Penyimpanan data dibawa ke laboratorium forensik tanpa dibuka di klinik. Petugas memasukkannya ke kantong bukti bening, menuliskan waktu penerimaan pada label, lalu menyegelnya di depan dua saksi. Tidak ada yang menyentuh perangkat itu dengan tangan telanjang. Pemeriksaan menemukan sebuah program yang akan menghapus seluruh isi jika kata sandi salah dimasukkan tiga kali.
Ruang laboratorium dingin dan berbau plastik baru. Layar-layar menyala kebiruan sepanjang meja panjang, dan satu-satunya suara tetap adalah dengung pendingin. Semua orang di ruangan itu paham bahwa mereka hanya punya satu percobaan tersisa sebelum bukti paling penting dalam perkara ini berubah menjadi ruang kosong.
Banan memberikan kata sandi yang biasa dipakainya. Ia menyebutkannya cepat, seolah kecepatan bisa menggantikan kepastian. Dua percobaan gagal. Wajahnya memucat pada percobaan kedua, dan ia mulai menyebut deretan angka lain sebelum penyidik mengangkat tangan untuk menghentikannya. Sebelum mencoba lagi, ahli forensik membuat salinan bit demi bit dan memisahkan program penghapus.
Pekerjaan itu berlangsung berjam-jam. Bian menunggu di ruang sebelah dengan kopi yang mendingin tanpa disentuh, memperhatikan jarum jam dinding yang bergerak jauh lebih lambat daripada biasanya. Dari balik kaca ia melihat punggung para ahli membungkuk di depan layar, tangan mereka bergerak sedikit-sedikit, seperti orang membuka jahitan lama tanpa merobek kainnya.
Ia sempat berpikir bahwa seluruh perkara ini bergantung pada satu benda sebesar telapak tangan, dan bahwa benda itu kini lebih dijaga daripada dirinya sendiri.
Kata sandi ternyata tanggal Banan pertama kali bertemu Orin secara diam-diam. Orin menyebutkannya setelah penyidik memperlihatkan pola petunjuk yang tersimpan di ponsel rahasia. Ia mengucapkan angka itu dengan suara nyaris tidak terdengar, dan tidak ada seorang pun di ruangan yang menganggapnya sebagai kemenangan.
Di dalam perangkat terdapat kontrak vendor, percakapan dengan Marcus, dan catatan pembayaran. Berkasnya tertata rapi, diberi nama seperti dokumen kantor biasa, seakan pemiliknya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini masih pekerjaan. Bukti terpenting adalah rekaman suara. Banan diam-diam merekam pertemuan terakhir karena mulai takut dijadikan kambing hitam.
Rekaman itu diputar melalui pengeras suara kecil. Ada bunyi gelas, kursi yang digeser, lalu suara lelaki yang berbicara dengan nada orang menjelaskan rencana perjalanan.
Suara Marcus terdengar menjelaskan bahwa wabah tidak bertujuan membunuh ternak dalam jumlah besar. Tujuannya menciptakan kepanikan pasar, menjatuhkan harga saham, dan memaksa dewan mengganti Bian. Seorang anggota keluarga Emery yang tidak disebut namanya telah membiayai operasi tersebut.
Bian mendengarkan tanpa bergerak. Rahangnya mengeras, dan ia menekan telapak tangan ke meja supaya tidak ada yang melihat jarinya bergetar. Ratusan hewan mati, ratusan pekerja kehilangan penghasilan, dan semua itu ditata sebagai grafik yang harus turun pada waktu yang tepat.
"Siapa keluarga yang dimaksud?" tanya Bian dalam rapat bersama penyidik.
Rekaman berikutnya menjawab sebagian. Marcus menyebut seseorang dengan panggilan Uncle E. Bian mengenal satu kerabat yang cocok: Edrick Emery, adik almarhum ayahnya dan mantan direktur yang tersingkir setelah penyalahgunaan dana puluhan tahun lalu.
Nama tersebut membawa serta ingatan lama: ruang makan besar, suara tawa yang terlalu keras, dan seorang lelaki yang selalu duduk paling dekat dengan ayahnya sambil menghitung sesuatu di dalam kepalanya sendiri.
