Iman
"Nasi kebuli Umi emang gak ada lawannya ...." ujarku sambil memakan lahap makanan dari kotak makan bocah bongsor di hadapanku ....
"Emang nyokap lo separah itu Man?" Bingung Dimas si arab bongsor berambut ikal ....
Iman terdiam ....siang itu mereka mengambil tempat di kursi pojok kantin ....gak terlalu ramai jadi bisa ngobrol enak .....
"Dia pinter dengan tangannya ...tapi gak buat masak...." cengir Iman .....
"Gak usah ngebayangin b*****t ...." ujar Allegro sambil meraup wajah Dimas yang terbengong m***m ....mereka seketika tertawa ....
Dimas ....anak Arab yang cepat dewasa ....dia yang pertama diantara kami yang mulai tumbuh kumis dan jenggotnya ....mungkin kebiasaannya makan kambing yang mengakibatkan darahnya selalu panas .....nyeletuk ....berantem ....atau berpikir m***m .....
Di awal kelas dua kami berargumen hebat hingga muncul kata kata itu ....genderuwo ekonomis ....kata celaan yang selalu menghantuiku hingga hari ini .....
"Genderuwo karena lo item ....ekonomis karena bentuk lo yang gak gede gede amat....." ujarnya setelah kami akrab .... Allegro mengusulkan kenapa gak jenglot dan Dimas bersikeras ...genderuwo ekonomis karena kalo aku harus jadi jenglot ribet ....mau lurusin rambut dimana?
Dimas yang selalu membagi kami bekal timur tengah masakan uminya yang arab semarang ....yang selalu menyempatkan diri memasak untuk kedua bocah bangor anaknya ....
Bang tama yang beda empat tahun dari dimas dan sekarang sedang berada di tahun terakhir SMA nya di sekolah negeri Unggulan Jakarta di Tebet
Dan Dimas si galak lahir bathin yang bersekolah bersama kami di sekolah Swasta di daerah Kodam Bintaro....
"Itu bungkusan apaan sih?" Ujar Satrio memecahkan lamunanku ....mata kami berempat tertuju pada karung yang tergeletak di pintu salah satu counter kantin yang tutup ...
"Mayat?" Ujar Allegro creepy ....Dimas seketika menoyornya ....Satrio mencoba memfokuskan kacamata bulatnya ...
"Gak mungkin kayaknya kecil kecil...." ujar si gembil kacamata memutuskan untuk meneruskan celetukan absurd Allegro ....
"Dimutilasi ....pasti dimutilasi...." heboh Allegro ....
"Besok lo berhenti baca serial misteri ...fix psycho lo...." kejamku pada si spike tengil ...
Ale manyun "kalo gitu kalian semua stop asupan dragon ball dan detective conan dari gue...." sadisnya ....
"Yah le ....jangan dong ....ah Iman mah reseee" rajuk Dimas ...
Tiba tiba sesosok bocah tinggi tegap menghampiri karung itu ....
"Anak baru itu kan?" Lirih Satrio ....
"Iya , aneh masuk tengah tahun" timpal Iman..... matanya dan Allegro tak sengaja bertumbukan ...
"Namanya Moses Maulid siapa gitu...." ujar Dimas mencoba mengingat ingat ....
"Katanya latar belakangnya kurang beruntung ....masuk ke sekolah karena beasiswa paroki...." lanjut Satrio menjelaskan
"Dan Juliet bilang ... duduk di belakang dia kayak neraka...." nyinyir Dimas lagi ....
"Kenapa gitu?" Ujar Ale tepat ketika orang yang mereka bicarakan lewat ....bau menyengat tidak enak tiba tiba menyeruak memenuhi ruang ruang hidung mereka ...
"Bau ....dia bau....." kesal Iman
Satrio mengibas ngibaskan LKSnya sementara Dimas memaki panjang pendek ......
Allegro terdiam dan memandangi sosok yang dengan cekatan mengambil plastik sisa snack dan kaleng minuman ringan itu ....entah kenapa ada yang mengetuk di sudut hatinya....
"Three on three yok...." tiba tiba Joshua dari kelas Sebelah menghampiri dan mengajak kami bermain basket ... makanan sudah habis dan bel masuk masih lama ,tak ada alasan buat kami untuk menolak ajakannya .....
************
Mauliate
Hari ini hari keduaku masuk di sekolah Kristen swasta terkemuka di wilayah Kodam Bintaro itu .
saat istirahat aku sebentar ke kantin mengumpulkan sisa sisa kaleng minuman ringan,botol bekas dan plastik snack .
Aku gak makan di kantin karena sudah dibawakan kentang rebus dan sambal oleh mamak ...lumayan untuk menghemat ....
Mamak dan Bapak menamakanku Moses Mauliate Nasution ....Moses adalah nama Baptis yang sebenarnya punya legenda besar buat kami ....
