Ditempat ini lah Mira di pertemukan dengan jodohnya, Namun keduanya masih tidak menyadari bahwa mereka berdua sudah ditakdirkan untuk berjodoh.
Sejak saat Mira berada di tempat ini hingga dia harus dipindahkan ke pusat tidak ada hal baik yang terjadi kepada mereka berdua.
Setiap kali bertemu, keduanya tidak akan pernah berhenti dari pertengkaran-pertengkaran kecil antara Mira dengan calon suaminya.
Mereka lebih cocoknya di juluki dengan Tom and Jerry saja.
Hari ini Mira sedang membersihkan halaman koperasinya, dan tepat dihalaman koperasinya didirikan sebuah posko untuk para karyawan laki-laki berjaga disana setiap malam nya.
Namun pagi-pagi ini, tempat itu begitu ramai dihuni oleh para karyawan pria yang bekerja di bagian pengangkutan buah dan pria yang membeli mi instan kemarin juga ada disana.
Salah satu dari mereka mencoba untuk akrab dengan Mira.
" hai...."
" orang baru yah..." kata pria tersebut kepada Mira.
" oh...iya...."
" masih baru kemarin kesini." kata Mira dengan ramah.
" pantasan aku baru melihat mu." kata Pria itu.
" Allah Buyung...."
" enggak usah pala kau dekat-dekati si Mira itu, enggak di ampal nya kau, karena kau laki-laki tak berduit."
" gaji mu saja tidak cukup untuk membayar utang-utang mu setiap bulanya dioperasi ini." kata Dewi seniornya Mira.
Mira hanya tersenyum mendengarkan ejekan seniornya itu.
" alllahh...."
" kalau masalah gaji nya kakak bilang itu mah kecil "
" jangankan Utang, bahkan koperasi ini pun bisa ku beli asalkan aku sudah memiliki pacar."
" itu semua tergantung keadaannya, iya Ngk??" kata Pria yang bernama Buyung itu kepada Mira.
Namun Mira hanya tersenyum saja.
" jadi seandainya si Mira mau sama mu, apa kamu mau berubah??" kata Kak Dewi
" siapa si Mira??" kata Buyung
" dia lah..." kata Kak Dewi
" oh jadi nama kamu Mira??" kata Buyung
" iya..." kata Mira
" sepertinya kamu masih baru tamat sekolah, kenapa tidak kuliah??"
" sayang loh..."
" jaman sekarang jika tidak kuliah untuk melamar pekerjaan sangat lah susah" kata Buyung.
" ingin istirahat saja dulu, biar pikiran tidak terlalu jenuh" kata Mira
" itupun temanku yang pakai baju hijau itu masih baru juga disini, dia baru kemarin datang dari kampung." kata Buyung dengan maksud menunjukkan pria yang membeli mi instan kemarin.
" oh..." kata Mira
" kampung kamu dimana??" kata Buyung
" aku orang Tebingtinggi" kata Mira
" jauh banget kamu merantau kemari, lalu siapa yang membawa mu kesini?" kata Buyung.
" di kantor pusat ada teman bapak dari kampung, dia yang membawa ku kesini." kata Mira
" disini kehidupannya sangat susah, mau ngapa-ngapain ngk bisa karena jalan untuk keluar kebun sangat lah jauh." kata Buyung.
" iya namanya juga perkebunan, yah begitulah" kata Mira
" sudahlah Yung...."
" gak usah terlalu menggombal, kalau cuman rayuan di mulutnya itu tidak ada artinya."
" uang nya sekarang yang bicara" kata salah satu para pria yang disana.
mendengar ejekan temannya, semua orang yang ada disekitar sana tertawa termasuk Buyung.
" akh...."
" gombal dulunya pak. Ass baru serius" kata Buyung.
" sudah-sudah itu mobil sudah datang, sekarang kalian berangkat lah ke lapangan untuk mengangkat buah" kata Pria paruh baya dan pria inilah yang jadi pemimpin di cabang ini dan orang-orang memanggil nya dengan sebutan pak. Ass atau yang artinya pak. Asisten.
" kamu Arifin masuk ke grup B saja, biar si Buyung saja yang di grup A." kata Pak. Ass
" iya pak," kata laki-laki itu sambil membawa sebuah catatan kecil dan sebuah pena.
Ternyata nama pria mi instan itu Arifin.