"kupikir kamu duduk di belakang?" wajah bocah itu tampak melongo melihat aku menaruh tas disebelahnya
baru 06.30 ,masih ada kesempatan untuk ngobrol .Murid murid lain satu satu mulai datang ,sedikit mengerenyit ketika melewati meja kami
"enakan disini ,enak angle papan tulisnya." sahutku ringkas seraya membuka retsluiting ranselku mencari cari sesuatu.
"angle?" ujarnya tak mengerti
aku mengarahkan mataku dan menunjuk papan tulis "sudut pandang."
"oh sudut pandang " ulangnya
"iya hehe" dia tersenyum mendengarku
"maaf tukang sampah,gak pernah belajar bahasa inggris" ujarnya merendah .
aku tertawa mendengarnya ,"makanya kita sekolah kan? biar yang gak tau jadi tau dan biar yang sampah jadi gak sampah lagi"
kami tak sadar berpandangan ,aku mengangsurkan kotak makan berisi roti tawar isi gula buatan mama
"mau....?" tawarku
dia memandangi isi kotak ,bergantian dengan memandangiku
"emangnya gapapa?" ujarnya tidak percaya
"Gue sarapan ini tiap pagi masih sehat sih sampe sekarang." jawabku
dia kembali tertawa
"mauliate" ujarnya pelan
"hah kenapa.....?"
"itu nama panjangku ,artinya terimakasih " ujarnya sambil tersenyum
aku balas tersenyum
"oh kalau begitu , mauliate juga Mauliate." jawabku
"buat apa ?" Ate balas bertanya
"untuk ngebolehin gue duduk di tempat dengan view paling bagus di kelas" cengirku
dia menunduk dan tersenyum, "tapikan aku bau " lirihnya lagi
aku mengibaskan tangan " wajar kok ,anak anak kaya ini aja yang kagetan ,santai aja "
"kamu tahan?" Murungnya
"kalo gue gak tahan gue pindah, gimana?" tawarku menanggapi
dia mengangguk pelan pelan , wajahnya masih sedikit muram
"Gue tahan lo bau, tapi kalo lo asem gini mukanya gak asik ah " dengusku kemudian
"aku gak pengen kamu pindah" lirihnya
"Gue gak pengen lo cemberut" balasku
kami berpandangan
"oke deal " ujarku sambil mengacungkan kelingkingku
"hah?" matanya mengerjap tidak mengerti ,aku lalu menarik tangannya dan mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya
"sepakat." ujarku , Mauliate tersadar dan mengangguk angguk senang, lalu kami berdua tertawa
bel pun berbunyi tanda pelajaran dimulai
********
Mauliate
"pulang nak?" Suara mama sedikit mengagetkanku "Iya mak,karung aku tarok di pojok halaman ,abis ganti baju kupilihin ya." Aku membuka tirai kamar untuk mengganti baju
"Sudah makan kau?" Mama melongok ke dalam kamar ,aku sedang mencari kaos yang paling banyak bolongnya untuk dipakai paling sejuk untuk siang yang panas itu.
Aku mengangguk "tadi dibagi teman mak" Ujarku sambil tersenyum
mamak duduk menyebelahiku di atas dipan "sudah ada yang mau temanan denganmu?"
Aku terkekeh ,"Satu mak ,mendingan daripada gak ada " Mamak mengusap pelan kepalaku.
"kenapa harus disekolah anak anak kaya itu sih mak?" Ujarku saat menjatuhkan diri di pangkuannya
"Beruntung dapet beasiswa dari paroki" Jelas mamak memandangiku sambil tersenyum ,orang orang selalu bilang aku dan Mamak punya sorot mata yang sama
teduh namun tegas ,lembut namun melindungi
"tapi aku gak masalah lho kalo tetap di sekolah negeri kayak tempo lalu itu..." Sahutku
"Mamak sama bapak yang masalah te..." Lanjut mamak
"Kenapa rupanya?" Lanjutku bertanya sambil tanpa sadar menghitung uban mama
"Gak ada uang kami ,kalau kau gak pakai beasiswa gak bisa sekolahnya kau." Aku mengangkat tubuhku dari pangkuan mamak
"Kalo aku memang gak bisa sekolah .gak perlu dipaksakan kan Mak?"
Mamak terdiam,kami berpandangan
"Perlu ,biar kau gak perlu menderita kayak gini" Ujar mamak tegas.
"Aku gak menderita Mak ,aku senang cari rongsok ,aku senang gubuk ini ,aku senang bisa bantu mamak bapak " Jelasku
"Tapi kau gak menikmati ini kan?" Ujar mama tajam ,aku terdiam .
