Kiran meminta Rio dan Banyu datang bergantian ke kamarnya. Ia ingin menyelesaikan satu hal sebelum mengambil keputusan perawatan. Ia meminta Banyu lebih dulu. Banyu duduk di kursi dan menunggu sampai Kiran siap bicara.
"Selama dua tahun ini, kamu enggak pernah jadi kekasihku," kata Kiran.
Banyu tersenyum tipis. "Gue tahu."
"Aku memakai namamu supaya Rio berhenti mencari jawaban. Itu enggak adil buat kamu."
"Lo enggak pernah minta gue pura-pura pacaran. Orang-orang yang salah paham karena gue sering nemenin lo. Gue memilih jadi teman lo."
Kiran mengatakan ia berterima kasih, tetapi tidak ingin hubungan mereka diceritakan sebagai pengorbanan romantis. Banyu bukan pengganti Rio dan tidak pernah mengharapkan posisi itu. Banyu setuju. Ia mengakui dirinya pernah marah melihat Kiran menanggung semuanya sendiri, namun kemarahan itu tidak membuatnya berhak mengatur.
Mereka sepakat bahwa setelah ini Banyu akan membantu sebagai teman dan manager restoran, sejauh Kiran mengizinkan. Kiran tidak perlu berpura-pura menjadi kekasihnya untuk mendapat dukungan.
***
Rio datang setelah Banyu keluar. Kiran mengatakan hal yang sama kepadanya. Ia menjelaskan bahwa Banyu adalah sahabat yang membantunya, bukan laki-laki yang ia cintai. Rio berkata ia menyesal membiarkan kecemburuan menguasai pikirannya.
"Aku dengar kamu. Aku enggak ingin kamu mengulang-ulang penjelasan demi meyakinkanku."
"Aku tidak akan."
Kiran bercerita bahwa suatu saat setelah putus, ia pernah melihat berita Rio di majalah rumah sakit. Ia merasa bangga sekaligus sedih. Ia ingin menghubungi, tetapi takut akan membuka luka lama dan membuat Rio khawatir. Rio mendengar tanpa meminta Kiran membuktikan perasaannya.
"Kamu mungkin marah karena aku berbohong," kata Kiran.
"Aku marah pada kebohongannya, tapi aku juga melihat bagaimana aku memilih bereaksi. Aku enggak akan menganggap alasanmu menghapus dampak yang aku rasakan. Tapi aku bisa memahami kenapa kamu melakukan itu."
Kiran merasa untuk pertama kalinya mereka dapat memegang dua kenyataan sekaligus: ia menyakiti Rio dengan berbohong, dan Rio menyakitinya dengan prasangka serta kekerasan. Tak ada yang harus dihapus agar mereka bisa melangkah.
Prima masuk untuk memastikan konsultasi besok tetap sesuai permintaan Kiran. Rio berdiri dan menunggu Kiran menjawab sendiri. Kiran meminta ia tetap hadir sebagai pendamping, bukan sebagai dokter. Prima mencatatnya dan berkata tim lain yang menangani keputusan medis akan menjelaskan kembali bila diperlukan.
Sesudah dokter pergi, Kiran berkata ia mulai condong menerima penanganan. Rio ingin menggenggam tangannya, tetapi bertanya lebih dulu. Kiran mengulurkan tangan. Sentuhan itu singkat dan tidak menjadi janji mereka kembali bersama.
"Aku memilih ini untuk diriku," kata Kiran.
"Aku tahu."
Malam itu Kiran menulis kata-kata tersebut di buku catatan. Ia ingin mengingat bahwa dukungan orang lain tidak membuat keputusan itu berhenti menjadi miliknya. Esok pagi ia akan menyampaikan jawabannya dengan sadar, setelah mendengar seluruh informasi yang diperlukan.
Rio mengingat kembali hari ketika Kiran mengaku Banyu sebagai kekasih. Ia bertanya apakah Kiran ingin membicarakan bagaimana kebohongan itu memengaruhi mereka. Kiran setuju, dengan batas bahwa percakapan tidak berubah menjadi tuntutan agar ia terus meminta maaf.