Di 29 agustus 1984 mamak melahirkanku jam 8 malam ....dalam kondisi banjir dan mati lampu ....untungnya bidan yang membantuku menjadi warga bantaran ciliwung saat itu terhitung handal ....jadilah Aku seperti Moses atau Musa ....diangkat dari air ....dan Mauliate adalah bahasa Batak ....bahasa Ibu mamak dan Bapak yang artinya terimakasih
Dan karenanya untuk setiap tarikan napas mereka ...setiap kesempatan yang diberikan kepadaku ...aku selalu berterimakasih ....
Ruangan kelas sunyi karena murid murid masih di kantin.....aku berdiam dan menggambari buku tulisku ketika terdengar suara berisik di pintu kelas ....anak ceking dan gerombolannya itu lagi ,yang kemarin di usir oleh guru biologi ....dan yang berbisik bisik saat aku lewat untuk mengambil sampah di kantin
"Man gue bagi minum Lo yak...." Ucap Dimas yang sedang mengipas ngipas badannya yang berkeringat karena baru saja bermain basket
....Iman membuka ransel dan menyerahkan botol minumnya kepada Dimas ....."siapa sih ni yang kentut ...." Teriak Satrio tiba tiba semua sibuk mengendus endus .....
"Dari dia ....." Bisik Iman sambil menunjuk Ate .....Satrio dan Ale berpandangan .....
"Oi fren ...hallo ....." Dimas berteriak memanggil Ate yang duduk di depan .....
Ate menoleh "a...aku?"
"Gak ada lagi siapa siapa di sana kan?" Sahut Dimas dingin
"I...iya kenapa...?"
"Lo kalo sekolah mandi gak sih ...baunya sampe sini.....aduh....." Ale menyikut rusuk Dimas .....
"Ya kan bener .... Salah gue nanya ....?" Mereka semua terdiam ....
"Ma...mandi sih ......cuma....."
"KURANG BERSIH ....besok gosok yang bener ....aduh le apaan sih ....." Dimas risih ketika Ale menarik narik tangannya ....
"Gu...gue pusing ....ke kantin aja yuk....." Ujar Ale dengan wajah pucat sungguh dia merasa tidak enak pada anak itu ....sekaligus tidak dapat menikmati
bau yang menguar tidak enak dari tubuhnya....
"Nih temen gue pusing gara gara Lo ....besok mandi yang bener .... bikin susah aja ....yok kantin aja ...." Aba aba Dimas pada tiga temannya ......ketika keluar kelas pandangan Ale bertabrakan dengan Ate .....
Ale sejenak melihat luka di kedua belah mata berwarna cokelat gelap itu ....luka yang masih terus menghantuinya sampai beberapa tahun kemudian ......
******
Allegro
"Ate bau.... Ate bau..... " Aku mendengus mereka bahkan gak menyebut namaku,tapi hatiku terasa seperti cuaca siang ini.... Panas....gersang terasa karena minimnya pohon di perkampungan sebelah rel kereta itu .
Aku menarik napas kemudian memacu sepedaku melewati gerombolan para anak ceriwis.Tidak terlalu susah menyalip langkah bocah itu
udara panas dan tak ada plastik es ditangannya ,dia tidak pingsan karena dehidrasi jadi minimal langkahnya pasti pelan"
"Bareng yuk." Ujarku ketika berhenti tepat di depan bocah itu.
Dia terbengong.... debu panas bertiup kearahkami dari Kereta batu bara yang lewat
"Sol sepatumu udah tipis... Kalo dipaksain jalan nanti rusak... " Kami berpandangan sesaat , Wajah mendungnya samar tersenyum .
Aku membuka senyumku lebih lebar
"Ayok lah.... " Ujarku hangat
Dia langsung berpegangan pada pundak ku dan berdiri di belakang sepeda....
"Aku kan bau.... " Ujarnya lirih
"Hah...? Aku gak dengar...! " Teriakku saat kami membelah jalan perkampungan rawa papan ini.
sebenarnya aku mendengar jelas suaranya,Tapi buat apa menjelaskan yang sudah jelas? Apalagi hanya untuk sekedar menyakiti hati
"A... Aku turun dibawah pohon asem itu aja" Ujarnya seraya menepuk pelan pundakku,Aku mengerem sepeda dan berhenti.
"Rumahku masih jauh didalam gang, Bapak ada lapak didalam." Jelasnya terbata.
aku mengangguk "Juragan barang bekas dong?" Tanyaku jenaka
Dia hanya tersenyum masam "Tukang rongsok aja kok,Makanya aku bau"
Dia kini menunduk,Mendung lagi mentari terik dan wajahnya mendung menyedihkan , Aku mengibaskan tanganku,"Ah nggak kok,biasa anak SMP masih kekanakan,suka berlebihan"
Dia tak sadar tertawa"Kamu juga anak SMP!!."