"Yah ,bau ini gak bikin aku jadi punya banyak teman sih Mak , sebersih apapun aku mandi.Tetep aja ada baunya,tapi"
"Tapi?"
"Aku gak menderita" Aku tersenyum mengakhiri kalimatku,Mamak hanya bisa tersenyum pedih sambil mengelus pipiku pelan
*****
"Gimana sekolah te?" Bapak menemaniku memilah plastik plastik bekas ,gelas air mineral , bungkus mie instan ,sachet shampoo ,begitu urutannya hari ini
"Baik baik aja pak" Ujarku sambil merapikan tumpukan gelas plastik
"Guru? Teman?" Lanjutnya seraya menghempaskan puntung rokok ke asbak karena sudah habis
"Guru masuk ,teman masuk ." Jawabku asal .
Bapak terbahak mendengarnya "Bukan itu lah" Lanjutnya
"Terus apa lah?" Aku tertawa sambil menirukan logatnya
"Baik mereka samamu?" Mata kami tak sadar berpandangan
"Gimana?" Lanjutnya menyelidik
"Ehm ,ini kan baru dua hari pak.udah lebih baik daripada kemarin lah" Ujarku tak yakin
"Jadi kemarin jahat mereka?"
Aku sejenak berpikir
"Nggak juga sih ,maksudku aku anak tukang sampah pak ,gak mungkin mereka bersorak sorai pas pertama kali lihat aku datang " Jelasku
bapak mengangguk angguk "Baunya ya?"
Aku menganangkat bahu sambil tertawa "Tapi paling nggak mereka jadi ingat sama aku lah pak.,mendingan diinget karena bau daripada gak diinget sama sekali kan?"
"Tapi akan lebih baik kalo diingat karena hal lain kan?" Lanjut bapak lagi.
Aku terdiam sebentar,"Kalo diinget karena pintar dalam dua hari belum bisa terbukti ,
kalo diinget karena ganteng gak mungkin,mukaku sebelas duabelas sama muka bapak standar ,
apa aku gebukin anak orang aja ya pak?"
"Jangan gitu lah kau." Bapak merajuk
"Ya becandanya pak ,mana mungkin aku begitu " Aku mencoba tersenyum
"Bapak ngajarin aku gak bikin malu ,Jadi aku gak akan bikin malu" Lanjutku serius" bapak terdiam mendengarnya seraya pelan pelan tersenyum. Lalu kami kembali tenggelam dalam kegiatan memilah plastik itu
*****
"Le, dragon ball baru udah ada belom?" Suara itu mengagetkan aku dan Ale yang sedang asik mengerjakan LKS pagi itu
"Gampang ,Lo pada nanti siang maen ke rumah gue " Ujar Ale sambil tersenyum pada gerombolan itu
"Lo seriusan tahan duduk disini?" Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan bocah bongsor di depanku ini.
Ale sejenak memandangku tidak enak "iya,enak dari sini liat papan tulis"
Bocah Bongsor dengan wajah Timur tengah itu itu memutar mata tanda tak setuju,begitu juga teman teman di belakangnya yang tampak tidak nyaman dan tersenyum sedikit mengejek.
"Gak bau?" Lanjutnya lagi , Ale berpandangan dengan lelaki kecil tengil itu
"i...iya le,kalo kamu mau pindah gapapa kasihan kebauan " Aku mencoba mendinginkan suasana .
bocah bongsor itu lalu memandangiku "Nah ,pengertian tuh dia" Ujarnya dingin ...
"Oh ya ,udah pada kenal Ate?" Ale memutuskan untuk tak menggubris si anak nyinyir
"Ate, yang pedes ini Dimas ....karetnya dua " ujarnya jenaka sambil menunjuk si bocah sinis yang mau tak mau tersenyum rikuh
"itu Satrio yang kacamata...biasa dipanggil Iyo "
"sama iman yang putih tua" mereka semua tak sengaja tertawa tertahan mendengarkan kata kata Allegro
"Dan saya Mauliate ,yang bau ." Ujarku sambil berusaha tersenyum ,kuat ....aku harus kuat
Mereka sejenak terdiam berpandangan , lalu meledak dalam tawa.
Dimas kemudian mengulurkan tangannya diikuti oleh yang lain, Lalu mereka duduk mengelilingi meja kami
"Kita semua udah Lo kasih julukan ,terus Lo sendiri apa Le?" Tanya Iman sambil bertopang dagu
"Yang ganteng....?" Ujar Allegro tidak yakin.
