Hari kesepuluh, ruang tunggu terasa lebih sunyi. Banyu pergi sebentar ke restoran untuk memastikan semuanya berjalan, sementara Bella dan Naya bergantian menemani Kiran. Rio tertidur di sofa setelah beberapa malam hanya tidur singkat. Ketika terbangun, ia langsung bertanya apakah ada kabar.
Prima mengatakan keadaan Kiran masih kritis dan tim terus merawatnya. Rio mengangguk, berusaha menerima bahwa tidak ada pembaruan yang dapat menghilangkan ketidakpastian.
"Aku ingin masuk," katanya.
Prima memastikan Kiran mengizinkan. Kiran sedang sadar sebentar dan meminta Rio. Ia masuk dengan langkah pelan. Kiran tampak sangat lemah. Rio duduk di kursi dekat ranjang.
"Kamu tidur?" tanya Kiran.
"Sedikit."
"Bagus."
Rio tersenyum tipis. Ia tidak bertanya tentang rasa sakit atau masa depan. Kiran meminta ia bercerita tentang hal biasa. Rio menceritakan bahwa Naya membeli terlalu banyak buah, dan Antoni menyalahkan dirinya sendiri karena lupa menyiram tanaman. Kiran mendengarkan dengan mata setengah terbuka.
***
Kiran meminta Rio membacakan pesan lama yang pernah ia simpan. Rio bertanya pesan mana. Kiran menyebut satu pesan pendek dari masa mereka masih bersama, ketika Rio berjanji akan membelikan makanan setelah jadwal operasi yang melelahkan. Rio membuka ponselnya dan menemukan percakapan itu. Ia membacakan tanpa mengubah kata-katanya.
Kiran tersenyum lemah. "Kamu memang selalu lupa bawa makanan sendiri."
"Masih begitu."
Mereka tertawa kecil, lalu Kiran berhenti karena lelah. Rio meletakkan ponsel dan bertanya apakah ia ingin beristirahat. Kiran mengangguk.
Sebelum menutup mata, ia berkata, "Aku senang kamu datang sebagai Rio."
Rio menahan napas. "Aku juga senang kamu masih mau melihatku."
Kiran tidak menjawab lagi. Rio tetap duduk sampai tim memintanya keluar. Ia tidak menganggap momen itu sebagai tanda bahwa keadaan akan membaik. Ia hanya menyimpan percakapan sederhana tersebut.
Di lorong, Banyu kembali dari restoran. Ia bertanya apakah Kiran bisa bicara. Rio menjawab Kiran lelah. Mereka berdiri sebentar, lalu duduk bersama. Tak seorang pun menyebut kemungkinan terburuk. Namun semuanya tahu hari itu membawa ketidakpastian yang semakin berat.
Hujan turun sebentar, lalu berhenti. Rio memandang jalan basah di luar dan menunggu. Ia tidak lagi memikirkan cara memaksa hasil. Ia hanya berharap Kiran tidak merasa sendirian, apa pun yang sedang ia rasakan.
Rio bertanya kepada Prima apakah ada hal yang dapat ia lakukan. Prima menjawab Kiran masih membutuhkan tim dan waktu; keluarga dapat membantu dengan menjaga suasana dan mengikuti arahan. Rio bertanya apakah Kiran pernah menyebut ingin ditemani. Prima berkata ia meminta orang-orang bergantian, dan mereka akan menanyakan kembali saat ia sadar.
***
Banyu tiba setelah mengurus restoran. Ia menyampaikan bahwa pegawai menjaga pekerjaan Kiran dan tidak ada yang meminta ia kembali. Rio berterima kasih. Banyu berkata Kiran tidak boleh memikirkan pekerjaan sekarang.
Bella membawa kartu-kartu dari beberapa rekan, tetapi tidak membacakannya semua. Ia bertanya apakah Kiran ingin mendengar. Kiran mengangguk saat Bella berbisik di sampingnya. Mereka menyebut nama satu per satu. Kiran tampak mengenali beberapa nama, tetapi tidak memberi jawaban.
