"Di bawah atap rumah ini, status pimpinanmu itu tidak berlaku," tegas Gabriela. "Di kertas itu adalah prosedur dasar yang wajib kamu ikuti jika ingin menumpang di sini."
Kenneth menunduk, membaca tulisan di kertas tersebut.
Poin 1: Dilarang membentak atau menaikkan nada suara. Poin 2: Semua tugas domestik (cuci piring dan merapikan tempat tidur) dibagi dua. Poin 3: Jam tidur maksimal pukul sepuluh malam, dan larangan keluyuran. Poin 4: Gunakan kata 'Tolong' dan 'Terima Kasih'.
"Ini lelucon konyol! Lo pikir gue anak TK?!" teriak Kenneth sambil melempar kertas itu.
"Waktu kamu lima detik," ucap Gabriela tanpa menoleh, masih mengeringkan tangan di dekat kran. "Lima ... empat ... tiga ...."
"Oke! Fine!" potong Kenneth setengah berteriak. Dia menyambar pulpen dan mencoretkan tanda tangannya dengan kasar. "Puas lo?!"
Gabriela menoleh, lalu menarik kertas itu dengan sudut bibirnya terangkat puas. "Kerja bagus, Tuan Muda Arogan. Selamat datang di kontrakan sederhana."
Kenneth masih menatap kertas HVS di atas meja dengan tatapan benci luar biasa. Tanda tangannya yang biasa membubuhkan persetujuan investasi bernilai miliaran rupiah, kini terpatri di atas empat aturan konyol buatan wanita berkaos lilac polos dan celana batik murah.
"Gua tidur di mana?" tanya Kenneth ketus. Dia mencoba meluruskan kakinya yang pegal karena terlalu lama duduk lesehan di lantai keramik.
Gabriela yang sedang membilas piring bekas makan mereka di bak cuci, menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya. Di sana tergelar sebuah kasur busa tipis yang berlapisi sarung kain katun bergambar bunga-bunga yang sudah agak memudar.
"Di situ. Itu kasur lipat bonus saya beli lemari. Masih bagus, busanya belum kempes-kempes amat,"jawab Gabriela santai.
Kenneth mendelik, menatap kasur tipis itu seolah-olah benda tersebut dilapisi racun mematikan. "Lo bercanda?! Kasur selembar begitu? Tulang belakang gue bisa geser besok pagi!"
Gabriela mematikan kran air, mengelap tangannya dengan kain lap bersih, lalu berbalik menatap Kenneth datar. "Mas Kenneth, ingat aturan nomor satu dan empat?"
Kenneth mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Giginya gemetaran menahan kekesalan yang membakar d**a. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menelan bulat-bulat harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping di hadapan Gabriela.
"Tolong ... kasih gue selimut yang layak," kata Kenneth dengan nada yang terdengar seperti ringkikan penuh paksaan.
"Nah, begitu 'kan enak didengar."
Senyuman Gabriela terkembang tipis, sampai-sampai Kenneth ingin sekali mengacak-acak tatanan rambut wanita itu. Gabriela berjalan ke lemari kayu dua pintu, mengambil selembar selimut katun tebal, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Kenneth
"Bantalnya cuma ada satu, jadi kamu pakai lipatan selimut saja buat ganjal kepala. Selamat tidur."
Tanpa menunggu balasan dari Tuan Muda Arogan yang semakin mengerutkan dahi, Gabriela melangkah menuju kamar tidurnya yang dibatasi tirai kain tipis, menguncinya dari dalam, dan mematikan lampu utama. Ruangan tengah kini hanya diterangi oleh lampu tidur kuning temaram di sudut meja.
Kenneth mengusap wajahnya dengan kasar. Udara malam semakin dingin, aroma selokan mampet dan asap sate dari luar masih tersisa tipis-tipis, menyatu dengan wangi sampo murah. Pria itu akhirnya merebahkan tubuh tinggi tegapnya di atas kasur lipat tipis. Punggungnya yang terbiasa berbaring di atas kasur king size empuk, kini langsung beradu dengan keramik dingin yang dilapisi busa tipis.
"Sialan!" geram Kenneth pada kegelapan. "Gue bakal ingat hari ini. Besok pagi, begitu sekretaris gue ketemu lokasi tempat busuk ini, gue bakal beli tanah ini dan ratakan sama tanah."
Dengan sumpah serapah yang terus berputar di kepalanya, rasa lelah luar biasa akibat berlari menembus gang-gang sempit akhirnya menumbangkan Kenneth dalam tidur yang lelap.
Suara kentongan kayu berdenting keras tiga kali, disusul suara riuh ketukan di pintu depan yang digedor tanpa ampun.
"Permisi! Selamat pagi! Mbak Gaby!"
Kenneth yang baru saja tenggelam dalam mimpi indah tersentak kaget. Matanya terbuka lebar, lehernya kaku, dan punggungnya pegal luar biasa.
"Mbak Gaby! Tolong buka pintunya dulu!" Kali ini terdengar suara seorang pria setengah baya berteriak dari luar dengan nada menuntut.
Tirai kamar tersingkap kasar. Gabriela keluar dari balik tirai dengan napas sedikit memburu. Dia mengenakan kaos coklat dan celana training berwarna pink. Raut wajahnya tidak lagi tenang seperti semalam. Ada kilat panik dan cemas yang jelas terpancar dari matanya.
