Pagi hari ketiga, Prima datang bersama Rama untuk konsultasi yang diminta Kiran. Banyu duduk di sisi ranjang; Bella memilih menunggu di luar agar ruangan tidak terlalu penuh. Rio berdiri di dekat jendela setelah Kiran mempersilakannya ikut mendengar.
Prima menjelaskan pilihan perawatan yang tersedia, manfaat yang diharapkan, risiko, serta kemungkinan pemulihan. Ia menghindari janji bahwa hasil tertentu pasti terjadi. Kiran meminta penjelasan diulang pada bagian yang belum ia pahami. Rio beberapa kali tampak ingin bertanya, tetapi ia menahan diri dan membiarkan Kiran menyampaikan pertanyaannya sendiri.
"Apa yang perlu saya pertimbangkan kalau saya memutuskan menunggu?" tanya Kiran.
Prima menjawab dengan jujur bahwa kondisi perlu diawasi dan tim akan menjelaskan batas aman yang berlaku dalam keadaannya. Ia tidak mengubah jawaban menjadi ancaman. Kiran lalu bertanya soal pendamping dan biaya. Petugas administrasi akan menjelaskan pilihan bantuan secara terpisah, sehingga keputusan medis tidak bercampur dengan uang yang mungkin diberikan Rio.
Kiran mencatat beberapa poin. Ia meminta waktu sampai sore untuk memikirkannya. Prima menyetujui dan memberi ruang untuk konsultasi kedua. Setelah dokter keluar, Rio bertanya apakah Kiran ingin ia tetap tinggal. Kiran berkata iya, tetapi ingin mereka tidak membahas pilihan sampai ia sendiri membuka topik.
Banyu menyerahkan buku catatan kepada Kiran. Ia telah menulis pertanyaan yang tadi terlewat, bukan jawabannya. Kiran berterima kasih. Ia merasa lega karena pendampingannya tidak berubah menjadi kampanye agar ia memilih satu jalan.
***
Siang itu Kiran meminta Bella kembali masuk. Ia ingin memastikan temannya memahami bahwa ia tidak menyalahkan Bella atas kejadian dahulu. Bella berkata ia tahu, tetapi rasa bersalahnya tetap muncul sesekali. Kiran menjawab mereka boleh sama-sama memiliki perasaan sulit tanpa mengubahnya menjadi tuduhan.
Mereka membicarakan bagaimana Kiran dulu sering menutup diri. Bella tidak memarahi, tetapi mengatakan ia berharap Kiran memberi kabar lebih awal jika merasa sakit. Kiran menerima itu sebagai permintaan seorang teman, bukan kewajiban untuk melaporkan setiap hal.
Rio mendengarkan dari kursi. Ia merasa ingin menjanjikan bahwa mulai sekarang ia akan selalu menjaga Kiran. Namun janji seperti itu terdengar seperti mengambil alih. Ia memilih bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia lakukan hari itu.
Kiran meminta Rio menghubungi pemilik restoran untuk menyampaikan bahwa ia belum dapat kembali bekerja dalam waktu dekat. Ia tidak ingin rekan-rekannya menunggu tanpa kabar. Rio bertanya apakah ia boleh menyebutkan alasan medis. Kiran meminta hanya mengatakan ia sedang dirawat dan akan memberi kabar bila siap.
Rio menghubungi Banyu, yang menjadi manager restoran, dan memastikan pesan itu disampaikan sesuai kata-kata Kiran. Tidak ada informasi lain yang dibagikan. Kiran merasa dihargai karena bahkan kabar kerja pun tetap ia kendalikan.
Sore hari, Prima kembali untuk menjawab pertanyaan tambahan. Kiran menyampaikan bahwa ia condong menerima penanganan yang disarankan, tetapi ingin malam itu untuk memastikan ia tidak memilih karena rasa bersalah kepada Rio. Prima berkata ia dapat mengambil waktu itu. Keputusan yang matang tidak harus dibuat untuk meredakan kecemasan orang lain.
