salinan kontrak vendor, serta sebuah penyimpanan data telah lenyap.
Di meja makan terdapat amplop tanpa nama. Isinya foto Dine keluar dari klinik dan satu kalimat: diam kalau ingin dia aman.
Banan langsung ingin menelepon Dine. Ia berhenti karena menyadari ancaman itu mungkin dipantau. Untuk pertama kalinya, ketakutannya bukan tentang kehilangan pertunangan atau pekerjaan, melainkan kemungkinan Dine benar-benar menjadi sasaran karena kesalahannya.
Ia menghubungi Orin dan meminta bertemu. Orin menolak.
"Kita sudah selesai, Banan. Aku memberikan semua yang kutahu kepada auditor."
"Mereka mengancam Dine."
Keheningan di seberang berubah. Orin akhirnya setuju bertemu di tempat umum dengan membawa pengacara.
Banan memperlihatkan foto ancaman. Ia menjelaskan bahwa enam bulan lalu seseorang bernama Marcus Hale, konsultan pemasaran dari Adelaide, menawarkan komisi untuk mengarahkan kontrak promosi ke tiga vendor. Banan menganggapnya pengaturan bisnis biasa yang sering dilakukan pejabat perusahaan.
Setelah pembayaran pertama, Marcus meminta akses laporan distribusi dan jadwal inspeksi Abram Creeks. Banan sadar permintaan itu mencurigakan, tetapi ia sudah menerima uang dan takut dilaporkan.
"Kamu terus melakukannya meski tahu?" tanya Orin.
"Aku pikir mereka hanya ingin menjatuhkan harga saham untuk transaksi pasar. Aku tidak tahu soal virus sampai berita muncul."
"Dan kamu memakai aksesku."
"Karena aksesmu tidak langsung terhubung kepadaku."
Orin menamparnya. Pengacara segera menghentikan percakapan sebelum berubah kacau.
"Kita serahkan foto ini kepada penyidik," kata pengacara. "Kalian tidak menghubungi siapa pun lagi."
Banan takut ditahan, tetapi tidak memiliki pilihan aman. Ia menyerahkan ponsel rahasia dan memberikan nama Marcus.
Informasi itu sampai kepada tim independen dan kepolisian. Bian baru diberi tahu setelah laporan resmi dibuat. Ia meminta keamanan Dine ditingkatkan, tetapi petugas mengingatkan Dine harus menyetujui.
Dine menerima penjelasan ancaman melalui penyidik, bukan dari Bian. Ia bersedia pindah sementara ke tempat aman dengan membawa hewan-hewan yang masih dirawat dan dua staf bergantian. Menutup klinik sepenuhnya akan menelantarkan pasien, sehingga operasional dasar dipindahkan secara terbatas.
Bian menawarkan salah satu properti Emery, tetapi Dine memilih rumah Nola yang alamatnya tidak pernah tercatat dalam komunikasi Banan. Keputusan itu dihormati.
Di rumah Nola, Dine membaca berita tentang penahanan sementara Banan dan pemeriksaan Orin. Masyarakat masih menganggap semuanya drama cinta antara CEO, dokter hewan, dan manajer. Tidak ada yang mengetahui ancaman nyata di baliknya.
"Aku malu pernah hampir menikah dengannya," kata Dine.
"Kesalahannya bukan ukuran kecerdasanmu," jawab Nola. "Dia berbohong dengan sengaja."
"Aku mengabaikan banyak tanda."
"Kamu bertanya. Dia membuatmu meragukan pertanyaanmu sendiri."
Dine menatap bekas cincin di jarinya yang mulai menghilang. Ia juga memikirkan Bian, lelaki yang mengakui kebohongan tetapi tetap telah berbohong.
"Aku tidak mau lagi mencintai seseorang sambil menjadi penyelidik," katanya.
Nola menggenggam tangannya. "Kalau begitu, jangan buru-buru mencintai siapa pun."
