Hari kesepuluh mendekat. Kiran sempat sadar dan meminta Banyu serta Rio masuk bergantian. Kepada Banyu, ia berterima kasih karena ia menjadi teman tanpa meminta hubungan yang tak pernah ada. Banyu menjawab ia akan selalu menghargai persahabatan mereka, apa pun yang terjadi.
Kiran bertanya apakah Banyu sudah memaafkan Rio. Banyu berkata ia belum tahu. Ia tidak ingin berbohong demi menenangkan Kiran. Kiran menerima jawaban itu dan berkata Banyu tidak wajib menyelesaikan luka demi dirinya.
"Aku enggak mau kamu bawa semua urusan kami," kata Banyu. "Lo boleh fokus sama diri lo."
***
Saat Rio masuk, Kiran meminta ia duduk. Ia berbicara dengan susah payah, tetapi ia ingin menyampaikan beberapa hal. Ia meminta Rio menjaga hubungannya dengan orang-orang yang masih hidup. Jangan memutuskan semua orang karena ia pergi. Jangan menganggap melanjutkan hidup sebagai pengkhianatan.
Rio memejamkan mata. "Aku belum tahu apa aku sanggup."
"Enggak harus sekarang."
Kiran mengatakan ia tidak ingin Rio mengingat dirinya hanya sebagai pasien atau mantan kekasih yang pergi. Ia ingin ia mengingat mereka pernah tertawa, bertengkar, dan tumbuh. Ia tidak meminta Rio melupakan foto atau kenangan. Ia hanya tidak ingin kenangan itu berubah menjadi penjara.
Rio menangis. Ia tidak berjanji bahwa ia akan baik-baik saja. Ia hanya berkata akan mencoba meminta bantuan bila kesedihan membuatnya ingin menyakiti diri sendiri atau menjauh dari semua orang. Kiran mengangguk.
"Aku masih sayang kamu," bisik Kiran.
Rio menjawab, "Aku juga. Dan aku enggak akan minta kamu membalas apa pun."
Kiran kemudian meminta istirahat. Rio keluar, membiarkan tim merawatnya. Di lorong, ia tidak dapat berdiri tegak. Antoni dan Renaldy mendampinginya. Banyu menyodorkan air. Rio menerimanya.
Mereka tahu pembicaraan itu tidak menandakan Kiran akan meninggal malam itu. Kiran masih dirawat dan tim terus memantau. Namun kata-katanya membuat Rio memahami hal yang belum selesai di dalam dirinya: ia masih menganggap cinta berarti mampu mencegah kehilangan.
Saat hujan turun, ia duduk di antara keluarga dan sahabat. Tidak ada yang meminta ia bersiap untuk perpisahan yang belum terjadi. Mereka hanya menunggu kabar terbaru dan memberi Kiran waktu untuk beristirahat.
Rio memandang tangannya. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah kembali memegang instrumen bedah dengan tenang. Ia belum membuat keputusan tentang kariernya. Untuk saat ini, ia hanya ingin menjadi orang yang Kiran kenal, bukan dokter yang harus selalu berhasil.
Bella bertanya kepada Rio apakah ia mau membaca pesan dari Kiran yang disampaikan melalui Banyu. Rio berkata ia sudah membacanya dan tidak ingin menafsirkan lebih jauh. Ia menyimpan ponsel.
Mereka berbicara tentang Kiran sebagai rekan kerja. Bella menceritakan kebiasaannya memastikan semua orang sudah makan sebelum menutup restoran. Rio mengatakan Kiran pernah mengingatkannya membawa bekal saat ia bekerja terlalu lama. Mereka tersenyum, lalu sama-sama terdiam.
***
Banyu kembali dan berkata ia ingin bicara dengan Rio secara langsung. Mereka berdiri di lorong yang agak sepi. Banyu menyatakan ia melihat Rio berusaha menghormati Kiran, tetapi luka lama belum hilang. Rio menjawab ia tidak meminta Banyu melupakan.