Edrick tinggal di Selandia Baru dan selama ini mengaku tidak tertarik kembali ke perusahaan. Penyelidikan rekening menunjukkan yayasan miliknya mengirim dana kepada perusahaan Marcus melalui tiga lapisan transaksi. Setiap lapisan dibuat agar terlihat wajar bila dilihat sendiri-sendiri, dan baru berarti apabila ketiganya disusun berurutan.
Bian ingin menelepon pamannya, tetapi penyidik melarang. Penangkapan harus dilakukan bersama otoritas luar negeri sebelum Edrick menghapus bukti.
Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja, mendorongnya menjauh dengan dua jari, lalu mengangguk sekali. Menahan diri terasa lebih berat daripada bertindak, tetapi ia sudah cukup sering menyaksikan akibat dari orang yang bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Berita mengenai penyimpanan data tidak diumumkan. Marcus masih berada di Indonesia dan mereka berharap ia mengira perangkat belum dibuka. Setiap orang yang mengetahui isinya diminta menjaga wajah biasa di depan kolega, keluarga, dan wartawan.
Dine diberi tahu bahwa ancaman kemungkinan bertujuan mengambil bukti tersebut. Karena perangkat sudah berada di tangan polisi, ia tetap berisiko dipakai untuk pertukaran palsu.
Ia mendengar penjelasan itu sambil berdiri di dekat jendela ruang periksa, memandang halaman klinik yang basah setelah hujan sore. Menjadi barang tukar untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pegang adalah bentuk ketidakadilan yang paling melelahkan.
"Saya mau mengeluarkan pernyataan bahwa saya tidak memiliki dokumen apa pun," kata Dine.
Penyidik setuju selama redaksinya tidak menyebut temuan terbaru. Dine merekam video di kliniknya sendiri, di depan rak obat dan papan jadwal, tanpa rias wajah dan tanpa lampu tambahan. Ia mengulang dua kali karena suaranya sempat bergetar pada kalimat pertama.
"Hubungan saya dengan Banan Aleric telah berakhir karena perselingkuhan yang ia akui. Saya tidak terlibat dalam urusan pekerjaannya dan tidak menyimpan dokumen perusahaan. Mohon hentikan penyebaran alamat serta informasi pasien klinik."
Ia tidak menyebut Bian atau Orin lebih jauh. Ada dorongan untuk menjelaskan semuanya, untuk membuka setiap luka agar orang berhenti menebak, tetapi ia menahannya. Video itu menyebar luas, tetapi juga mengubah narasi publik. Orang mulai mempertanyakan mengapa foto Dine dan Bian digunakan untuk menutupi perselingkuhan serta perkara korporasi.
Orin mengirim permintaan maaf tertulis. Suratnya panjang, tulisan tangannya berdesakan di bagian bawah halaman, seakan ia kehabisan tempat sebelum kehabisan penyesalan. Dine menyimpannya tanpa menjawab. Pengampunan, jika pernah datang, tidak harus diberikan sesuai jadwal pelaku.
Malamnya Bian menerima kabar Edrick menghilang dari kediamannya beberapa jam sebelum surat penahanan tiba. Seseorang membocorkan operasi.
Ia menerima telepon itu di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi cahaya layar. Untuk pertama kalinya sejak wabah dimulai, rasa yang muncul bukan marah, melainkan sesuatu yang lebih dingin dan lebih tenang.
Bocor berarti ada orang di dekat perkara ini yang masih berpihak kepada pamannya, dan orang itu belum tentu berhenti pada satu kebocoran. Bian menuliskan tiga nama di secarik kertas, memandanginya, lalu merobeknya karena sadar dugaan tanpa bukti adalah persis kesalahan yang selama ini merugikannya.
Pada rekaman kamera bandara Auckland, Edrick terlihat menaiki pesawat menuju Jakarta menggunakan paspor kedua. Ia berjalan santai, membawa satu tas kecil, dan sempat menoleh ke arah kamera seperti orang yang tahu persis di mana kamera itu dipasang.
Dua orang yang memburu bukti kini berada di kota yang sama dengan Dine.