"Dih " Iman tidak terkesan
"t*i" Maki Satrio lirih
"Yang sok tua,sok pak erte" Tambah Dimas
"Yang punya dragon ball baru , yang gak bakal gue kasih liat kalo kalian semua bacot terus. " Allegro melipat tangannya di d**a dengan pura pura cemberut
"Deuh ngambek ," Satrio menggoda Ale
"Iya deh le, gak lagi ,tapi boleh ya ,ya?" Mohon Dimas
Yang lain terdiam ,Allegro mengangguk sambil pura pura cemberut.
anak anak yang lain lalu bersorak
aku sedikit tersenyum memandangi mereka
Mak,Pak aku rasa,aku sudah dapat teman baru
*****
aku memandangi teman teman Allegro yang sedang khusyuk membaca komik ,dan tak sengaja melihat Allegro yang pandangannya tampak kosong sambil memeluk bantal erat erat
"kamu gak ikut?" aku meninju lembut lengannya
dia terbengong sejenak ,kemudian tersenyum samar "gue udah selesai baca."
aku mengangguk angguk ,kami terdiam sejenak
"lo gak ikut baca te ?" lanjutnya memecah kesunyian
aku menggeleng lagi "gak ngikutin komiknya,gak sempet " jelasku
"dia pulang langsung mulung Le" sambung Dimas
"iya dia pemulung mas,gak usah diperjelas gitu lah" Allegro mulai gerah mendengar kata kata Dimas , aku memegangi tangannya dan menggeleng
mencegah keadaan memanas lagi
"errr, jangan salah tanggep gue bukan nyela, itu pujian sebenernya" lanjut Dimas.
" gimana pujian ? ngeselin gitu" timpal Iman ,Allegro mengangguk tanda setuju .
"elu semua pulang sekolah makan enak ,cuci kaki,tidur siang nah dia?"
"cari harta karun.?" sambungku tiba tiba .mereka semua memandangiku sekarang.
"ayolah ,mulung gak semenyedihkan itu kok" jelasku mereka semua memperhatikanku sekarang
"iya ,anggep aja maen diluar." satrio menanggapi.
"nah yang begini ini maksud gue,pada negatif thinking mulu sih." Dimas menopang dagunya,komik dragon ball baru benar benar terlupakan sekarang.
"tapi kan gue yang bawa dia kesini,gue punya kewajiban buat ngelindungin dia?" lanjut Ale tak sabar .
Iman tertawa mendengarnya "elo gak liat dia,pak erte?"
"gak liat dia gimana?" Ale menaikkan suaranya
"badannya gede gitu, yang ada dia yang ngelindungin elu" jelas iman
"tapi yang lucu adalah" sambung Ate tiba tiba
"apaan ?" tanya Dimas
"dia yang nyelametin aku dari anak anak itu."
"Yang ngata ngatain Lo bau ?" Lanjut Iman
"Iya "
"Emang Lo gak biasa digituin?"
" Ya namanya orang ,kuat kuat ngangkat karung juga kalo udah hati sakit ya gak bisa diapa apain"
Aku tak sengaja berpandangan dengan Allegro ,lalu berbisik terimakasih.dia tersenyum dan mengangkat bahunya dan cerita kami dimulai hari itu
******
Mamak membuka tirai kamar Ate untuk di cuci .....kemudian melihat Ate sedang tiduran di dipan tanpa kasurnya
"Ngapain mang?" Tanya perempuan itu singkat ....
"Gambar Mak ...."sahut Ate tanpa benar benar menoleh ....
Mamak melongok lebih dalam ke coret coretan Ate ....
"Siapa itu.....?"
"Orang baik Mak ....teman baru Ate .... namanya Allegro .... dipanggilnya Ale ...."
"Hampir sama dengan panggilanmu ...."
Ale mengangguk ....mamak sedikit mengamati apa yang Ate buat .....
"Ganteng ......pintarnya kau gambar ...." Ujar Mamak sambil.mengangkat bahu .....
"Te... terimakasih Mak......"
Mamak duduk di dipan dan mengusap punggung Ate "semoga betah ya kau di sekolah....."
"I...i...ya Mak...."gagap ate sambil meneruskan sketsanya ...
Wajah tersenyum seorang bocah dengan sorot mata ambigu ....bersemangat sekaligus putus asa ....sangat gembira sekaligus sedih akut ....
"Allegro ....." bisik Ate sambil tak sengaja tersenyum.....