Kiran melihat Rio. "Aku ingin memilih karena aku ingin memberi diriku kesempatan, bukan supaya kamu berhenti sedih."
Rio mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Itu keputusanmu. Aku akan menghormatinya."
Kiran belum menandatangani persetujuan. Ia ingin membaca kembali penjelasan dan bicara besok pagi. Namun malam itu, ia mulai membayangkan masa depan bukan sebagai beban yang harus ia hindari, melainkan kemungkinan yang boleh ia pertimbangkan.
Kiran meminta salinan rangkuman konsultasi dan bertanya kapan ia bisa membacanya kembali bersama Prima. Ia ingin membicarakan pilihannya saat pikiran lebih tenang, bukan ketika semua orang menunggu jawaban. Prima menjadwalkan waktu konsultasi berikutnya dan memastikan Banyu mengetahui waktu itu, sesuai izin Kiran.
Banyu mengingatkan bahwa Kiran tidak wajib mengambil keputusan demi meredakan kecemasan Rio. Kiran berkata ia tahu, meski masih sulit memisahkan rasa sayang dari rasa takut mengecewakan. Banyu menjawab, "Kalau lo memilih sesuatu, pilih karena lo menginginkannya. Jangan karena gue atau Rio."
***
Mira? Kiran—no additional character. Rio kembali datang menjelang sore. Kiran memintanya duduk dan mengatakan ia ingin membicarakan uang serta pekerjaan. Rio mendengar bahwa Kiran takut kehilangan penghasilan dan tempat kerja bila harus menjalani masa pemulihan. Ia menawarkan menghubungkan Kiran dengan bagian administrasi, tetapi Kiran meminta ia tidak menjanjikan apa pun.
Rio menghubungi petugas hanya setelah Kiran memberi izin. Mereka mendapat penjelasan bahwa status kerja perlu dibicarakan langsung dengan pemilik restoran, bukan diputuskan rumah sakit. Kiran meminta Rio menyampaikan bahwa ia belum dapat kembali, tetapi tidak ingin dihapus dari jadwal selamanya.
Rio melakukan itu persis sesuai kata-katanya. Banyu menerima pesan tersebut dan menjawab bahwa tempatnya tetap ada bila Kiran ingin kembali, tanpa tanggal dan tanpa paksaan.
Kiran membaca balasan itu dan berkata ia sempat mengira semua orang akan lelah menunggunya. Bella mengatakan tidak ada yang sedang menunggu dengan hitungan mundur. Mereka akan menjalani hari masing-masing, dan Kiran dapat menentukan kapan menghubungi.
***
Pada konsultasi sore, Prima kembali menjelaskan poin-poin yang Kiran tanyakan. Kiran belum mengumumkan keputusannya, tetapi mengatakan ia ingin mempertimbangkan opsi yang disarankan. Prima berkata ia dapat mencatat bahwa Kiran masih berdiskusi, bukan menolak atau menyetujui.
Rio tidak menuntut jawaban malam itu. Kiran meminta ia berhenti menganggap diam sebagai tanda bahwa ia akan menolak. Rio setuju. Mereka sepakat membiarkan kata belum tetap menjadi belum, bukan mengisinya dengan ketakutan masing-masing.
Kiran mengakhiri hari dengan perasaan lelah namun lebih jelas. Ia memiliki informasi yang lebih baik, dukungan praktis, dan hak untuk memutuskan. Itu belum menghilangkan rasa takut, tetapi mengubah cara ia memegangnya.
Kiran meminta Prima menjelaskan apakah konsultasi tambahan akan mengubah persetujuan yang nanti ia berikan. Prima mengatakan konsultasi tidak mengikat; Kiran boleh meminta penjelasan lagi sebelum menentukan. Kiran meminta hal itu dicatat, dan Prima menyetujuinya.
Setelah semua orang keluar, ia menaruh catatan konsultasi di laci. Ia tidak ingin membacanya berulang-ulang sampai ketakutan menjadi satu-satunya suara. Ia meminta Banyu mengingatkan jadwal konsultasi, tetapi tidak mengambil keputusan untuknya.
=