Mella POV
“Noel, kok ga ada orang selain kita?”tanyaku yang melihat kearah Noel berdiri tadi. Namun nihil, aku juga tidak menemukan Noel yang tadi berdiri disampingku.
“Noel...”panggilku.
“Kamu kemana, No? Jangan main-main deh.”ucapku yang dilanda kepanikan. Akhirnya tak lama aku dikejutkan oleh sebuah cahaya lampu yang menyorotiku dan panggung kecil yang tiba-tiba saja muncul ditengah taman. Namun panggung yang kulihat tidak kosong, Melainkan ada seorang pria tengah bermain gitar sambil menyanyikan sebuah lagu yang sangat-sangat membuat aku terharu mendengarnya. Lagu lama yang dahulu sempat menjadi angan-anganku dinyanyikan oleh orang yang aku cintai dulu. Sekarang orang yang dicintai itu berada ditengah-tengah panggung sambil menyanyikan lagu itu, diiringi oleh gitar yang dipegangnya.
“Sir, I’m a bit nervous ‘bout being here today.
Still not real sure what I’m going to say,
So bare with me please,
If I take up to much of your time..
See in this box is a ring for your oldest,
She’s my everything and all that I know is,
It would be such a relief,
If I knew that we were on the same side,
Very soon I’m hoping that I...
Can marry your daughter, make her my wife..
I want her to be the only girl,
That I love for the rest of my life..
And give her the best of me,
‘till the day that I die, yeah..
I’m gonna marry your princess,
And make her my quuen..
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen..
I can’t wait to smile, when she walk down the isle,
On the arm of her father,
On the day that I marry your daughter...”senandung pria itu dari atas panggung dan tanpa kusadari air mataku telah membanjiri pipiku sedari tadi.
“Mella..”panggil pria itu dari atas panggung dan kini aku telah benar-benar melihat jelas wajahnya. Karena dia perlahan mulai mendekatiku dan tak butuh waktu lama, dia telah berada tepat dihadapanku dengan sebuah mic ditangannya.
“Mella, did you remember me?”tanyanya sambil menatap kedua manik mataku yang telah basah akibat ulahnya.
“Yeah..”jawabku dengan suara terdengar parau.
“And will you marry me?”tanyanya yang membuatku tersontak kaget.
“Are you kidding me?”tanyaku balik.
“No, I’m seriously. Mella, will you marry me?”tanyanya lagi yang langsung membuat pipiku merah merona. Namun aku seakan teringat pada orang tuaku yang dahulu melarang hubungan ini.
“Calm down sweet heart. Your parents was agree, and you don’t be panic.”ucapnya yang seakan membaca pikiranku.
“But how?”tanyaku.
“Because he was invite us.”jawab Noel dari arah belakangku. Aku dengan refleks pun langsung membalikkan badanku kearah suara.
“Mama, bapak, Adellia, Tiara, Noel. Bagaimana bisa kalian berkumpul disini?”tanyaku keheranan.
“Bukan hanya keluargamu saja Mella. Kami pun berada disini.”ucap suara yang sudah lama tak terdengar olehku.
“Shely...”ucapku saat melihat Sherly datang dari arah kananku dan aku melihat teman-teman SMA-ku yang lain juga ada disini.
“Kita disini buat nyaksi’in acara lamaran yang dibuat sama bapak Arkia untuk pujaan hatinya Mella.”ucap Vala yang datang dari belakang Shely bersama Kasem dengan seorang bayi mungil digendongannya.
“Selamat ya, Mel.”ucap Kasem hendak menyalamiku dan aku pun ingin membalasnya. Namun tangannya buru-buru ditepis oleh Vala dengan pukulan kecil.
“Hei! Dia belum selesai dilamar, kamu udah main selamat-selamat aja.”ucap Vala.
“Oh belum ya? Kirain udah. Sorry, sorry.”ucap Kasem sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Huuu...”sorak yang lain pada Kasem.
“Woi suami gue tuh. Main sorak-sorak aja.”ucap Vala yang membela Kasem.
“Cie dibela istrinya.”sorak yang lain.
“Udah-udah. Nanti acara gue ga jadi-jadi gara-gara kalian.”ucap Arkia, ya pria yang dari tadi membuat jantungku berdegup tak menentu itu ialah Arkia. Seketika semua yang ada disitu diam membatu menantikan kalimat yang akan dilontarkan oleh pria yang ada dihadapanku ini.
“Mella, sekali lagi. Maukah kamu menikah denganku? Menjadi pasangan hidupku, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, dan menjalani masa depan bersama denganku nanti.”ucap Arkia sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan membuka kotak tersebut yang berisi sebuah cincin yang sangat berkilau dan indah. Aku sendiri yang melihatnya merasa terharu hingga meneteskan cairan bening yang keluar dari pelupuk mataku.
“Ya. Aku mau menikah denganmu. Menjadi pasangan hidupmu, menjadi ibu dari anak-anak kita, dan menjalani masa depan bersama denganmu.”jawabku mantap. Sehingga semua orang yang mendengarnya bertepuk tangan dan bersorak untuk kami berdua. Tak lama, aku dikejutkan oleh suara kembang api dan ternyata kembang api itu menggambarkan wajahku dan wajahnya bersama.