Di Australia, Logan menemukan teknisi kamera tidak bekerja sendirian. Instruksi palsu berasal dari jaringan yang pernah dipakai Marcus Hale. Catatan pengiriman menunjukkan bahan pembawa serangga masuk melalui perusahaan pemasok pakan.
Polisi Australia bersiap menangkap Marcus, tetapi rumahnya sudah kosong. Rekaman bandara menunjukkan ia terbang ke Jakarta dua hari sebelum berita wabah muncul dan belum tercatat meninggalkan Indonesia.
Zhian menyampaikan kabar itu kepada Bian.
"Marcus mungkin masih di sini. Foto ancaman dapat berasal darinya atau orang suruhannya."
"Pastikan informasi ini sampai kepada penyidik. Jangan bergerak sendiri," kata Bian.
"Dan Dine?"
"Dia berada di tempat pilihannya dan dilindungi polisi. Aku tidak berhak mengetahui alamat jika dia tidak memberikannya."
Ucapan itu berat bagi Bian. Nalurinya ingin menempatkan puluhan petugas di sekitar Dine dan mengendalikan semua akses. Namun perlindungan tanpa persetujuan akan mengulang cara yang baru saja ia akui salah.
Malam itu, sebuah kiriman tiba di rumah Nola. Kotaknya tidak memiliki nama pengirim. Petugas keamanan memeriksanya sebelum menyerahkan kepada penyidik.
Di dalamnya terdapat kalung lama milik almarhum ibu Dine, benda yang selama ini disimpan di laci terkunci dalam flatnya.
Seseorang telah masuk ke rumah Dine tanpa merusak pintu.
Di bawah kalung itu terdapat pesan:
Berikan dokumen yang disimpan Banan, atau kenangan berikutnya tidak akan dikembalikan.
Dine menolak menyentuh kalung sebelum petugas selesai mengambil sidik jari. Benda itu merupakan hadiah terakhir ibunya sebelum kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya. Selama bertahun-tahun Dine menyimpannya bukan karena harga, melainkan karena masih mengingat tangan ibunya memasang kait kalung tersebut.
"Kalau mereka bisa mengambil ini, mereka dapat mengambil apa saja," katanya.
Penyidik menjelaskan bahwa tidak ada kunci rusak. Seseorang mungkin memperoleh duplikat atau memakai akses melalui lorong pet hotel. Semua staf akan diperiksa tanpa langsung dianggap bersalah.
Nola menutup tirai dan duduk di samping Dine. "Kamu tidak perlu terlihat tenang."
"Aku bukan hanya takut. Aku marah karena mereka memakai Ibu untuk membuatku patuh."
Dine meminta berbicara langsung kepada penyidik utama. Ia menyerahkan seluruh pesan anonim, rekaman percakapan dengan Banan yang tersimpan di kamera, serta waktu kedatangan Orin. Ia tidak menyembunyikan keterlibatan emosionalnya dengan Bian karena malu.
Sementara itu, Banan diperiksa mengenai dokumen yang diminta pengancam. Ia mengaku pernah membuat salinan daftar pembayaran untuk berjaga-jaga, tetapi penyimpanan datanya hilang dari apartemen. Tidak ada dokumen lain di tangan Dine.
Penyidik menyimpulkan ancaman mungkin dibuat berdasarkan dugaan keliru bahwa Banan menitipkan bukti kepada mantan tunangannya. Kesalahan dugaan itu tidak membuat Dine lebih aman. Justru pelaku dapat terus menekan sampai menyadari dokumen tersebut benar-benar tidak ada padanya.
Dine melihat kalung yang kini berada dalam kantong bukti. Hidupnya selama ini dibangun untuk merawat makhluk yang tidak mampu meminta pertolongan dengan bahasa manusia. Kini ia sendiri membutuhkan perlindungan, dan menerima bantuan terasa jauh lebih sulit daripada memberikannya.
Namun kali ini Dine memilih tidak menghadapinya seorang diri.
Pilihan itu menjadi keberanian pertamanya malam tersebut.