Bella tidak memaksa. Ia mengatakan kartu-kartu itu akan disimpan untuk nanti. Kiran menutup mata dan beristirahat.
***
Rio kembali masuk saat diperbolehkan. Ia bercerita tentang sebuah menu baru yang pernah Kiran usulkan. Dapur restoran belum mencobanya karena Banyu khawatir rasanya akan terlalu manis. Rio berkata ia mungkin akan meminta Fahri mengujinya suatu hari nanti, bila mereka semua siap.
Kiran menggerakkan bibir tetapi tidak terdengar. Rio tidak meminta ia mengulang. Ia berkata, "Kamu enggak perlu bicara. Aku cuma ingin kamu tahu aku ingat."
Setelah kunjungan, Rio berjalan ke lobi bersama Renaldy. Ia melihat orang-orang datang dan pergi, memegang berkas, mengantar keluarga, dan mencari ruang perawatan. Kehidupan berjalan di luar duka mereka. Ia tidak membencinya, tetapi sulit memahami bagaimana dunia tetap bergerak.
Renaldy berkata ia boleh kembali ke ruang tunggu kapan saja. Rio mengangguk. Ia makan sedikit dan kembali duduk.
Hari itu belum memberi hasil akhir. Kiran masih dirawat. Mereka menjaga percakapan agar tidak menjadi tuntutan, dan menjaga harapan agar tidak berubah menjadi janji. Rio mencoba hadir tanpa menguasai satu pun hal yang bukan miliknya.
Banyu dan Bella menyepakati siapa yang akan mengabari rekan kerja. Mereka tidak akan menjanjikan kapan Kiran kembali. Rio berkata mereka harus membiarkannya menentukan sendiri saat sudah mampu.
***
Antoni menawarkan Rio untuk pulang sebentar. Rio menolak, lalu melihat Naya mengantuk. Ia setuju mengantar ibunya ke rumah dan kembali setelah mandi. Mereka mengatur agar Banyu tetap berada di rumah sakit.
Rio memeriksa ponsel hanya sekali selama perjalanan. Tidak ada kabar baru. Ia menarik napas dan melanjutkan perjalanan tanpa menelepon staf. Ia mulai mempercayai bahwa tim akan menghubungi mereka bila ada hal yang perlu diketahui.
Prima mengingatkan keluarga bahwa pembaruan akan disampaikan pada waktu yang telah disepakati. Rio berkata ia mengerti dan tidak akan menunggu di dekat pintu setiap saat.
***
Naya mengajak Rio makan bersama Antoni. Mereka berbicara tentang jadwal keluarga dan hal-hal sederhana. Rio sempat berhenti makan saat mendengar suara sirene di luar, tetapi Naya menunggu sampai ia kembali tenang.
***
Rio kembali ke rumah sakit setelah beristirahat. Ia menyampaikan kepada Banyu bahwa ia siap bergantian menjaga, bukan mengambil alih peran pendamping.
Naya bertanya kepada Banyu apakah Kiran ingin mendengar kabar keluarga. Banyu menyampaikan pertanyaan itu. Kiran mengangguk, lalu Naya bercerita tentang hal kecil di rumah. Ia tidak mengatakan Kiran harus pulang.
***
Kiran mendengar dan tertidur. Naya keluar setelah memastikan ia nyaman, lalu kembali ke ruang tunggu bersama yang lain.
Naya kembali ke ruang tunggu membawa selimut tipis. Ia menyuruh Rio beristirahat sebentar, bukan memerintahnya agar kuat. Rio duduk dan menutup mata, sementara pikirannya tetap kembali kepada Kiran. Naya hanya mengingatkan bahwa ada orang lain yang ikut menjaga dan Rio tidak harus berdiri sepanjang waktu. Napasnya perlahan melambat. Ia belum siap menghadapi apa pun, tetapi tubuhnya mendapat kesempatan berhenti. Banyu kemudian menyampaikan Kiran ingin mendengar cerita restoran. Rio meminta Banyu bercerita sesuai yang Kiran sukai, tanpa membuatnya harus menanggapi. Ia menunggu izin sebelum masuk.