Penyidik datang sebelum klinik dibuka, ketika lantai masih berbau disinfektan yang baru mengering dan lampu koridor menyala setengah. Mereka memeriksa lorong penghubung, pintu belakang, dan seluruh rekaman Animalia Pet World. Tidak ada orang asing terlihat masuk pada malam kalung itu diambil. Rekaman justru hilang selama sembilan belas menit pada sore ketika Dine mengikuti kegiatan yayasan.
Angka itu menempel di kepala Dine dan tidak mau pergi. Sembilan belas menit terlalu pendek untuk gangguan listrik dan terlalu rapi untuk kebetulan. Ia menatap layar yang menampilkan garis kosong pada linimasa, seperti potongan pita yang digunting seseorang dengan tangan yang sangat tenang. Di luar jendela, lalu lintas pagi mulai terdengar, dan bunyi itu terasa berasal dari dunia lain yang tidak ikut runtuh.
"Sistem dimatikan menggunakan akses administrator," kata petugas.
Kalimat itu diucapkan datar, seperti orang membaca daftar barang. Namun Dine merasakan sesuatu turun di dadanya, dingin dan pelan. Ia menelan ludah dan mencoba mengingat siapa saja yang pernah berdiri di depan komputer itu, siapa yang pernah ia tinggalkan sendirian di ruangan ini sementara ia mengurus pasien di belakang.
Dine hanya pernah memberikan akses itu kepada kepala staf klinik. Namun pemeriksaan komputer menunjukkan kata sandinya dipakai dari perangkat lain di jaringan pet shop.
Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Suara kipas komputer terdengar terlalu keras di telinganya. Dine menyadari bahwa dinding yang selama ini ia kira melindungi kliniknya ternyata hanya kertas, dan siapa pun yang cukup dekat bisa merobeknya tanpa perlu memaksa apa pun.
Salah seorang pegawai mengingat Orin pernah meminjam komputer untuk mencetak dokumen saat berkunjung beberapa minggu lalu. Ia menyebutkannya dengan ragu, setengah menahan suara, seakan takut kalimatnya berubah menjadi tuduhan. Orin dipanggil kembali. Ia datang dengan mata bengkak dan duduk di kursi plastik yang biasa dipakai pemilik hewan menunggu giliran. Ia mengaku melihat kata sandi tertempel di bawah meja, tetapi membantah memasuki flat.
Dine tidak menatapnya lama. Ada bagian dalam dirinya yang masih menolak percaya, dan bagian itu terasa seperti luka yang belum sempat ditutup, perih setiap kali disentuh udara.
"Banan pernah meminta kunci cadangan?" tanya penyidik.
Pertanyaan itu membuat Dine terdiam beberapa detik. Ingatan datang tanpa diminta, lengkap dengan bau kopi bandara dan koper kecil yang ia seret pagi itu.
Dine teringat dirinya pernah memberikan kunci kepada Banan ketika harus menghadiri seminar tiga bulan lalu. Kunci dikembalikan, tetapi cukup lama berada di tangannya untuk diduplikasi. Waktu itu ia bahkan merasa lega karena ada orang yang bisa dipercaya menengok flatnya. Rasa lega tersebut kini terasa seperti lelucon yang dibuat atas namanya sendiri.
Banan mengakui membuat salinan tanpa izin. Suaranya di ruang pemeriksaan terdengar tipis, seperti orang yang sudah kehabisan bahan untuk membela diri. Ia mengatakan hanya ingin dapat masuk dalam keadaan darurat. Salinan itu disimpan di apartemennya dan ikut hilang bersama dokumen.
"Jadi orang yang membobol apartemen Banan memperoleh kunci rumahku," kata Dine.
Ia mengucapkannya pelan, hampir tanpa nada, karena kalau ia menaikkan suara sedikit saja, ia tahu suaranya akan pecah di depan orang-orang yang sedang bekerja.
Penyidik mengangguk. "Kemungkinan besar."
Kunci seluruh bangunan segera diganti. Tukang kunci bekerja sepanjang siang, dan bunyi bor bercampur dengan gonggongan anjing di ruang rawat serta bau serbuk logam yang tipis. Hak akses staf dibuat terpisah dan tidak ada lagi kata sandi yang dapat dipakai bersama. Dine merasa malu karena keamanan tempatnya begitu lemah, tetapi penyidik menegaskan pelaku memanfaatkan kepercayaan, bukan sekadar kelalaian teknis.