Sebagai wanita lajang yang mengontrak di pemukiman padat penduduk, mendapati pintunya digedor oleh pengurus lingkungan pagi-pagi adalah mimpi buruk. Jika sampai dia dicap tidak benar atau diusir pemilik kontrakan, dia tidak tahu harus tinggal di mana lagi.
Jantung Gabriela berdegup kencang memikirkan tempat tinggalnya yang terancam. Begitu matanya menangkap sosok Kenneth yang masih berantakan di lantai dengan jas mahal kusut di kakinya, rasa panik itu berganti menjadi kejengkelan murni.
"Lipat kasurmu sekarang. Cepat masukkan ke balik lemari," bisik Gabriela setengah berdesis, suaranya sarat akan kepanikan yang ditahan. "Kalau Pak Jarwo sampai ngamuk dan ngusir saya dari sini gara-gara kamu ... kamu yang saya serahkan ke Satpol PP!"
Kenneth yang baru mengumpulkan nyawanya tertegun melihat wajah gadis di hadapannya yang mendadak tegang.
Gabriela menarik napas panjang untuk mengatur raut wajahnya agar terlihat sesopan mungkin, lalu memutar kunci pintu utama.
Di balik pintu, berdiri tiga orang lelaki. Yang paling depan adalah Pak RT, pria berkumis tebal yang mengenakan sarung dan peci. Di sampingnya berdiri Pak Jarwo, pemilik kontrakan yang bermuka masam, serta satu warga berbadan tegap.
"Selamat pagi, Pak RT, Pak Jarwo," sapa Gabriela berusaha ramah, meski jemarinya yang mencengkeram gagang pintu tampak memutih menahan tegang. "Ada apa, ya, pagi-pagi begini sudah ramai?"
"Selamat pagi, Mbak Gaby," ujar Pak RT dengan nada berat. Matanya langsung menyusup melewati bahu Gabriela, menatap Kenneth yang berdiri kikuk sambil memegang selimut. "Kami dapat laporan dari warga pos ronda semalam. Ada laki-laki asing yang masuk ke kontrakan Mbak Gaby."
"Betul itu!" timpal Pak Jarwo dengan nada tinggi. "Mbak Gaby 'kan tahu aturan di sini! Kontrakan saya ini lingkungan baik-baik. Nggak boleh bawa laki-laki menginap tanpa status yang jelas. Apalagi ini bukan saudara, bukan juga suami Mbak Gaby!"
Perkataan pak Jarwo membuat tubuh Gabriela menegang. Namun, Kenneth yang mendengar perdebatan itu justru merasakan darahnya mendidih duluan. Statusnya sebagai calon pimpinan Theodore Group tiba-tiba dipertanyakan oleh sekelompok orang di pinggir gang.
Kenneth melangkah maju dengan gusar, lupa akan perjanjian HVS semalam.
"Heh! Menjaga ketertiban apa maksud kalian?!" bentak Kenneth dengan suara menggelegar. "Gue cuma numpang semalam! Nggak usah nuduh yang
nggak-nggak!"
Mata Pak RT dan Pak Jarwo semakin membelalak. Emosi warga meluap seketika.
"Loh! Kok kamu malah ngebentak?!" seru Pak Jarwo murka. "Kamu siapa?! Datang malam-malam, penampilan kucel begitu, kelakuan nggak sopan, dan nggak ada permisi sama pengurus RT. Kamu pikir ini hotel?!"
Gabriela memejamkan mata erat-erat, menahan rasa frustrasi. Dia berbalik dan menatap Kenneth dengan pandangan membunuh. "Mas Kenneth. Mulutnya."
Kenneth yang tersadar langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Namun, emosi warga sekitar sudah terlanjur tersulut oleh sikap arogannya.
"Pak RT, ini nggak bisa dibiarkan," bisik warga berbadan tegap. "Orang ini mencurigakan. Semalam saya lihat dia lari-lari dari arah jalan raya, kaya orang dikejar utang atau jangan-jangan dia buronan polisi."
Pak RT berdeham keras, menatap Kenneth dari atas sampai bawah. "Anak muda, lingkungan RT 04 ini punya aturan ketat. Siapa pun warga baru atau tamu yang menginap lebih dari 1 kali 24 jam, wajib melaporkan identitas diri berupa KTP atau paspor ke rumah saya."
Pak RT maju satu langkah, menatap Kenneth lurus-lurus.
"Melihat sikap kamu yang tidak kooperatif dan kedatanganmu yang mencurigakan, saya tidak bisa membiarkan kamu tinggal di sini begitu saja," lanjut Pak RT memberikan keputusan. "Saya beri waktu sampai jam lima sore nanti. Kamu harus membawa KTP asli, menunjukkan surat keterangan jelas, atau memperjelas status hukum keberadaanmu di lingkungan ini kepada saya dan Pak Jarwo."
Kenneth menyipitkan mata. "Kalau gue nggak mau?"
Pak RT menyunggingkan senyuman dingin. "Kalau sampai jam lima sore kamu tidak bisa menyerahkan identitas resmi atau membuktikan kamu bukan buronan, saya bersama warga yang akan bertindak langsung. Kami akan menyerahkan kamu ke kantor polisi atas tuduhan pelanggaran ketertiban. Atau kamu harus angkat kaki dari lingkungan ini secepatnya."
Pernyataan itu menggantung di udara seperti bom waktu. Kenneth membeku di tempatnya. Tanpa dompet, tanpa ponsel, dan tanpa KTP yang tertinggal di dalam Alphard keluarganya, ultimatum itu adalah vonis mati bagi pelariannya.