“Thanks baby.”ucap Arkia sambil memasangkan cincin itu kejari manisku lalu memelukku dari samping dengan lembut.
“Cie sekarang udah main peluk-peluk aja.”ucap Shely. Aku pun segera menjauhi diriku dari rangkulan Arkia. Namun Arkia segera menarikku kembali ke dalam pelukannya tanpa membiarkanku lepas.
“Biarinkan saja. Sekarang kami sudah resmi.”ucap Arkia.
“Hei anak muda! Kamu harus ingat, ini hanya acara lamaran. Acara peresmian kalian berada di gereja nanti. Jadi tolong jaga jarak dengan putriku.”ucap bapak dan Arkia langsung melepaskan rangkulannya dariku sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Melihat itu kami pun hanya tertawa, begitu pula bapak.
“Tapi Mel, kalian awet juga ya.”ucap Shely.
“Maksud kamu, Ly?”tanyaku yang tidak mengerti akan pertanyaan Shely.
“Kalian jadian dari SMA dan belum pernah putus. Wow! Salut aku sama kalian berdua.”jawab Shely.
“Memangnya kamu ga pacaran setelah kejadian itu?”tanyaku pada Arkia yang berada disampingku.
“Hmm. Itu sih, aduh gimana ya?”ucapnya yang membuatku menaikan sebelah alisku.
“Pak Arkia malah selalu jaga jarak sama wanita bu. Saya saja yang melihatnya heran sendiri bu, bapak masih normal atau ada kelainan?”jelas sekretari pribadi Arkia.
“Hendra, jangan kamu buka kartu saya disini.”ucap Arkia dengan tatapan tajamnya.
“Udah-udah. Ga baik diliatin yang lain.”ucapku melembutkan kembali tatapan Arkia.
“Anything for you sweety.”ucap Arkia.
“Kia, malu tahu. Kamu manggil aku kayak gitu.”ucapku pelan.
“Panggilan itu. Sudah lama aku tidak mendengarnya langsung darimu.”ucap Arkia yang langsung membuatku salah tingkah.
“Oh, jadi itu sebabnya kenapa lo ga mau kita panggil Arkia dengan sebutan Opung. Ternyata panggilan sayang-nya itu Kia.”ucap Amed dari tengah-tengah kerumunan.
“Pantas gue selalu kena semprot dia, kalau gue manggil Arkia dengan sebutan opung.”ucap Ditya.
“Ha? Mana ada? Apaan sih Amed, Ditya?”ucapku makin salah tingkah.
“Pantes saja pak Arkia tidak membenarkan orang lain memanggil dirinya dengan Kia. Ternyata karena bu Mella toh, alasannya.”ucap Hendra sekretaris Arkia.
“Hendra!”ucap Arkia ingin meninggi, namun langsung aku beri tatapan tajam.
“Hendra, sepertinya banyak yang harus kamu beri tahu padaku tentang atasanmu ini.”ucapku sambil tersenyum licik.
“Maaf bu, saya tidak berani. Nanti saya bisa dipecat sama pak Arkia.”ucap Hendra menunduk.
“Tidak, Arkia tidak akan berani memecatmu. Karena jika itu sampai terjadi, maka dia akan tahu sendiri konsekuensinya.”ucapku sambil melirik kearah Arkia yang memasang wajah polos nan tampannya itu.
“Arkia, Mella. Kita semua tunggu traktiran dari kalian ya.”ucap Ciny.
“Traktiran apaan nih?”tanya kami berdua bingung.
“Pura-pura ga tahu mereka. Silahkan diperjelas bu Ciny.”ucap Ditya.
“Jadi, setelah mengundang kami semua kesini. Menyaksikan acara lamaran kalian ditempat se-romantis ini yang bisa buat kami para jomblo iri. Sekarang waktunya kami meminta upah dari ini semua. Kami ingin traktiran dari kalian berdua.”ucap Ciny panjang lebar.
“Aku juga kak. Cuma gara-gara Arkia, aku sampai harus mata-matain kakak kandung aku sendiri, terus harus laporan kakak lagi dimana, ngapain, dan lainnya. Capek tahu kak! Sampai-sampai aku harus bohong kalau teman aku adain pesta. Itu semua kerjaannya Arkia.”ucap Noel memberi penjelasan yang membuatku dan yang lain tertawa mendengarnya.
“Hahaha...”
“Tapi apa itu benar, Kia?”tanyaku padanya.
“Yes sweet heart. Semua itu aku lakuin buat kamu, karena aku sayang sama kamu.”ucap Arkia merangkulku.
“Tapi bukannya kamu dikabarkan lagi dekat dengan model dari Thailand.”tanyaku
“No sweety. Itu hanya kabar angin. Kamu tahu, bukan? Wartawan selalu membuat sebuah berita yang hanya mengandalkan camera.”jawab Arkia.
“Hm, kamu juga bukannya dikabarkan dekat dengan seorang teman kampus kamu yang ada di Landon, ya?”Arkia balik tanya
“Same answer with you.”jawabku. “Tapi, aku ga lagi mimpi, kan?”tanyaku padanya lagi.
“Enggak Mella, kamu ga lagi mimpi. Ini semua nyata, dan pernyataan aku tadi juga nyata tanpa rekayasa.”ucap Arkia.
“Thanks Kia.”
“Anything for you my lady.”