Kalimat itu tidak menghapus malunya. Ia hanya memindahkan sedikit beban ke tempat yang seharusnya, dan untuk hari itu, sedikit sudah cukup.
Bian menerima perkembangan melalui jalur resmi. Ia tidak menghubungi Dine. Tidak ada pesan, tidak ada telepon larut malam, tidak ada karangan bunga yang datang tanpa nama pengirim. Namun tim hukumnya menemukan perusahaan pembuat kunci yang pernah menerima pesanan Banan. Rekaman toko memperlihatkan Banan datang bersama Marcus Hale.
Gambarnya buram dan pecah, tetapi cukup jelas. Dua lelaki berdiri di depan etalase kaca. Yang satu menunjuk, yang satu menunggu sambil memperhatikan lebih lama daripada yang perlu.
Banan mengaku Marcus saat itu hanya meminta tumpangan. Ia tidak pernah menyangka lelaki tersebut memperhatikan bentuk kunci atau mencatat alamat toko.
"Kamu selalu tidak menyangka setelah akibatnya muncul," kata penyidik.
Banan tidak menjawab. Ia menunduk ke permukaan meja, dan hening yang menyusul menjadi jawaban paling jujur yang keluar darinya sepanjang hari itu.
Dokumen yang diminta pengancam belum ditemukan. Tim forensik melacak penyimpanan data milik Banan melalui nomor seri, tetapi perangkat itu terakhir aktif di sebuah gudang kosong dekat pelabuhan.
Polisi menggeledah gudang tersebut menjelang sore, ketika udara di sana bercampur bau garam, solar, dan karung basah. Mereka menemukan pembungkus penyimpanan data, beberapa telepon sekali pakai, dan kandang serangga yang serupa dengan wadah pengiriman ke Abram Creeks. Marcus sudah pergi, tetapi jejak biologis serta sidik jarinya tertinggal.
Di rumah Nola, Dine berusaha tetap memeriksa pasien melalui video. Ia duduk di meja makan dengan laptop, mencatat pada buku kecil, dan menahan suaranya agar terdengar biasa bagi pemilik hewan di seberang layar. Salah satu anjing membutuhkan operasi yang hanya dapat dilakukannya. Polisi menyarankan menunda, tetapi Dine menolak membiarkan hewan menderita tanpa jadwal pasti.
"Aku akan kembali ke klinik dengan pengamanan," katanya. "Saya tidak mau pelaku menentukan kapan saya boleh bekerja."
Keputusan itu dibuat setelah risiko dijelaskan, bukan sebagai aksi nekat. Ia mendengarkan seluruh kemungkinan buruk sampai selesai, tidak memotong satu pun, lalu menimbangnya seperti menimbang dosis obat. Operasi dijadwalkan pagi hari dengan petugas berjaga dan pintu depan ditutup untuk umum.
Sebelum berangkat, Dine menerima video Dre melalui nomor klinik. Bian tidak muncul dalam gambar. Hanya ada tangan yang memegang kamera dan ujung karpet yang tidak dikenalnya. Kucing itu mengeong dan mencoba meraih kamera.
Dine menonton video itu tiga kali di dalam mobil, dengan mesin masih menyala dan pendingin udara menderu pelan ke arah wajahnya.
Pesan pendampingnya singkat.
Bian: Dre sehat. Semoga operasinya lancar.
Dine membalas terima kasih. Ia menatap layar sebentar, menunggu titik-titik kecil yang menandakan seseorang sedang mengetik. Titik itu tidak muncul. Jarak yang diberikannya ternyata lebih meyakinkan daripada puluhan rayuan dahulu.
Pagi berikutnya ruang operasi berbau alkohol dan kain steril yang baru dibuka. Lampu bedah menyala putih rata di atas meja. Dine mengatur napasnya, dan begitu sarung tangan terpasang, seluruh dunia di luar ruangan itu menyusut menjadi sesuatu yang bisa ditunda.
Saat operasi berlangsung, seorang lelaki berjaket kurir mendekati pintu belakang. Petugas menghentikannya. Ia meninggalkan paket dan berlari menuju sepeda motor, meninggalkan bunyi knalpot yang menghilang cepat di ujung gang.
Di dalam paket terdapat penyimpanan data milik Banan.