Rio berkata ia merasa dipermainkan dan marah, lalu membiarkan kemarahan itu mengarahkannya. Ia menjadikan Banyu musuh tanpa bertanya. Kiran berkata ia memahami akibat kebohongan itu, tetapi juga ingin Rio tahu ia tidak pernah berniat mempermalukannya.
"Aku waktu itu berpikir kalau kamu membenciku, kamu bisa berhenti mengorbankan waktu dan uang buat aku," katanya.
Rio menjawab bantuan yang ia berikan tak pernah ia anggap pengorbanan yang harus dibayar. Namun ia mengakui ia seharusnya memastikan Kiran memahami itu, bukan menganggapnya jelas.
***
Banyu masuk setelah Rio keluar. Kiran kembali mengatakan ia tak ingin kisahnya dengan Banyu dijadikan alasan untuk cemburu atau menjadikan siapa pun pahlawan. Banyu berkata ia setuju. Ia tidak pernah menganggap dirinya kekasih Kiran dan tidak ingin Rio memperlakukannya sebagai saingan.
"Aku harusnya mencegah salah paham sejak awal," kata Banyu.
"Kalau kamu terus membelaku, orang-orang mungkin tetap mengira begitu," jawab Kiran.
Banyu menerima bahwa ia tidak selalu tahu cara terbaik membantu. Ia akan meminta izin sebelum mengungkapkan sesuatu yang pribadi. Kiran juga berjanji memberi tahu bila ia tak ingin bantuan lagi.
***
Rio menyampaikan bahwa ia akan mengubah cara menghubungi Kiran. Ia meminta izin menyimpan nomor Banyu sebagai kontak pendamping, tetapi Kiran berkata Banyu boleh memberi nomornya sendiri jika ia setuju. Rio tidak menghubungi Banyu tanpa izin.
Kiran berkata ia ingin mereka dapat mengakui kesalahan tanpa menukar maaf dengan hubungan. Rio menjawab ia tidak akan meminta Kiran menjadi kekasihnya karena ia telah mengakui alasannya.
Mereka menyepakati percakapan berikutnya bisa terjadi tanpa mengulang nama Banyu sebagai konflik. Kiran tidak perlu membuktikan lagi bahwa ia mencintai Rio. Rio tidak perlu membuktikan bahwa ia lebih penting dari Banyu.
Malam itu ia meminta Rio membaca pesan singkat yang ditulisnya untuk dirinya sendiri: "Aku boleh meminta bantuan dan tetap membuat keputusan." Rio membaca, lalu mengembalikan ponsel. Ia tidak meminta Kiran mengirimkannya kepadanya.
Kiran menyimpan kalimat itu. Ia mulai mengerti bahwa memperbaiki hubungan tidak berarti kembali menjadi orang yang sama. Mereka dapat membangun sesuatu yang berbeda jika keduanya masih menginginkan, dengan kebenaran yang tidak lagi disembunyikan.
Sebelum Banyu pamit, Kiran memintanya tetap menggunakan kata teman bila orang bertanya tentang hubungan mereka. Banyu setuju dan berkata ia tidak malu dengan persahabatan itu.
Rio mendengar permintaan tersebut saat kembali. Ia mengatakan akan melakukan hal yang sama. Kiran merasa lega karena tak seorang pun meminta hubungan mereka dibingkai ulang demi memudahkan orang lain memahami situasi.
Kiran meminta Bella tidak mengabari rekan kerja lebih dari yang ia setujui. Bella mengulang kata-kata Kiran sebelum mengirim pesan, dan Kiran mengangguk. Ia merasa lega dapat mengatur informasi yang keluar dari ruang rawat.
Saat Bella pulang, Kiran memikirkan bagaimana selama ini ia mengira rahasia adalah satu-satunya cara melindungi orang. Kini ia mulai melihat bahwa batas yang jelas dapat melindungi dirinya tanpa kebohongan.
=