Aku menepuk kepalaku tersadar ,"Eh iya"
"Aku,Rrrr pulang dulu ya. " pamitnya seraya membalikkan badan ,leher seragamnya tampak usang dan robek
Aku kemudian mengangguk dan segera mengayuh sepedaku pulang bersiap untuk neraka yang lebih menyengat dari matahari siang ini
*****
"Allegro." Aku menghentikan langkah diam diamku yang hampir sampai di kamar, Duh ketahuan.
"Mama, hei selamat siang ma." Ujarku kecut.Orang yang ku ajak bicara melipat tangannya di depan dada
"Telat lima belas menit kemana dulu? "
Aku memutar otak sebentar."Eh itu, Tadi terkilir dikit,Jadi berenti sebentar" Ujarku terbata
Wajahnya yang tadi ketat berubah khawatir,kemudian tergopoh menghampiriku
"Kaki kiri atau kaki kanan? " Ujarnya sambil mengambil minyak kayu putih di kotak p3k.
"Eh ga,Gak parah kok ma.Bentar istirahat ini udah gapapa lagi."
Dia menarik ku dan mendudukan ku di sebelahnya "Ki,Kiri." Ujarku perlahan. Dia kemudian menggosokkan minyak kayu putih ke telapak kakiku dan mulai memijat pelan pelan....
"Itu pelipis mama kenapa.?" Wajahnya berubah muram.
"Ng,Nggak pa pa kok" Dia berusaha menyembunyikan sesuatu
"Papa ya ? " Kami tak sadar berpandangan,Dia kemudian membuang pandangannya.
"Nggak kok,Ini mama kejedot tembok Ya,Kejedot tembok" Mama berusaha tersenyum saat menjelaskan
Aku memutar mataku. "Aku sebenarnya gak terkilir,Aku mengantar anak baru di kelasku pulang ke rumahnya,masuk masuk dulu ke rawa papan.Jadi jalan sedikit memutar" Jelasku sambil memandang lurus lurus ke mata mama
"Nah sekarang aku sudah jujur,Aku mau mama gantian jujur "
Mama hanya diam,Yang terdengar siang itu hanya suara iklan televisi.
"Papamu sebenarnya baik." Ujarnya memecah kesunyian,aku tak sadar tergelak
"Dia masih mabuk? " sinisku, Mama mengangguk "ya,Di basement "
"Mama harus melakukan sesuatu, Jangan sampai lebih berlarut larut " Dia masih saja memijati kakiku.
"Tapi apa? " Jawabnya hampa.
"Aku gak tau,Mama kan yang orang dewasa " Lanjutku.
"Mama gak bisa milih,Mama gak mau kehilangan kamu atau papa.Mama udah cukup kehilangan "
"Terus mama mau Aku kehilangan mama?"
Dia terdiam.Kami berpandangan lagi.
"Mama gak perlu capek capek sayangi aku kalo mama gak bisa sayangi diri mama "
******
papa sedikit terkaget ketika aku menaruh gelas air besar di meja tempat dia tertelungkup tertidur ,ini jam 3 sore dan dia sudah tak sadar.
"Santai bos? " Ucapku memulai pembicaraan
"nak" Gumam Papa ringan
"pa" sahutku yang terduduk didepannya
"apa yang kubilang soal minum ?"
"ale "
"papa turun ke basement ,kunci pintu,baru minum " lanjutku tergetar
"bahkan bersenang senang harus diatur ya?" kami berpandangan ,aku tau dia tidak menyukai sorot mataku
"gak akan terasa seaneh ini kalau kalian orang dewasa bisa mengatur diri kalian sendiri ." sahutku marah
"apa kamu gak tahu mamamu kalo lagi marah " belanya dalam mabuk
"dia marah merepet ,papa marah mukul ,papa direpetin kesal ,mama dipukul mati,bagian mana yang gak jelas?"
"kan gak sampe mati ,papa mukulnya le"
"oh ,harus sampe mati dulu?" aku melipat tangan dan memandanginya penuh kebencian
"kalo papa pikir dengan kayak gini papa bisa lari dari masalah ,papa pikirin lagi deh "
"papa salah le,jangan hukum papa lagi." badannya meringkuk mendekap lututnya ,Aku yang kelas dua SMP dan dia yang terlihat seperti anak kecil
"aku anak kecil dan papa lagi mabuk ,itu artinya gak ada yang bisa buat keputusan yang bijaksana sekarang "
aku mencoba mengelus pundaknya yang melengkung , dia mengangkat wajahnya yang penuh airmata
"maksudmu?"
aku mengangkat bahu " tolonglah ,paling nggak saat kalian berantem ,coba untuk gak saling nyakitin lagi ,kalian udah cukup menderita ,kita udah cukup menderita"
"Allegro " Papa sedikit terhenyak lalu Terdiam
"dan tolong coba jangan bunuh bunuhan ,aku masih butuh orang dewasa untuk ambil raport" papa terdiam
aku meninggalkan basement dan menutup pintu dibelakangku berharap papa benar benar sadar dan berhenti dari kesalahannya
*****