"Kalau nanti gue bisa memaafkan, itu bukan berarti gue membenarkan apa yang lo lakukan," kata Banyu.
"Gue paham."
Banyu berkata ia ingin hubungan kerja mereka tetap berjalan baik. Untuk urusan pribadi, ia akan menentukan sendiri kapan siap. Rio menyetujui. Mereka tidak berjabat tangan atau memaksakan rekonsiliasi.
***
Kiran meminta bertemu Rio sebentar. Ia berkata ia tahu ia pernah membuat Rio menunggu dua tahun tanpa jawaban. Ia menyesal, tetapi tidak ingin permintaan maafnya membuat Rio merasa harus memberi janji apa pun.
Rio menjawab ia menerima permintaan maaf itu, tetapi ia juga tahu waktu tidak dapat dikembalikan. Ia tidak ingin Kiran memikul rasa bersalah di tengah keadaan yang sedang dihadapi.
Kiran berkata ia tidak tahu berapa banyak waktu yang dimiliki. Rio menjawab ia juga tidak tahu dan tidak akan berpura-pura. Mereka sama-sama menangis, tetapi Kiran meminta Rio tidak mengucapkan selamat tinggal.
"Aku belum mengucapkan selamat tinggal," katanya.
Rio mengangguk. Ia memegang tangannya setelah diminta.
***
Setelah keluar, Rio menemui Renaldy. Ia berkata ia belum siap menerima kehilangan. Renaldy tidak mendesaknya. Ia hanya mengingatkan bahwa bila perpisahan datang, Rio tetap dapat meminta bantuan.
Rio menatap pintu ruang rawat. Ia tidak membuat janji untuk pulih. Ia hanya berjanji untuk tidak sengaja mengisolasi diri. Itu hal terkecil yang mampu ia janjikan hari itu.
Kiran tetap dirawat. Tidak ada perubahan yang memastikan akhir tertentu. Percakapan mereka menutup beberapa penyesalan, namun bukan berarti mereka telah selesai menghadapi hari-hari yang sulit.
Ketika Rio mengatakan ia belum tahu apakah akan sanggup menerima kehilangan, Kiran menjawab ia tidak harus memberi jawaban saat itu. Ia ingin Rio tetap meminta bantuan meski tidak sanggup berjanji pulih.
Rio berjanji hanya akan mencoba, bukan memastikan hasil.
***
Kiran bertanya apakah Banyu sudah menyampaikan pesan tentang dirinya. Rio menjawab sudah. Ia tidak menafsirkan pesan itu sebagai izin untuk mulai hubungan baru atau meninggalkan duka.
Mereka sepakat satu percakapan tidak menyelesaikan semuanya. Rio akan tetap datang bila diizinkan dan Kiran akan tetap berkata bila ia ingin berhenti.
Rio meminta Banyu menyampaikan bahwa ia menerima permintaan Kiran untuk menjaga hubungan dengan sahabatnya. Banyu menjawab ia tidak bisa menjanjikan semuanya akan kembali seperti dulu, tetapi ia bersedia tetap berbicara.
***
Rio tidak membalas dengan menuntut maaf. Ia berkata ia akan membuktikan lewat waktu.
***
Saat Kiran sadar lagi, ia bertanya apakah Rio sudah makan. Rio menjawab iya. Kiran meminta ia tidak berbohong. Rio tertawa kecil dan mengaku baru makan sedikit. Kiran meminta ia makan lagi setelah keluar.
Rio berjanji akan melakukannya. Ia menepati janji sederhana itu dengan membeli makanan dan mengirim kabar kepada Naya, bukan kepada Kiran.
Rio mengirim pesan sebelum berangkat dan bertanya apakah Kiran masih ingin ia datang. Kiran menyetujui kunjungan singkat. Rio menunggu di lobi sampai Banyu mengonfirmasi waktu yang tepat.
***
Rio duduk dan bertanya apakah Kiran ingin bicara. Kiran memilih diam. Ia menerima jawaban itu dan tetap menemaninya tanpa meminta percakapan.
=