Rasyid bergegas berangkat ke Rumah Sakit untuk menunggu kesembuhan belahan jiwanya. Ia tidak menggubris dering bunyi handphone nya selama beberapa jam terakhir.
*Ah, pasti pekerjaan lagi* pikirnya.
Kali ini, dia tidak sedikitpun membuka ataupun menyentuh kewajiban yang telah merenggut waktu luangnya. Ia bertekad untuk mengalihkan segala fokusnya ke kesembuhan sang istri, yang sedang dalam keadaan lemah tak berdaya.
Tatapannya menyapu seluruh penjuru dalam rumahnya. Ia takjub dengan harta yang ia kumpulkan, namun sedikit terdapat penyesalan.
*Aku punya gym, tapi aku tidak punya sedikitpun waktu untuk itu.* pikirnya. Merasa sia- sia atas semua hal yang dimiliki namun tidak bisa dinikmatinya seraya berlalu untuk berangkat ke Rumah Sakit dengan Pak Prabu
Bi Iyah memberikan sebuah bungku